Friday, June 12 2026

Eva Putriya Hasanah Beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi berbagai konten tentang cara membuat pupuk alami. Ada yang mengajarkan pembuatan kompos dari sisa makanan dapur, ada yang memperkenalkan eco enzyme, pupuk organik cair, biopori, hingga budidaya maggot untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak dan sumber nutrisi bagi tanaman. Fenomena ini menarik perhatian banyak orang,

Jika kecerdasan buatan diminta memetakan tokoh-tokoh integrasi ilmu di Indonesia, nama Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si akan muncul dengan posisi yang unik. Meski tidak seterkenal Kuntowijoyo atau Amin Abdullah dalam literatur akademik yang dijadikan buku teks, kontribusi beliau dalam ranah praktis perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) dan implementasi integrasi ilmu nyata sangat signifikan. Pandangan

Pro. Dr. Nur Syam, MSi Suatu kebanggaan bagi saya secara pribadi karena dilibatkan di dalam acara yang ekselen oleh Forum Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) di Balikpapan, dalam tajuk mencermati terhadap rumpun ilmu dakwah di dalam dinamika perkembangan keilmuan di Kementeri Agama. Diskusi rumpun ilmu agama dengan bidang ilmu dakwah tentu menarik untuk diperbincangkan

Eva Putriya Hasanah “Kalau bisa beli di warung dekat rumah, jangan jauh-jauh.” Kalimat seperti itu mungkin akrab bagi banyak orang yang tumbuh di lingkungan perkampungan atau perumahan. Dulu, ketika gula habis, minyak goreng tinggal sedikit, atau bumbu dapur perlu ditambah, ibu hampir selalu mengarahkan kita ke warung tetangga. Bukan ke pasar modern, apalagi ke pusat

Eva Putriya Hasanah  Kita hidup di zaman ketika internet hadir dalam genggaman hampir setiap anak. Melalui layar ponsel, mereka bisa belajar apa saja, berkomunikasi dengan siapa saja, dan mengakses informasi dari seluruh dunia. Namun di balik kemudahan itu, ada kenyataan yang tidak bisa diabaikan: ruang digital juga menjadi tempat berbagai risiko tumbuh dan menyasar generasi

Bangkalan, 5 Juni 2026 — Tim Riset MoRA The Air Funds melaksanakan Focus Group Discussion atau FGD di Kabupaten Bangkalan sebagai bagian dari penelitian berjudul “Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ruang Domestik dan Publik: Gender, Pendidikan, Kepemimpinan, Tradisi Bekerja, Digitalisasi dan Perubahan Sosial di Tengah Kontestasi Otoritas Keagamaan di Pesisir Pulau Madura dan Tapal Kuda

Sampang, 6 Juni 2026 — Tim Riset MoRA The Air Funds menggelar Focus Group Discussion atau FGD di Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, untuk mendalami identitas perempuan Madura pesisir dalam ruang domestik dan publik. Kegiatan ini merupakan bagian dari riset berjudul “Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ruang Domestik dan Publik: Gender, Pendidikan, Kepemimpinan, Tradisi Bekerja,

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh. إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ “Innal hamda lillah nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu wa naudzu billahi min

Jika berpikir masa depan ilmu Dakwah dan Komunikasi akan  cenderung pesimis dan mempertanyakan nasibnya di masa depan. Masa depan Ilmu dakwah dan komunikasi cenderung untuk menggambarkan masa depan yang kurang cerah dan kurang bergairah. Masa depan ilmu dakwah dan komunikasi menggambarkan berpikir yang negatif dan kurang produktif.  Jika berpikir Ilmu dakwah dan komunikasi masa depan

Hal yang harus diinjeksikan kepada semua pelaku pendidikan adalah masa depan. Bukan masa depan PTKIS berbasis pesantren.Tetapi PTKIS berbasis pesantren masa depan. Masa depan PTKIS berbasis pesantren itu mempertanyakan bagaimana masa depannya: baik atau jelek. Maju atau mundur.PTKIS berbasis pesantren masa depan berarti memprediksi bahwa PTKIS harus baik, berkualitas dan maju. Keduanya sama mempertanyakan masa

Artikel berjudul “The Effects of Deradicalization Standardized Policy in Advancing Human Security” merupakan karya Ina Purnaningati Saputro, Sri Endah Wahyuningsih, Josua Natal Andus Muara Tampubolon, Muhammad Zulfan Tanjung, dan Clarizze Yvoine Mirielle. Penelitian tersebut terbit di Journal of Human Rights, Culture and Legal System tahun 2026. Secara umum, artikel ini membahas hubungan antara kebijakan deradikalisasi

Di kalangan PTKI pertanyaan mau kemana atau mau dikemanakan Studi Islam merupakan pertanyaan yang sering didengar. Jika mau kemana terkait dengan bagaimana peran PTKI, Pimpinan dan dosennya untuk masa yang akan datang. Jika mau dikemanakan terkait dengan kebijakan yang diproduksi oleh para pejabat yang mengelola studi Islam, terutama di jajaran Pimpinan Kemenag Pusat, khususnya Ditjen

1 2 3 202