(Sumber : www.aqraa.net)

Maqashid al-Suwar: Ali 'Imran (Bagian Pertama)

Daras Tafsir

Status Surah

Semua ulama mengonfirmasi bahwa surah ini berstatus madaniyah. Ia diturunkan setelah surah al-Anfal—al-Zarkasyi menyebut surah yang disebut belakangan ini turun pasca surah al-Baqarah—dan sebelum al-Ahzab. Selain terlihat dari narasi-narasi yang disajikannya seperti kritik atas kesalahan dan penyelewengan Ahli Kitab, penjelasan atas sejumlah hukum syariat Islam (ibadah haji, jihad, keharaman riba & balasan bagi para pembangkang zakat), dan nasihat-nasihat penting pasca terjadinya Perang Badar dan Perang Uhud, potret ke-madaniyah-an surah ini sejak awal nampak jelas dari beberapa riwayat yang menceritakan bagaimana surah ini diturunkan, sebagaimana terbaca pada uraian tentang sabab al-nuzul nanti.

  

Sabab al-Nuzul

  

al-Wahidi (w. 468 H), mufasir terkemuka yang berasal dari Naisabur itu, dalam karyanya yang monumental, Asbab Nuzul al-Qur’an, menarasikan penjelasan para mufasir terkait permulaan turunnya surah Ali ‘Imran. Berawal dari kedatangan delegasi Najran (sebuah lembah di perbatasan Yaman dan Arab Saudi) yang berjumlah 60 orang kepada Rasulullah SAW, pada tahun IX H. al-Wahidi mencatat bahwa dari 60 orang itu, 14 di antaranya merupakan tokoh-tokoh terkemuka di kalangan mereka. Lebih lanjut, dari 14 tokoh terkemuka itu, tiga di antaranya adalah tokoh-tokoh yang membawa peranan penting. Tokoh pertama bernama ‘Abd al-Masih, sang kepala suku (shahib al-qaum) sekaligus penentu kebijakan. Tokoh kedua bernama al-Ayham, bertugas sebagai ketua rombongan. Sedangkan tokoh ketiga bernama Abu Haritsah b. ‘Alqamah, sang pendeta. Dialah yang bertugas mengajarkan kitab-kitab suci agama Nasrani kepada mereka. Pengetahuan keagamaannya dikenal secara luas di kalangan mereka, bahkan konon raja-raja Romawi turut menghormati dan memuliakannya dengan mendirikan gereja-geraja khusus untuk dirinya.

  

Tujuan utama delegasi Najran itu ialah mendiskusikan dengan Nabi SAW di masjid Madinah menyangkut Isa AS dalam kaitannya dengan keesaan Tuhan. Diskusi pun berlangsung lama. Sebagian percakapannya dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  

“Berislamlah,” sabda Nabi SAW kepada al-Ayham dan ‘Abd al-Masih.

  

Keduanya menjawab, “Sungguh kami telah berislam sebelum engkau.”

  

“Bohong. Klaim kalian bahwa Allah memiliki putra, peribadatan kalian kepada salib, dan babi yang kalian makan itu telah menghalangi kalian masuk Islam.”


Baca Juga : Disertasi Pertama UIN Sunan Ampel Menggunakan Mixed Methods

  

“Jika Isa bukanlah putra Allah, lantas siapa ayahnya?”

  

Seluruh rombongan Najran itu pun mendebat Nabi SAW menyangkut status Isa AS. Singkat kata, Nabi bersabda, “Bukankah kalian mengetahui bahwa tidak ada satu pun anak kecuali mirip dengan ayahnya?”

  

“Iya, kami tahu.”

  

“Bukankah kalian mengetahui bahwa Tuhan kita Maha Hidup, tidak akan mati, dan bahwa Isa terhinggapi oleh kematian dan kebinasaan?”

  

“Iya, kami tahu.”

  

“Bukankah kalian mengetahui bahwa Tuhan kita Maha Memelihara segala sesuatu, Dialah yang senantiasa menjaga dan memberinya rezeki?”

  

“Iya benar, kami tahu.”

