(Sumber : tfaseal.com)

Maqashid al-Suwar: Ali 'Imran (Bagian Kedua)

Daras Tafsir

Munasabah

  

Dua hal yang akan kita bahas dalam artikel kali ini. Pertama, munasabah ekstratekstual, yakni keterkaitan surah Ali ‘Imran dengan surah sebelumnya, al-Baqarah. Kedua, munasabah intertekstual, yakni keterkaitan antara permulaan dengan bagian akhir surah Ali ‘Imran.

  

Munasabah Ekstratekstual

  

Ibn al-Zubayr (w. 708 H) menjelaskan tiga aspek keterkaitan surah Ali ‘Imran dengan al-Baqarah. Pertama, berbagai hal yang terkandung dalam surah al-Baqarah, “ditampakkan” secara lebih gamblang dan ringkas pada permulaan Ali ‘Imran. Kedua, pada permulaan Ali ‘Imran pula terdapat isyarat bahwa al-Shirath al-Mustaqim itu telah dijelaskan kepada umat-umat terdahulu dalam kitab-kitab suci mereka. Ketiga, ibrah atas kisah ‘Isa AS dan asal mula penciptaannya tanpa ayah, bersesuaian dengan kisah Adam AS. Oleh karenanya, pada surah Ali ‘Imran, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan (yang menakjubkan bagi manusia dari penciptaan) ‘Isa (yang lahir tanpa ayah) di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia (Allah SWT) menciptakannya dari tanah, kemudian berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka, jadilah dia. (Ali ‘Imran [3]: 59)” Di samping itu, setelah kisah Adam, al-Baqarah menguraikan Bani Isra’il karena mereka mengetahui betul kisah itu, berbeda dengan orang-orang Arab—secara umum—yang belum mengenalnya. Pun demikian, di sini Ali ‘Imran menyebut al-Hawariyyun dan orang-orang Nasrani pasca menguraikan kisah ‘Isa AS.

  

Tiga aspek keterkaitan surah Ali ‘Imran dan al-Baqarah di atas, dijelaskan lebih lanjut oleh Ibn al-Zubayr. Tetapi dalam artikel ringkas ini, penulis menyederhanakannya dalam tiga poin. Pertama, ayat ketiga surah Ali ‘Imran yang berbunyi, “Dia telah menurunkan kepadamu (Nabi Muhammad SAW) al-Kitab (Al-Qur’an),” adalah penjelasan lanjutan atas permulaan surah al-Baqarah, “Itulah al-Kitab (Al-Qur’an), tiada keraguan sedikit pun di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”

  

Kedua, pada surah al-Baqarah telah dijelaskan bahwa umat manusia terpecah-belah menjadi tiga golongan, yakni mukmin, kafir dan munafik. Telah dijelaskan pula pembangkangan demi pembangkangan yang dilakukan oleh Bani Isra’il. Nah di sini, dalam surah Ali ‘Imran, Allah SWT memberi kabar bahwa Dia telah menurunkan Taurat dan Injil kepada mereka. Masing-masing adalah petunjuk bagi siapa pun yang diberi pertolongan oleh-Nya. Lebih lanjut, di sini Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah, tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. (ayat ke-5)” Redaksi firman ini benar-benar gamblang. Keterkaitannya dengan berbagai pembangkangan Bani Isra’il—juga umat-umat lain yang diuraikan dalam al-Baqarah—pun demikian jelas. Bila lebih dieksplisitkan, firman ini seakan-akan hendak mengatakan, “Apakah berbagai dosa dan kemaksiatan hamba-hamba itu samar bagi-Nya, padahal Dialah yang menciptakan rupa mereka di dalam rahim dan Dia pula yang mengetahui betul keadaan mereka saat keadaan mereka tidak diketahui oleh siapa pun selain-Nya?\"

  

