(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Buah Takwa: Dunia-Akhirat

Daras Akhlak

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Taisir al-Khalaq yang sedang kita kaji bersama. Untuk al-Syekh Hafidz Hasan al-Mas‘udiy, al-Fatihah.

  

Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, al-Syekh Hafidz telah menjelaskan hal-hal seputar takwa, mulai dari pengertian, keutamaan, faktor-faktor pendorong, hingga contoh-contoh konkret amal saleh. Kini, di bagian akhir bab atau fasal tentang takwa, beliau menjelaskan buahnya, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau menuliskan:

  

Adapun buahnya (takwa), maka kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Adapun di dunia, maka keluhuran derajat, keindahan reputasi/nama baik dan sebutan, dan memperoleh kasih sayang dari manusia, karena sesungguhnya orang yang bertakwa itu dimuliakan oleh anak-anak kecil (junior), dihormati oleh “orang-orang besar” dan dipandang/dinilai oleh setiap yang berakal bahwa ia adalah lebih utama untuk melakukan kebaikan.

  

Adapun di akhirat, maka keselamatan dari api neraka dan kebahagiaan/keberuntungan masuk surga. Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang bertakwa, bahwa Allah berfirman mengenai mereka, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsin (orang-orang yang selalu berbuat yang lebih baik).”

  

Selanjutnya, mari kita bahas satu persatu buah takwa itu.

  

Buah Takwa di Dunia

  

Sebagaimana terlihat di atas, buah takwa pertama yang disebutkan oleh al-Syekah Hafidz adalah keluhuran derajat (irtifa‘ al-qadr). Tentu keluhuran derajat di sini maknanya bisa bermacam-macam. Namun, bila memperhatikan konteks kalimat yang sedang membicarakan tentang buah takwa di dunia, maka setidaknya irtifa‘ al-qadr di sini bisa kita pahami sebagai “kehormatan di masyarakat”. Di sisi lain, untuk memperoleh kehormatan itu, tentunya membutuhkan proses yang tidak sebentar. Contoh real-nya yang bisa kita temukan di dalam Al-Qur’an adalah Nabi Yusuf AS.

  

Sudah maklum kita ketahui, bahwa sebelum mendapat kehormatan menjadi khaza’in al-ardh (bendaharawan negara), berbagai cobaan dan ujian beliau alami. Mulai dari dikucilkan, bahkan dibuang di sumur oleh saudara-saudaranya sendiri, dijual dengan harga murah untuk dijadikan sebagai budak, digoda oleh Imra’at al-‘Aziz dan perempuan-perempuan bangsawan, hingga dimasukkan ke dalam penjara selama puluhan tahun karena tuduhan telah melakukan kesalahan. Kelak, ketika beliau telah diangkat oleh sang raja menjadi bendaharawan negara, sebuah jabatan yang sangat prestisius itu, Allah SWT berfirman, “Dan demikianlah Kami menganugerahkan kedudukan kepada Yusuf di bumi (Mesir); dia (berkuasa dan bebas) menempati (dan mengunjungi) daerah mana saja di negeri itu yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang muhsin (orang-orang yang selalu berbuat yang lebih baik. Dan ganjaran (di) akhirat pasti lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (Surah Yusuf [12]: 56-57)


Baca Juga : Pemicu Disharmonisasi Antar Umat Beragama

  

Bahkan, tatkala saudara-saudara Nabi Yusuf AS mengkonfirmasikan (karena tidak percaya bahwa beliau masih hidup, apalagi mendapat kedudukan yang begitu tinggi), “Apakah engkau benar-benar Yusuf?”, beliau menjawab, “Akulah Yusuf, dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang muhsin (orang-orang yang selalu berbuat yang lebih baik).” (surah Yusuf [12]: 90) Demikian kurang lebih irtifa‘ al-qadr yang diperoleh Nabi Yusuf AS di dunia, sebagai salah satu buah dari ketakwaannya.

