(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Memahami Rukun Islam (2)

Daras Fikih

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis Kitab Safinah al-Naja yang sedang kita kaji bersama. Untuk al-Syekh Salim bin Sumair al-Hadhrami, al-Fatihah.

  

Pada kesempatan sebelumnya, kita telah membahas dua poin penting yang harus dipahami sebelum menelaah lebih jauh makna tiap-tiap Rukun Islam. Dua poin itu tidak lain adalah landasan normatif Rukun Islam dan makna “Islam” itu sendiri. Di sana misalnya, telah dijelaskan bahwa pembatasan jumlah Rukun Islam yang lima itu bersumber dari hadis Nabi SAW yang masyhur disebut sebagai “Hadis Jibril”. Namun meskipun demikian, dalil bagi masing-masing rukun tersebut dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an. Telah dijelaskan pula bahwa makna “Islam” secara garis besar adalah tunduk atau patuh pada hukum-hukum syariat.

  

Nah pada kesempatan kali ini, mari kita membahas lebih lanjut makna masing-masing Rukun Islam itu, setidaknya dari dua sisi, yakni makna dan sejarah pensyariatannya.

  

Makna Syahadatain

  

Sebagaimana yang telah kita ketahui, istilah syahadatain berasal dari bahasa Arab yang berarti dua (kalimat) syahadat. Syahadat pertama berbunyi, “Asyhadu an la’iha illa Allah,” sedang syahadat kedua berbunyi, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Berhubung keduanya tidak bisa dipisahkan, maka pada prakteknya ditambahkan konjungsi “dan” antara syahada pertama dengan yang kedua, sehingga berbunyi, “Asyhadu an la’iha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah)

  

Al-Syekh Nawawi al-Jawi dalam Kasyifah al-Saja-nya menjelaskan bahwa makna syahadat pertama adalah, “Meyakini bahwa tiada tuhan yang berhak disembah (lagi) wujud kecuali Allah. Dia adalah Dzat yang memiliki segala sifat kesempurnaan yang tiada batas. Tidak ada yang mengetahui-Nya (secara hakikat) kecuali Dirinya sendiri. Dia Maha Suci dari segala kekurangan, Maha Esa dalam kepemilikan dan pemeliharaan (alam semesta beserta isinya), dan Maha Esa dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya.”

  

Sedangkan syahadat kedua, lanjut al-Syekh Nawawi al-Jawi, berarti, “(Meyakini) bahwa sesungguhnya Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf adalah utusan Allah.” Bahkan tidak hanya itu, al-Syekh Ibrahim al-Bajuri, sebagaimana dikutip oleh al-Syekh Nawawi al-Jawi, menambahkan bahwa sebagian ulama mengatakan, “Di antara kesempurnaan iman adalah seseorang meyakini bahwa tidak ada seorang pun yang di dalam dirinya terkumpul segala bentuk kebaikan, baik lahir maupun batin, sebagaimana yang terkumpul dalam diri Sayyidina Muhammad shalla Allah ‘alaih wa sallam.”

  

Dua syahadat yang merupakan rukun pertama ini adalah ibarat pondasi dasar bila dinisbahkan pada rukun-rukun setelahnya, sebagaimana yang telah disinggung pada kesempatan sebelumnya. Untuk itu, tidak heran bila kita temukan sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi (seluruh) manusia hingga mereka bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)


Baca Juga : Menciptakan Nilai Rahmatan Lil 'Alamin dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia

  

Selanjutnya, Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy menjelaskan bahwa dalam prakteknya, pengucapan dua kalimat syahadat ini tidak mensyaratkan penggunaan bahasa Arab dan al-muwalah (berkesinambungan). Maksud dari yang disebutkan terakhir ini adalah seseorang yang hendak masuk Islam tidak harus mengucapkan dua kalimat ini secara beruntun sekaligus. Misalnya, di pagi hari ia mengucapkan syahadat pertama, kemudian di siang harinya baru mengucapkan syahadat kedua. Maka dalam konteks ini menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy keislamannya dianggap sah. Namun, pendapat beliau itu tidak disyaratkannya al-muwalah dikomentari oleh al-Syekh al-Mudabighiy dengan pernyataan, “(Ini adalah pendapat yang) lemah, sebagaimana engkau ketahui. (dha‘if kama ‘alimta)” Oleh karena itu, sebagai bentuk kehati-hatian, komentar al-Syekh al-Mudabighiy ini patut kita “pertimbangkan”.

  

Sebagai penutup, sebelum berlanjut pada rukun kedua, ada pembahasan cukup menarik yang perlu penulis ketengahkan, yakni seputar kerasulan Nabi Muhammad SAW. Kepada siapakah beliau diutus sebagai rasul? Kepada jin dan manusia saja, atau juga malaikat, atau bahkan seluruh makhluk di alam semesta? Nah terkait hal ini, al-Syekh al-Nawawi al-Jawi menjelaskan bahwa pendapat para ulama berbeda-beda. Namun tentu untuk yang pertama diutusnya beliau kepada golongan jin dan manusia tidak masuk wilayah perbedaan pendapat ini, karena itu telah menjadi kesepakatan mereka berdasarkan dalil-dalil yang pasti, baik dari al-Qur’an maupun hadis.

  

Persoalan selanjutnya adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW kepada para malaikat. al-Halimi dan al-Baihaqi secara tegas menyatakan bahwa beliau tidak diutus kepada mereka. Namun al-Suyuthi dan al-Subki berpendapat sebaliknya. Bahkan, ulama yang namanya disebut terakhir ini, menambahkan bahwa beliau shalla Allah ‘alaih wa sallam juga diutus kepada seluruh nabi dan umat-umat terdahulu. Salah satu buktinya adalah hadis Nabi sendiri yang berbunyi, “Aku diutus kepada manusia, seluruhnya.” Bahwa menurutnya al-Subki “manusia” pada hadis ini mencakup seluruh generasinya, mulai dari Nabi Adam hingga hari kiamat kelak.