Ketiga, pada surah Ali ‘Imran, Allah SWT mengabarkan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur’an—demikian pula kitab-kitab suci samawi sebelumnya—terdapat ayat-ayat muhkam dan mutasyabih. Sikap orang-orang yang diberi taufik oleh-Nya adalah me-muhkam-kan yang muhkam, sedangkan sikap orang-orang yang sesat (ahl al-zaygh) ialah mengikuti dan bergantung erat dengan yang mutasyabih. (lihat ayat ke-7 surah Ali ‘Imran) Nah, bila dilihat secara saksama, maka dapat dipahami bahwa sejatinya uraian tentang muhkam-mutasyabih berikut serta sikap ahl al-taufiq dan ahl al-zaygh ini merupakan penjelasan lanjutan atas firman-Nya yang terdapat dalam surah al-Baqarah ayat ke-26. Berikut petikan maknanya:

  

Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan (berupa) kutu atau yang melebihinya (kecil atau besar). Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui (dengan pasti) bahwasannya (perumpamaan itu) adalah hak (kebenaran yang sempurna) dari Tuhan Pemelihara mereka, tetapi orang-orang yang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan ini sebagai satu perumpamaan?” Dengannya (perumpamaan itu) banyak (orang) yang disesatkan-Nya (karena tidak mau mengerti) dan dengannya (pula) banyak (orang) yang diberi-Nya petunjuk (berdasarkan kemauan dan kecenderungan masing-masing). Dan tidak ada yang disesatkan-Nya (dengan perumpamaan itu) kecuali orang-orang fasik (keluar dari ketaatan kepada Allah SWT).

Baca Juga : Jaga Negeri, Narkoba di Sekeliling Kita

  

Selain Ibn al-Zubayr, mufasir modern berkebangsaan Mesir, Musthafa al-Maraghi (w. 1952 M), juga menguraikan keterkaitan surah Ali ‘Imran dengan al-Baqarah. Uraiannya pun sedikit-banyak berbeda dengan yang diuraikan oleh Ibn al-Zubayr di atas. Menurutnya, ada lima benang merah yang terjalin antara surah Ali ‘Imran dengan al-Baqarah.

  

Pertama, kedua surah itu sama-sama dibuka dengan menyebut al-Kitab (baca: Al-Qur’an) dan ragam sikap manusia terhadap petunjuk-petunjuk yang dikandungnya. Bila dalam al-Baqarah disebut tiga ragam sikap (iman, kafir & munafik), maka dalam Ali ‘Imran disebut dua ragam sikap, yakni (1) mengikuti dengan sungguh-sungguh ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan kerancuan berpikir serta keraguan di kalangan orang-orang beriman), sebagaimana ditampilkan oleh orang-orang yang hatinya cenderung kepada kesesatan; dan (2) mengimani ayat-ayat Al-Qur’an baik yang muhkam maupun yang mutasyabih, seraya mengatakan, “Semua dari sisi Tuhan Pemelihara kami,” sebagaimana ditampilkan oleh orang-orang beriman.

  

Kedua, dalam surah al-Baqarah disebutkan penciptaan Adam, sedangkan dalam surah Ali ‘Imran disebutkan penciptaan ‘Isa. Keduanya merupakan hal yang serupa, karena sama-sama terciptakan dalam konteks “sesuatu yang baru” atau “tidak pernah terjadi sebelumnya”.

  

Ketiga, baik dalam al-Baqarah maupun Ali ‘Imran, terdapat bantahan-bantahan terhadap Ahli Kitab. Bedanya, dalam al-Baqarah, bantahan-bantahannya banyak ditujukan kepada orang-orang Yahudi, hanya sedikit atau ringkas yang ditujukan kepada orang-orang Nasrani; sementara dalam Ali ‘Imran, sebaliknya. Hal ini dikarenakan keberadaan orang-orang Yahudi itu lebih dahulu daripada keberadaan orang-orang Nasrani. Maka sudah seyogyanya percakapan dengan mereka dilakukan secara berurutan, mendahulukan yang awal.

  

Keempat, di bagian akhir masing-masing surah terdapat doa, hanya saja goal-nya berbeda. al-Baqarah mengarahkan doanya pada pertolongan Allah SWT atas para penentang dakwah dan kuasa-Nya untuk menghilangkan taklif di luar batas kemampuan manusia. Sedangkan Ali ‘Imran mengarahkan doanya pada diterimanya dakwah Islam sekaligus pahala atas kebajikan kelak di akhirat.

