(Sumber : www.republika.co.id)

Maqashid al-Suwar: al-Fatihah (Bagian Kedua)

Daras Tafsir

Tema Surah

  

Pembicaraan tentang hal ini tidak bisa dilepaskan dari “rahasia” yang tersirat dari namanya, Umm al-Qur’an/Umm al-Kitab, dan penegasan Nabi SAW akan keutamaannya, sebagaimana disinggung pada artikel sebelumnya. Sebagai Rasul yang ma yanthiqu ‘an al-hawa in huwa illa wahy yuha, tentu bukanlah kebetulan Nabi menamainya dengan Umm al-Qur’an atau Umm al-Kitab. Ada sejuta pesan tersirat di sana. Belum lagi beberapa sahabat yang secara langsung memperoleh wejangan dari Nabi SAW terkait fadilatnya, tak syak semakin memperkokoh keistimewaannya.

  

Kelak pada gilirannya, para sahabat mewariskan wejangan, pesan dan ilmu yang telah diamanatkan oleh Nabi itu kepada murid-murid mereka, generasi tabi‘in. Hal ini terlihat jelas dalam riwayat-riwayat seputar keutamaan surah al-Fatihah yang dapat dengan mudah kita temukan baik dalam kitab-kitab tafsir maupun kitab-kitab ber-genre Fadha’il al-Qur’an. Wejangan al-Sya‘bi kepada seorang lelaki yang mengeluhkan penyakit yang dideritanya sehingga tercetuslah nama al-Asas, yang disinggung pada artikel sebelumnya, adalah salah satu contohnya. Contoh lain, seorang tabi‘in masyuhr dari Bashrah, al-Hasan al-Bashri diriwayatkan pernah berkata, “Sesungguhnya Allah telah meletakkan/menyimpan ilmu-ilmu (yang tertuang dalam) kitab-kitab samawi terdahulu dalam Al-Qur’an. Kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu (yang terkandung dalam) Al-Qur’an dalam al-Fatihah. Maka barang siapa mengetahui tafsirnya, niscaya ia seperti orang yang mengetahui penafsiran/penjelasan seluruh kitab-kitab samawi yang telah diturunkan (jami‘ al-kutub al-munazzalah).”

  

Pada konteks ini, para mufasir berusaha menyelami samudera al-Fatihah, menemukan mutiara-mutiaranya, lalu merangkaikannya sedemikian rupa agar keindahannya dapat dengan mudah disaksikan oleh siapapun yang memiliki panca indera. Meski orientasi mereka sama, tetapi tentu saja hasil rangkaian mutiara mereka sedikit-banyak berbeda, karena di samping wawasan keilmuan mereka bertingkat-tingkat, cabang ilmu yang mereka gemari dan kuasai juga berbeda-beda. Ada yang menekuni bidang fikih sehingga rangkaian mutiaranya bercorak khas fikih; ada yang kalam, akhlak tasawuf, dakwah, demikian seterusnya. Dan pada konteks ini pula fokus bahasan kita kali ini—tema surah al-Fatihah—menemukan relevansinya. Karena dengan menelaah bahasan ini, paling tidak kita dapat memperoleh pemahaman terkait gambaran umum, tema pokok, atau sketsa kekayaan kandungan surah al-Fatihah—semoga.

  

Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H)

  

Menurut al-Ghazali tema utama Al-Qur’an itu ada enam, tiga di antaranya esensial, sementara tiga yang lain komplementer; dan semuanya terkandung dalam surah al-Fatihah. Tiga tema esensial yang dimaksud adalah memperkenalkan al-mad‘u ilayh (baca: Tuhan semesta alam), memperkenalkan al-sirath al-mustaqim dan memperkenalkan keadaan makhluk saat kembali kepada-Nya. Sedangkan tiga tema komplementer ialah memperkenalkan keadaan orang-orang yang taat, memperkenalkan keadaan orang-orang yang ingkar, dan memperkenalkan tingkatan jalan penghambaan (manazil al-tariq).

  

Tema esensial pertama, terkandung dalam permulaan surah al-Fatihah. Tema esensial kedua, secara gamblang dijelaskan di sana. Sementara tema esensial terakhir, terkandung dalam ayat ke-4, “Pemilik hari pembalasan (malik yaum al-din).” Selanjutnya, tema komplementer pertama, terkandung dalam frasa, “Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat (alladzina an‘amta ‘alayhim).” Tema komplementer kedua, terkandung dalam frasa, “Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat (al-maghdub ‘alayhim wa al-dhallin).” Lalu tema komplementer terakhir, terkandung dalam ayat ke-5, “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan (iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in).”

