(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Beberapa Faedah Terkait Asbab al-Nuzul (Bagian Ketiga)

Daras Tafsir

Banyak Ayat, Satu Sebab

  

Selain persoalan “satu ayat-banyak sebab” yang telah kita bahas pada kesempatan yang lalu, para ulama juga membahas persoalan sebaliknya. Yakni adanya satu sebab yang melatarbelakangi turunnya beberapa ayat. Contoh yang sering dikemukakan oleh para ulama terkait hal ini ialah “pengaduan” Ummu Salamah kepada Nabi SAW.

  

Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan al-Hakim dari Ummu Salamah, bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebut sedikitpun perempuan-perempuan perihal (keikutsertaan mereka) dalam hijrah.” Maka Allah menurunkan, “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan (surah Ali ‘Imran [3]: 195).’”

  

al-Hakim juga meriwayatkan keterangan lain dari Ummu Salamah, bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, para lelaki (selalu) disebut-disebut sementara para wanita tidak pernah disebut.” Maka turunlah ayat, “Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat (surah al-Ahzab [33]: 35)”, dan turun (pula) ayat, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan (surah Ali ‘Imran [3]: 195).” Dengan kata lain, keluhan Ummu Salamah RA itu melatarbelakangi turunnya dua ayat sekaligus.

  

Imam al-Suyuthi memberi contoh lain dengan menukilkan sebuah riwayat dari Zaid b. Tsabit. Rasulullah SAW mendektekan kepadanya (ayat), “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya (surah al-Nisa’ [4]: 95).” Lalu tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum—beliau termasuk Sahabat Nabi yang buta—datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya aku mampu berjihad, niscaya aku (ikut) berjihad.” Maka Allah menurunkan (penggalan ayat), “Tanpa mempunyai uzur.” (HR al-Bukhari)

  

Di samping itu, Ibn Abi Hatim juga meriwayatkan sebuah hadis dari Zaid b. Tsabit. Zaid berkata, “Dulu aku bertugas menuliskan untuk Rasulullah SAW (wahyu yang turun kepada beliau). Sungguh (waktu itu) aku meletakkan penaku di telingaku, tiba-tiba (wahyu turun, yang isinya) diperintahkan untuk berperang. Lalu datanglah seorang lelaki buta seraya berkata, ‘Bagaimana denganku wahai Rasulullah, sementara aku buta?’ Maka diturunkanlah (ayat), ‘Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) bagi orang-orang yang lemah, sakit dan tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan, jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya (surah al-Taubah [9]: 91).’” Dari sini dapat dipahami bahwa pengaduan Sahabat Ibn Ummi Maktum itu melatarbelakangi turunnya dua ayat sekaligus, sama seperti Sahabat Ummu Salamah sebelumnya.

  

Ayat yang Turun “Melalui” Lisan Sahabat

  

Berpagi-pagi perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan “melalui” di sini ialah kesesuaian perkataan sebagian Sahabat dengan ayat Al-Qur’an yang diturunkan kemudian. Sekurang-kurangnya, dapat diilustrasikan dengan, “Sahabat A—entah dalam konteks yang bagaimana—mengatakan sesuatu. Tiba-tiba Allah SWT menurunkan ayat yang redaksinya sama persis atau—katakanlah—mirip dengan perkataan Sahabat tersebut.” Nah sebenarnya materi pokok yang membuat persoalan ini dijadikan bab tersendiri adalah kesesuaian-kesesuaian ‘Umar RA. Beliau seringkali membicarakan suatu persoalan, lalu tiba-tiba ayat Al-Qur’an turun mengafirmasi apa yang ia ucapkan. Itu bagian dari manaqib beliau yang masyhur. Bahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, Rasulullah SAW telah bersabda, “Sungguh, Allah menjadikan kebenaran (al-haq) pada lisan ‘Umar dan hatinya.”

Baca Juga : Pilkada 2020, Kampanye Efektif Tanpa Bahaya Covid-19

  

Ada tiga contoh kesesuaian ‘Umar tersebut, sesuai dengan keterangan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari—dan selainnya—dari Anas b. Malik. Bahwa ‘Umar berkata, “Aku ngepasi Tuhan Pemeliharaku dalam 3 hal. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya kita menjadikan sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.’ Maka turunlah (ayat), ‘Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri-istrimu (rumah mereka) dimasuki oleh orang baik dan orang buruk/fasik (al-fajir). Seandainya (alangkah baiknya) engkau menyuruh mereka untuk berhijab.’ Maka turunlah ayat hijab. Dan (suatu hari) istri-istri Rasulullah SAW berkumpul di hadapan beliau perihal kecemburuan (yang terjadi di antara mereka). Akupun berkata kepada mereka, ‘Jika dia (Nabi) menceraikanmu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu.’ Maka turunlah ayat yang demikian (persis/mirip).”