  

Selanjutnya, buah takwa yang kedua adalah keindahan reputasi/nama baik dan sebutan (jamal al-shit wa al-dzikr). Sekurang-kurangnya, hal ini bisa kita lihat dari para ulama yang telah meninggal dunia. Tidak perlu jauh-jauh, cukup para sunan, habaib, kyai dan tuang guru yang ada di Nusantara. Kita saksikan sendiri bagaimana jasad mereka telah dikebumikan sejak lama, namun nama harum mereka tetap terjaga. Kisah hidup mereka pun menjadi mata air teladan yang tak pernah kering. Bahkan, bukankah ribuan lembar kertas telah (dan akan) mengabadikan jejak hidup mereka, mulai dari yang fiksi hingga non-fiksi, ilmiah hingga non-ilmiah, dan prosa hingga syair? Tentu sejalan dengan semua itu, pahala yang mereka peroleh terus mengalir. 

  

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita patut meneladani doanya Nabi Ibrahim AS ketika masih hidup yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, “Dan jadikanlah bagi aku, buah tutur yang baik di tengah orang-orang (yang datang) kemudian.” Karena doa beliau tersebut sebagaimana dijelaskan oleh al-Biqa’i yang dikutip oleh Pak Quraish berarti sebuah permohonan akan adanya kenangan yang baik, penerimaan yang memuaskan, serta pujian kepada beliau akibat amal-amal dan sifat-sifat baik yang beliau tampilkan. Bahwa dengan membacanya, kita mengharap keberkahan doa seorang nabi yang terkenal dengan sebutan Khalil Allah (Kekasih Allah) itu. Allaahumma aamiin.

  

Selanjutnya, buah takwa yang ketiga, yang dijelaskan oleh al-Syekh Hafidz, adalah memperoleh kasih sayang dari manusia, dengan berbagai strata usia dan sosialnya. Bahwa orang yang bertakwa akan dimuliakan oleh yang muda, dihormati oleh yang tua dan dipandang oleh setiap yang berakal sebagai orang yang patut untuk melakukan kebajikan. Redaksi “yang muda” (al-ashaghir) di sini, bisa berarti mereka yang lebih muda dari segi usia, keilmuan, jabatan ataupun strata sosial, demikian pula redaksi “yang tua” (al-akabir) setidaknya menurut pemahaman penulis. Pada intinya, semua orang menaruh rasa kasih sayang kepadanya. Bila terjadi perselisihan, mereka memandang orang yang bertakwa itulah yang paling berhak memutuskan jalan keluar.

  

Tentu hal ini tidak mengherankan, mengingat “bekas” (atsar) dari ketakwaan batin seseorang akan nampak pada wilayah lahirnya. Sehingga, ada semacam “pancaran magnet” yang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya cenderung akan menaruh rasa kasih sayang kepadanya. Berkenaan dengan hal ini, Sayyidi al-Syekh Ibnu ‘Atha’illah al-Sakandariy berkata, “Apa yang tersimpan dalam hati yang tersembunyi, nampak pada penyaksian lahir.” (ma istauda‘a fi ghayb al-sara’ir zhahara fi syahadat al-zhawahir) “Karena lahir adalah cermin dari batin,” demikian salah satu komentar al-Syekh al-Randiy dan al-Syekh al-Syarqawiy.

  

Buah Takwa di Akhirat

  

Sebagaimana penjelasan al-Syekh Hafidz di atas, bahwa (setidaknya) ada dua buah takwa di akhirat, yakni selamat dari siksa api neraka dan beruntung dengan masuk surga (al-najah min al-nar wa al-fauz bi dukhul al-jannah). Tentu apa yang disampaikan oleh beliau itu bersumber dari dalil-dalil yang jelas. Dalam Surah al-Thur [52]: 17-18 misalnya, Allah SWT dengan tegas berfirman, “Sesungguhnya orang-orang bertakwa (berada) dalam surga-surga dan kenikmatan, (dalam keadaan) bersuka-ria dengan apa yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan Pemelihara mereka, dan Tuhan Pemelihara mereka memelihara mereka dari azab neraka.” 

  


Baca Juga : Habib Rizieq Shihab Dalam Percaturan Politik Perlawanan

Yang menarik adalah pernyataan al-Syekh Hafidz selanjutnya, “Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang bertakwa, bahwa Allah berfirman mengenai mereka, ‘Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsin (orang-orang yang selalu berbuat yang lebih baik).’” Artinya, dari sekian buah takwa yang telah beliau sebutkan sebelumnya, cukuplah surah al-Hijr [16]: 128 ini sebagai bukti kemuliaan orang-orang yang bertakwa. 