  


Baca Juga : Dampak PPKM Bagi Masyarakat Ekonomi Lemah

“Lantas apakah Isa memiliki sedikit saja dari kekuasaan Allah itu?”

  

“Tidak.”

  

“Maka, sungguh Tuhan kita telah menciptakan dan membentuk rupa Isa di dalam rahim sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Tuhan kita tidaklah makan, minum dan berhadas.”

  

“Iya, benar.”

  

“Bukankah kalian mengetahui bahwa ‘Isa dikandung oleh ibunya sebagaimana umumnya ibu-ibu mengandung anaknya, kemudian sang ibu melahirkannya sebagaimana umumnya ibu melahirkan bayinya, lalu ia diberi makan sebagaimana umumnya anak kecil diberi makan, kemudian ia pun makan, minum dan berhadas?”

  

“Iya benar, kami tahu.”

  

“Lantas bagaimana (makhluk seperti) ini (berstatus sebagai putra Allah) seperti klaim kalian?”

  

Sampai di sini, mereka pun terdiam seribu bahasa. Lalu berkenaan dengan peristiwa ini, Allah SWT menurunkan permulaan surah Ali ‘Imran, mulai dari ayat pertama hingga 80 sekian.


Baca Juga : Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia (Bagian Dua)

  

Walhasil, sebagaimana ditulis oleh M. Quraish Shihab dalam tafsirnya, al-Mishbah, meskipun telah berlangsung beberapa hari, tetapi diskusi tidak mencapai kata sepakat sehingga akhirnya Nabi SAW mengajak mereka ber-mubahalah.

  

Nama Surah

  

Disebut sebagai surah Ali ‘Imran karena di dalamnya terdapat uraian tentang kisah keluarga ‘Imran, ayah Maryam, ibu ‘Isa AS. Uraiannya pun beragam dan beruntutan, mulai dari nazar yang diazamkan oleh istri ‘Imran saat mengandung bayinya bahwa kelak ia akan “mewakafkan” anaknya untuk berkhidmat secara penuh di Bait al-Maqdis, hingga berbagai keistimewaan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada si anak yang tidak lain adalah Maryam, seperti rezeki “tak terduga” yang ia peroleh selama berada di dalam mihrab, terpilihnya ia menjadi wanita terbaik nan termulia di masanya, dan kabar gembira bahwa meskipun tidak pernah “disentuh” oleh seorang pun dari kalangan kaum Adam, ia bisa melahirkan seorang putra bernama ‘Isa yang—sebagaimana sang ibu—juga dianugerahi berbagai keistimewaan.

  

Selain Ali ‘Imran, surah ini juga disebut sebagai surah al-Zahra’ (terang benderang). Hal ini merujuk pada hadis Nabi SAW yang telah disinggung pada uraian yang lalu saat membahas nama-nama surah al-Baqarah, “Bacalah dua al-Zahra’: al-Baqarah dan Ali ‘Imran.” Wahbah al-Zuhayli menyebut tiga kemungkinan dua surah ini disebut demikian. Pertama, karena cahaya-cahaya yang terkandung dalam dua surah ini menerangi sekaligus menunjukkan kepada pembacanya perkara yang haq. Kedua, karena para pembacanya akan memperoleh cahaya yang sempurna kelak di Hari Kiamat. Ketiga, karena keduanya sama-sama mengandung ism Allah al-a‘zham. Yang disebut terakhir ini, merujuk pada hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibn Majah, dari Asma’ bint Zayd. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ism Allah al-a‘zham itu terdapat dalam dua ayat ini: ‘Tuhan kamu (adalah) Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Pemberi Kasih Yang Maha Pengasih (al-Baqarah [2]: 163),’ dan (ayat) yang terdapat dalam Ali ‘Imran, ‘Allah, tidak ada tuhan (yang kuasa dan berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.’”