  

Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H)


Baca Juga : Mengenal Tujuh Imam Qira'at

  

Dalam magnum opus-nya, Mafatih al-Ghayb, al-Razi menjelaskan bahwa tujuan atau tema utama Al-Qur’an terdefinisikan dalam empat hal: ilahiyat, ma‘ad, nubuwwat dan menetapkan qada dan qadar hanya kepada Allah SWT semata. Tema pertama terkandung dalam ayat ke-2, “al-Ahamd li Allah rabb al-‘alamin,” tema kedua terkandung dalam ayat ke-4, “Malik yaum al-din,” tema keempat terkandung dalam ayat ke-5, “Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in,” dan tema ketiga terkandung dalam ayat ke-6, “Ihdina al-shirath al-mustaqim.” Dengan demikian, kandungan surah al-Fatihah telah mencakup keempat tema utama Al-Qur’an sekaligus.

  

al-Baydhawi (w. 685 H)

  

Menurut mufasir yang menulis Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil ini, surah al-Fatihah mengandung tiga tema penting, yakni hikmah-hikmah teoritis, hukum-hukum aplikatif yang tidak lain merupakan suluk al-shirath al-mustaqim, dan menelaah/memahami tingkatan-tingkatan al-Su‘ada’ (orang-orang yang berbahagia) dan tempat-tempat berpulangnya al-Asyqiya’ (orang-orang yang merana).

  

Meski al-Baydhawi tidak secara eksplisit dan spesifik menjelaskan bagian-bagian surah al-Fatihah yang mana yang mengandung tiga tema tersebut, tetapi melalui syarah atas tafsirnya yang ditulis oleh Syeikh Zadah, kita bisa memperoleh gambarannya. Tema pertama terkandung dalam ayat pertama sampai keempat, tema kedua dalam ayat kelima dan keenam, sedangkan tema ketiga dalam ayat ketujuh.

  

al-Thayyibi (w. 743 H)

  

Salah seorang ulama yang menulis komentar atas Tafsir al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari ini menjelaskan bahwa surah al-Fatihah itu mengandung empat macam ilmu yang notabene merupakan poros agama. Pertama, Ilmu al-Ushul. Tema utamanya berkisar pada tiga hal, masing-masing diisyaratkan oleh sebuah frasa dalam surah al-Fatihah: (1) memahami Allah dan sifat-sifat-Nya, diisyaratkan oleh, “Li Allah rabb al-‘alamin al-rahman al-rahim,”; (2) memahami al-nubuwwat, diisyaratkan oleh, “An‘amta ‘alayhim,”; dan (3) memahami al-ma‘ad, diisyaratkan oleh, “Malik yaum al-din.”

  

Kedua, Ilmu al-Furu‘ yang pondasinya tidak lain adalah ibadah. Hal ini diisyaratkan oleh frasa, “Iyyaka na‘budu.” Ketiga, ilmu yang menjadi lantaran tercapainya kesempurnaan, yakni Ilmu Akhlak. Tujuan ilmu ini ialah wushul kepada Allah, kembali kepada-Nya, dan menempuh sekaligus istikamah menetapi jalan-Nya. Ilmu ini diisyaratkan oleh, “Iyyaka nasta‘in ihdina al-shirath al-mustaqim.” Keempat, ilmu kisah dan berita umat-umat terdahulu, baik yang berbahagia maupun yang merana, sekaligus janji dan ancaman terkait mereka. Ilmu inilah yang dimaksud oleh firman-Nya, “An‘amta ‘alayhim ghayr al-maghdhub ‘alayhim wa la al-dhallin.”

  


Baca Juga : Qurban dan Pandemi: Sebuah Nilai untuk Dekatkan Diri Pada Ilahi

‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah (w. 1425 H/2004 M)

  

Dalam Tafsirnya yang menggunakan sistematika nuzuli, Ma‘arij al-Tafakkur wa Daqa’iq al-Tadabbur, Habannakah menguraikan empat tema global yang terkandung dalam surah al-Fatihah. Pertama, dasar-dasar keimanan yang wajib diimani oleh manusia. Hal ini terkandung, baik secara eksplisit maupun implisit, dalam ayat kedua sampai keempat. Kedua, perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Ini terkandung, baik secara eksplisit maupun implisit pula, dalam ayat kelima. Ketiga, agama yang telah dipilih oleh Allah SWT sebagai al-shirath al-mustaqim yang mestinya ditempuh oleh siapapun yang menghendaki kebahagiaan dan keberuntungan kelak di Hari Kemudian. Tema ini terkandung, baik secara eksplisit maupun implisit, dalam ayat keenam. Keempat, sejarah manusia di pentas kehidupan dunia, sejak generasi pertama hingga terjadinya kiamat. Hal ini terkandung, baik secara eksplisit maupun implisit, dalam ayat terkahir (ketujuh).