  

Kelima, bagian akhir Ali ‘Imran berkaitan atau bersesuaian dengan bagian awal al-Baqarah, seakan-akan yang disebut pertama menyempurnakan yang disebut belakangan. Wujud konkretnya, bila al-Baqarah dimulai dengan memantapkan kebahagiaan bagi orang-orang yang bertakwa, “Mereka itulah orang-orang yang beruntung (ayat ke-5),” maka Ali ‘Imran diakhiri dengan firman-Nya, “Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (ayat ke-200)”

  

Munasabah Intratekstual

  

Baca Juga : UINSA: Panen Profesor

Bagi al-Suyuthi (w. 911 H), keterkaitan intratekstual surah Ali ‘Imran terlihat dari bagian awal dan bagian akhirnya. Bila surah ini dibuka dengan menyebut penurunan Al-Qur’an, dan dua kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya, yakni Taurat dan Injil, maka surah ini mengakhiri uraiannya dengan, “Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab benar-benar ada yang beriman kepada Allah kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan apa yang diturunkan mereka. (ayat ke-199)” Demikian pula surah ini dibuka dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji, (ayat ke-9)” dan diakhiri dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (ayat ke-194)”

  

Penjelasan al-Suyuthi ini dipertegas lebih lanjut oleh ‘Abd Allah al-Ghumari. Menurutnya, bagian awal dan bagian akhir surah Ali ‘Imran itu sama-sama memuat doa orang-orang mukmin dan penegasan atas rendahnya kedudukan orang-orang kafir sekaligus penjelasan tentang kesudahan mereka. Perhatikan bagian awal surah Ali ‘Imran berikut ini:

  

Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling, sesudah Engkau anugerahkan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau, (dan hanya) Engkau-lah Yang Maha Pemberi (anugerah).

  

Tuhan Pemelihara kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia (untuk menerima balasan) pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. 

  

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekali-kali tidak akan berguna bagi mereka harta mereka, tidak (juga) anak-anak mereka, terhadap (azab) Allah sedikit pun. Dan mereka itu adalah bahan bakar (api) neraka.

  

(Keadaan mereka) seperti kebiasaan kaum Fir‘aun dan orang-orang yang sebelum mereka; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah telah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras pembalasan-(Nya).

  

Katakanlah (Nabi Muhammad SAW) kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan dan akan digiring ke (neraka) Jahannam. Dan itulah (tempat) yang seburuk-buruknya. (ayat ke-8-12)

  

Bandingkan dengan bagian akhir surah Ali ‘Imran, berikut ini:

Baca Juga : Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui Industri Rumahan

  

Tuhan Pemelihara kami, sesungguhnya kami mendengar penyeru yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan Pemelihara kamu,” maka kami (pun) beriman. Tuhan Pemelihara kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan tutuplah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang sangat luas dan banyak kebajikan.

  

Tuhan Pemelihara kami, dan anugerahilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui para rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada Hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (ayat ke-193-194)

  

Janganlah sekali-kali engkau terperdaya oleh kebebasan orang-orang yang kafir bergerak di negeri-negeri. (Itu) hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah (neraka) Jahannam; dan (Jahannam itu) adalah seburuk-buruk tempat tinggal. (ayat ke-196-197)

  

Sumber Rujukan

  

Abi al-Fadhl ‘Abd Allah Muhammad al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani, Jawahir al-Bayan fi Tanasub Suwar al-Qur’an (Kairo: Mathba‘ah ‘Athif wa Sayyid Thaha wa Syuraka’ihima, t.t.), 27-28.

  

Ahmad b. Ibrahim b. al-Zubayr al-Tsaqafi, al-Burhan fi Tanasub Suwar al-Qur’an (Dammam: Dar Ibn al-Jawzi, 1428 H), 89-91.

  

M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 2, 50, 57, 75-76.

  

Jalal al-Din al-Suyuthi, Marashid al-Mathali‘ fi Tanasub al-Maqathi‘ wa al-Mathali‘ (Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj, 1426 H), 48.

  

Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Vol. 3 (Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Syurakha’uh, 1946), 86-87.

  

Fadhil Shalih al-Samara’i, al-Tanasub bayna al-Suwar fi al-Muftatah wa al-Khawatim (Beirut: Dar Ibn Katsir, 2016), 13-14.