  

Fadilah Surah

  

Merujuk pada penjelasan al-Sayyid ‘Abd Allah al-Ghumari, diketahui bahwa hadis-hadis Nabi SAW terkait fadilah surah Ali ‘Imran, dapat dikategorikan dalam dua kelompok. Pertama, hadis-hadis yang menyebut fadilah surah Ali ‘Imran bersama al-Baqarah sekaligus. Termasuk dalam kelompok ini adalah hadis yang telah disinggung di atas. Redaksi lengkap hadis tersebut kurang lebih berbunyi demikian:

  

Bacalah Al-Qur’an karena sungguh (kelak) ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para pembacanya. Bacalah dua al-Zahra’ (dua surah yang terang benderang): al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena sungguh keduanya akan datang pada Hari Kiamat bagaikan dua awan, dua penaung atau dua segerombolan burung bersaf-saf seraya menyampaikan hujah yang akan meringankan (beban) para pembacanya. Bacalah surah al-Baqarah, karena sungguh meraihnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah kerugian dan orang-orang yang rugi nan malas tidak akan dapat meraihnya. (HR Muslim)

  


Baca Juga : Intoleransi dan Radikalisme di Era Indonesia Modern (Bagian Satu)

Selain hadis di atas, ada pula hadis berikut ini:

  

Pada Hari Kiamat, Al-Qur’an dan orang-orang yang mengamalkannya didatangkan. Yang mula-mula datang ialah surah al-Baqarah dan Ali ‘Imran. (HR Muslim dan al-Tirmidzi)

  

Sedangkan kelompok kedua adalah hadis-hadis yang secara khusus menyebut fadilah bagian akhir surah Ali ‘Imran. Bagian akhir yang dimaksud ialah ayat ke-190 sampai akhir surah Ali ‘Imran. Salah satu hadis yang termasuk dalam kelompok ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Sahih-nya dari ‘Ubaid b. ‘Umair.

  

‘Ubaid berkata kepada ‘Aisyah RA, “Kabarkanlah kepadaku sesuatu yang paling menakjubkan engkau lihat dari Rasulullah SAW.”

  

Sang Umm al-Mu’minin terdiam sejenak, lalu berkata, “Suatu malam, Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai ‘Aisyah, biarkanlah diriku beribadah kepada Tuhanku malam ini.’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, sungguh aku senang dekat dengan engkau dan aku menyenangi apapun yang bisa membahagiakan engkau.’ Maka Rasulullah bergegas bersuci, kemudian salat. Ketika berdiri, beliau tidak henti-hentinya menangis. Ketika duduk, beliau SAW juga tidak henti-hentinya menangis, sampai-sampai jenggotnya basah oleh derai air mata. Kemudian beliau terus-menerus menangis, hingga tanah pun basah oleh air matanya. Lalu Bilal datang meminta izin kepada Rasulullah untuk mengumandangkan azan, waktu salat telah tiba. Saat Bilal melihat Rasulullah sedang menangis, Bilal berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau menangis padahal sungguh Allah telah mengampuni kesalahanmu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.’ Rasulullah menjawab, ‘Tidakkah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur? Sungguh malam ini telah diturunkan kepadaku suatu ayat, celakalah orang yang membacanya dan tidak merenungkan kandungannya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti(nya) malam dan siang, benar-benar terdapat tanda-tanda (kemahakuasaan Allah SAW) bagi Ulul Albab (orang-orang yang berakal bersih, murni dan cerah) [ayat ke-190 hingga akhir surah Ali ‘Imran].’”

  

Daftar Rujukan

  

‘Abd Allah b. Muhammad b. al-Shiddiq al-Ghumari, Fadha’il al-Qur’an (Beirut: ‘Alam al-Kutub, 2006), 41-43.

  

Abi al-Hasan ‘Ali b. Ahmad b. Muhammad b. ‘Ali al-Wahidi, Asbab Nuzul al-Qur’an (Riyadh: Dar al-Miman, 2005), 217-218.

  

Badr al-Din Muhammad b. ‘Abd Allah al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Dar al-Hadits, 2006), 136.

  

M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 24, 50.

  

______, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 1 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), 3-4.

  

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari‘ah wa al-Manhaj, Vol. 2 (Damaskus: Dar al-Fikr, 2009), 152-154.