  

Pendapat al-Subki ini didukung oleh al-Barizi. Bahkan beliau juga menambahkan, “Bahwa sesungguhnya beliau (Nabi Muhammad SAW) diutus (pula) kepada seluruh hewan dan ‘benda mati’ seperti pasir dan lumpur/tanah liat. Tidak hanya itu, beliau juga diutus untuk dirinya sendiri.” Kemudian, al-Syekh al-Nawawi al-Jawi yang mengulas perbedaan ini, menutup uraiannya dengan mengutip sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku diutus untuk makhluk, seluruhnya. (Bu‘itstu ila al-khalq kaffah)”

  

Rukun Kedua: Makna dan Sejarah Pensyariatannya

  

Sebelum membahas lebih jauh, terlebih dahulu kita patut mengingat kembali redaksi yang digunakan oleh al-Syekh Sumair ketika menjelaskan Rukun Islam khususnya rukun kedua. Di sana kita dapati beliau menggunakan redaksi iqam al-shalah, yang kemudian penulis terjemahkan dengan “mendirikan salat”. Tentu redaksi yang beliau pilih itu mengacu pada dalil-dalil normatif, baik al-Qur’an maupun hadis. Beberapa di antaranya bisa dilihat kembali dalam uraian “Memahami Rukun Islam (1)” pada kesempatan sebelumnya. Nah, yang ingin penulis dudukkan di sini adalah maka iqam itu sendiri yang tidak lain merupakan bentuk mashdar (gerund) dari fi‘il madhi-mudhari‘ yang berbunyi, “Aqama-yuqimu.”

  

Menurut Ibnu Hajar al-Haitamiy, kata kerja itu mengandung setidaknya 3 kemungkinan makna. Pertama, al-taqwim wa al-ta‘dil (menegakkan dan meluruskan). Kedua, al-mulazamah wa al-istimrar (menetapi dan terus-menerus). Terakhir, al-tasymir wa al-nuhudh (bergegas/bersegera dan bangkit). Oleh karenanya, beliau memaknai rukun kedua itu sebagai, “Melaksanakan salat dengan menjaga rukun-rukun dan syarat-syaratnya; atau (menjaga) penyempurna-penyempurnanya (mukammilatiha); atau melanggengkannya (yudawim ‘alaiha).” 

  


Baca Juga : Mengkaji Pesantren Radikal

Tentu ketiga kemungkinan makna tersebut bisa kita gabungkan sekaligus. Bahwa dalam pemenuhan rukun kedua ini, sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk tidak sebatas melaksanakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya saja, tapi juga menjaga penyempurnanya, seperti kesunahan-kesunahan dan adab-adabnya. Bahkan patut pula menjaga kelanggengannya, yakni terus-menerus mendirikannya pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

  

Sedangkan secara historis, perintah salat baru diwajibkan pada saat Nabi Muhammad SAW melakukan al-isra’ wa al-mi‘raj. Bahwa pada saat itu beliau mendapat perintah untuk melakukan 50 salat dalam sehari semalam yang kemudian diperingan menjadi 5 salat seperti yang kita kenal sekarang (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib & Isya’). 

  

Namun, terkait tata cara salat di awal pensyariatannya itu, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa pada mulanya jumlah rakaatnya dua rakaat-dua rakaat, lalu berangsur-angsur disempurnakan menjadi empat rakaat. Pendapat ini berpedoman pada sebuah hadis dari Umm al-Mu’minin ‘A’isyah RA yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hadis itu berbunyi, “Pertama kali diwajibkannya salat itu (berjumlah) dua rakaat-dua rakaat. Lalu (jumlah itu) ditetapkan untuk salat safar (bepergian), dan ditambahkan (jumlah rakaatnya) dalam salat hadhir (tidak sedang bepergian).” Namun ada juga yang mengatakan bahwa memang sejak semula jumlah rakaatnya empat, kecuali maghrib (tiga rakaat) dan subuh (dua rakaat). Dengan kata lain, sejak semula jumlah rakaatnya persis seperti yang kita kenal sekarang.

  

Referensi

  

Mushthafa Dib al-Bugha & Muhyiddin al-Mastu, al-Wafi fi Syarh al-Arba‘in al-Nawawiyyah (Damaskus: Dar al-Mushthafa, 2010), 21.

  

Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar al-Haitamiy al-Syafi‘iy, al-Fath al-Mubin bi Syarh al-Arba‘in (Beirut: Dar al-Minhaj, 2008), 147.

  

Muhammad Nawawi b. ‘Umar al-Jawi al-Bantaniy al-Tanariy al-Syafi‘iy, Kasyifah al-Saja: Syarh Safinah al-Naja (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2011), 36-37.

  

Ahmad bin Hajar al-Haitamiy, al-Fath al-Mubin li Syarh al-Arba‘in wa bi Hamisyih Hasyiyah al-‘Allamah al-Syekh Hasan bin ‘Ali al-Mudabighiy (Mesir: al-Mathba‘ah al-‘Amirah al-Syarafiyyah, 1320 H), 56.

  

Muhammad al-Zuhailiy, al-Mu‘tamad fi al-Fiqh al-Syafi‘iy (Damaskus: Dar al-Qalam, 2011), vol. 1, 151.

  

Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Ba‘athiyyah al-Du‘aniy, Ghayah al-Muna: Syarh Safinah al-Naja (Tarim: Maktabah Tarim al-Haditsah, 2008), 53.