  

Tegasnya, perkataan-perkataan ‘Umar itu bersesuaian dengan turunnya surah al-Baqarah [2]: 125, al-Ahzab [33]: 59 dan al-Tahrim [66]: 5. Tetapi nampaknya apa yang disampaikan oleh beliau itu bukanlah bentuk pembatasan—bahwa hanya 3 ayat itulah yang sesuai dengan perkataannya. Hal ini mengingat masih banyak riwayat lain yang merekam kesesuaian ‘Umar, selain yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di atas. al-Qustullani yang memberi penjelasan atas hadis di atas misalnya, menyebut tidak kurang dari 15 kesesuaian ‘Umar. Bahkan Imam al-Suyuthi menghimpun muwafaqat ‘Umar tersebut dalam sebuah karya khusus yang ia beri judul Qathf al-Tsamar fi Muwafaqat ‘Umar.

  

Ayat Al-Qur’an yang Turun Berulang-ulang

  

Sekelompok ulama dari kalangan mutaqaddimin dan muta’akhkhirin menyebut bahwa di dalam Al-Qur’an ada ayat yang diturunkan berulang-ulang. Ada banyak hikmah di balik pengulangan itu, seperti sebagai pengingat dan nasihat (al-tadzkir wa al-maw‘izhah); adanya konteks yang menghendaki demikian (wujud al-muqtadha); dan menampakkan keistimewaan/keutamaan tambahan pada ayat yang diturunkan (izhar fadhl za’id li al-mutanazzil). Lebih lanjut, sebagian dari mereka menjelaskan bahwa di antara ayat/surah yang termasuk dalam kategori ini ialah ayat ruh (surah al-Isra’ [17]: 85), surah al-Fatihah, surah Hud [11]: 114 dan surah al-Ikhlash.

  

Di sisi lain, boleh jadi turunnya beberapa ayat atau surah Al-Qur’an yang berulang-ulang itu karena adanya perbedaan qira’ah, sehingga di kali ini ia diturunkan dengan qira’ah ini, sementara di kali lain ia diturunkan dengan qira’ah lain. Tidak mustahil bila surah al-Fatihah termasuk dalam kategori yang disebut terakhir ini; di waktu A ayat keempat surah tersebut diturunkan dengan bunyi, “Maaliki yaum al-din (mim-nya panjang),” sementara di waktu B ia diturunkan dengan bunyi, “Maliki yaum al-din (mim-nya pendek).”

  

Tetapi, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Suyuthi, patut diakui bahwa tidak semua ulama mengamini adanya ayat atau surah Al-Qur’an yang turun secara berulang. Di antara keberatan mereka adalah (1) pengulangan itu tidak ada faedahnya, karena pengulangan berarti “memberikan sesuatu yang telah diperoleh sebelumnya”; dan (2) pengulangan meniscayakan semua surah dan ayat yang diturunkan pada periode Makkah, diturunkan kembali pada periode Madinah, karena setiap tahun, Jibril mengevaluasi ayat-ayat yang telah diturunkan kepada Nabi SAW. Namun tetap saja, keberatan-keberatan itu telah dijawab oleh kelompok pertama. Keberatan pertama misalnya, dijawab dengan faedah-faedah yang telah disebutkan di atas. Sementara keberatan kedua, dijawab dengan “meniadakan keniscayaan”; bahwa evaluasi yang dilakukan oleh Jibril setiap tahun—yang di tahun terakhir terjadi evaluasi dua kali—itu tidak mesti berdampak pada turunnya semua ayat Al-Qur’an secara berulang.

  

Wa Allah A‘lam bi al-Shawab, wa Shalla Allah ‘ala Sayyidina Muhammad al-Musthafa

  

Baca Juga : Slametan Sebagai Tradisi Lokal, Kehormatan dan Simbol Komunikasi

Catatan

  

Yang dimaksud dengan evaluasi pada sub-bab terakhir di atas ialah Jibril AS berhadap-hadapan dengan Nabi SAW. Nabi membaca ayat-ayat yang telah diturunkan kepada beliau, dan Jibril menyimaknya.

  

Sumber Rujukan:

Abi ‘Abd Allah Muhammad b. Isma‘il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar Ibn Katsir, 2002), 1129-1130.

  

Badr al-Din Muhammad b. ‘Abd Allah al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Dar al-Hadits, 2006), 32-33.

  

Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2008), 81, 84-85.

  

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (T.tp.: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), 25, 102, 126, 276, 608, 827.

  

Al-Kirmani, Shahih Abi ‘Abd Allah al-Bukhari bi Syarh al-Kirmani (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1981), Vol. 17, 11.

  

Muhammad Afifudin Dimyathi, Mawarid al-Bayan fi ‘Ulum al-Qur’an (Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016), 34.

  

Al-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Madinah: Mathabi‘ al-Rasyid, t.t.), 23-25.

  

Syihab al-Din Abi al-‘Abbas Ahmad b. Muhammad al-Syafi‘i al-Qustullani, Irsyad al-Sari li Syarh Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), Vol. 10, 22-23.