  

Habannakah juga menegaskan bahwa penjelasan rinci terkait keempat tema di atas dapat ditemukan dalam surah-surah yang lain. Penjelasan rinci itupun beragam, ada yang bersifat al-istidalali, al-jadali, al-tarbawi al-‘aqli, al-tarbawi al-nafsi dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, metode yang ditempuh Al-Qur’an saat memerincinya pun bervariasi. Ada kalanya menggunakan gaya bahasa al-targhib wa al-tarhib, ada kalanya menyampaikan perumpamaan, dan lain-lain. Walhasil, adalah wajar bila surah al-Fatihah disebut sebagai Umm al-Qur’an.

  

‘Abd al-Hamid Mahmud Tahmaz (w. 1431 H/2010 M)

  

Bila menelaah penafsirannya atas surah al-Fatihah dalam karyanya yang berjudul al-Tafsir al-Mawdhu‘i li Suwar al-Qur’an, “nampaknya” menurut Mahmud Tahmaz tema utama surah ini adalah pujian dan doa (al-tsana’ wa al-du‘a’). Pemilihan tema ini merujuk pada hadis qudsi panjang yang menerangkan “dialog” antara Allah SWT dengan seorang hamba saat membaca surah al-Fatihah.

  

Penulis sengaja menggunakan istilah “nampaknya”, karena di samping sering kali menyinggung hadis qudsi itu dalam penafsiran-penafsirannya, Mahmud Tahmaz sendiri memberi judul uraian tafsirnya dengan, “Tafsir Surah al-Fatihah: Pujian dan Doa dalam Surah al-Fatihah.” Tetapi pada bagian pengantar Tafsir Surah al-Fatihah, ia juga menulis berikut ini:

  

Jika tema surah al-Baqarah adalah pasrah kepada Allah SWT dan patuh kepada hukum-hukum syariat-Nya dan ketetapan-Nya, maka surah al-Fatihah adalah pemberitahuan atas kepasrahan ini dan tanda atas kepatuhan ini. Tidak heran Allah SWT mengutus seorang malaikat khusus kepada Nabi SAW untuk memberi kabar gembira kepadanya dengan al-Fatihah dan penutup surah al-Baqarah. (Lalu Mahmud Tahmaz mengutip riwayat yang dimaksud)

  

M. Quraish Shihab


Baca Juga : Mbah Ri, Sosok Dukun dari Pati

  

Dengan mengutip al-Biqa‘i, Habib Quraish Shihab menjelaskan bahwa tema utama surah al-Fatihah dapat ditelisik dari nama-nama yang ia sandang, karena “nama setiap surah menjelaskan tujuan serta tema utama surah itu”. Kandungan nama-nama surah al-Fatihah sendiri, mulai dari Umm al-Kitab (induk Al-Qur’an), al-Asas (asas segala sesuatu), al-Matsani (yang diulang-ulang), al-Kanz (perbendaharaan), al-Syafiyah (penyembuh), al-Kafiyah (yang mencukupi), al-Waqiyah (yang melindungi), al-Ruqyah (mantra), al-Hamd (pujian), al-Syukr (syukur), al-Du‘a hingga al-Shalah (doa), berkisar pada sesuatu yang tersembunyi yang dapat mencukupi segala kebutuhan, yakni pengawasan melekat.

  

Beliau menuliskan:

  

Kalau tema utama surah al-Fatihah dan tujuan utamanya adalah melahirkan kesadaran akan pengawasan Ilahi, sangat wajar jika Basmalah yang disusul dengan sifat-sifat/nama-nama Allah merupakan pesan utamanya yang pertama, kemudian disusul dengan pesan utama kedua, yaitu permohonan yang sekaligus menjadi “penghubung antara makhluk dan khaliq”: na‘budu wa iyyaka nasta‘in.

  

Sumber Rujukan

  

‘Abd al-Hamid Mahmud Tahmaz, al-Tafsir al-Mawdu‘i li Suwar al-Qur’an al-‘Azhim, Vol. 1 (Damaskus: Dar al-Qalam, 2014), 23-36.

  

‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah al-Maydani, Ma‘arij al-Tafakkur wa Daqa’iq al-Tadabbur, Vol. 1 (Damaskus: Dar al-Qalam, 2000), 285-287.

  

Abu Hamid al-Ghazali al-Thusi, Jawahir al-Qur’an (Beirut: Dar Ihya’ al-‘Ulum, 1990), 23-24.

  

Jalal al-Din al-Suyuthi, Qathf al-Azhar fi Kasyf al-Asrar (Doha: Dar Qathar, 1994), 101-104.

  

Muhammad Mushlih al-Din Mushthafa al-Qujawi al-Hanawi, Hasyiyah Muhy al-Din Syaikh Zadah ‘ala Tafsir al-Qadhi al-Baydhawi, Vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1999), 25.

  

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 1 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), 3-11.