  

Fokus pembahasannya adalah kata “bersama” yang terdapat dalam kalimat, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” Bahwa “membersamai” (ma‘iyyah) di sini, banyak sekali wujudnya, mulai dari pemeliharaan (al-wilayah), penganugerahan taufik, keutamaan/kelebihan, hingga penjagaan (al-hifzh), sebagaimana dijelaskan oleh al-Syekh Muhammad al-Amin al-Harariy di dalam tafsirnya. Bahkan tidak hanya itu, ma‘iyyah di sini juga bisa berarti pertolongan (al-nushrah) dan “kebersamaan yang khusus” (al-ma‘iyyah al-khashshah), sebagaimana penjelasan al-Mulla ‘Ali al-Qariy dengan mengutip pendapat al-Ustadz al-Qusyairiy. Jika sudah demikian, maka bukti mana lagi yang diperlukan untuk menjelaskan kemuliaan orang-orang yang bertakwa? Tidakkah cukup satu ayat beredaksi ringkas itu mengandung sekian banyak kemuliaan?

  

Namun demikian, patut diakui bahwa selain yang telah disebutkan oleh al-Syekh Hafidz di atas, masih banyak lagi buah-buah atau kemuliaan-kemuliaan yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa. al-Syekh al-‘Arusiy misalnya, menyebutkan tidak kurang dari dua puluh kemuliaan yang didapatkan oleh mereka beberapa di antaranya telah disebutkan oleh al-Syekh Hafidz. Seperti memperoleh pengajaran ilmu secara langsung dari Allah, kecintaan Allah, al-Furqan (cahaya yang ditancapkan ke dalam hati, sehingga bisa membedakan mana yang haq dan yang batil), “bersanding” di sisi Allah, kemudahan perkara dunia dan akhirat, dan dihapuskan dosa-dosa serta diluhurkan pahalanya. Tetapi lagi-lagi jika kita hitung satu persatu, maka, “Waktu akan habis, dan kemuliaan itu belum juga terhitung tuntas,” demikian ungkapan al-Sayyid Muhammad bin Zein bin Smith ketika menjelaskan penafsiran makhraja yang terdapat dalam surah al-Thalaq [65]: 2, tentang janji Allah untuk orang yang bertakwa.

  

Pada akhirnya, doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini patut kita amalkan bersama:

  

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu petunjuk, takwa, kesehatan dan kekayaan.” (HR Muslim)

  

Allahumma aamin wa shalla Allah ‘ala sayyidina Muhammad al-mushthafa.

  

Daftar Rujukan

  

Hafidz Hasan al-Mas‘udiy, Taisir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq (4-5)


Baca Juga : Anak Nakal yang Berhati Mulia

  

M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 236-242, 246, 281, 371, 524.

  

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an (Tangerang: Lentera Hati, 2017), Vol. 9, 265.

  

Ibnu ‘Ibad al-Nafaziy al-Randiy, Syarh al-Hikam (t.tp.: al-Haramain, t.t.), Vol. 1, 26.

  

Muhammad al-Amin bin ‘Abdillah al-Uramiy al-‘Alawiy al-Harariy al-Syafi‘iy, Tafsir Hada’iq al-Ruh wa al-Raihan fi Rawabiy ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar Thauq al-Najah, 2001), Vol. 15, 426.

  

al-Mulla ‘Ali al-Qariy, Tafsir al-Mulla ‘Ali al-Qariy al-Musamma Anwar al-Qur’an wa Asrar al-Furqan (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2013), Vol. 3, 117.

  

Mushthafa al-‘Arusiy, Hasyiyah al-‘Allamah Mushthafa al-‘Arusiy al-Musammah Nata’ij al-Afkar al-Qudsiyyah fi Bayan Ma‘ani Syarh al-Risalah al-Qusyairiyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007), Vol. 2, 229-230.

  

al-Habib Zein bin Ibrahim bin Smith Ba‘alawiy al-Husainiy, al-Manhaj al-Sawiy: Syarh Ushul Thariqat al-Sadah Ali Ba‘alawiy (Hadhramaut: Dar al-‘Ilm wa al-Da‘wah, Amman: Dar al-Fath li al-Dirasat wa al-Nasyr, 2005), 448.

  

Abi Zakariyya Muhyiddin Yahya al-Nawawiy, Riyadh al-Shalihin min Kalam Sayyid al-Mursalin (Surabaya: Dar al-‘Ilm, t.t.), 51.