(Sumber : www.almrsal.com)

Maqashid al-Suwar: Surah al-Nisa' (Bagian Kedua)

Daras Tafsir

Munasabah Surah

  

Keterkaitan surah al-Nisa’ dengan surah sebelumnya, Ali ‘Imran, terlihat setidaknya dari dua aspek:

  

Pertama, pada akhir surah Ali ‘Imran, Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, “Hai orang-orang beriman! Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran kamu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” Nah pada permulaan surah al-Nisa’, Allah SWT mengulangi kembali perintah takwa itu seraya menujukannya kepada umat manusia secara universal, “Hai seluruh manusia! Bertakwalah kepada Tuhan Pemelihara kamu.” 

  

Kedua, sebagai kelanjutan dari poin pertama, perintah takwa pada permulaan surah al-Nisa’ kali ini dipertegas dengan penjelasan tentang Dzat yang memerintahkannya yaitu, “Yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan menciptakan darinya pasangannya; Dia memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan.” Penegasan ini agar bersesuaian dengan salah satu bagian akhir surah Ali ‘Imran yaitu, “Maka Tuhan Pemelihara mereka memperkenankan bagi mereka (permohonan mereka). (Allah SWT berfirman:) Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, (baik) laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu (berasal) dari sebagian yang lain.” Tegasnya, seakan-akan Allah SWT berfirman, “Dia menetapkan bagimu (pahala) atas amal-amal saleh yang telah kamu kerjakan semuanya, baik laki-laki maupun perempuan, karena kamu sekalian (sama-sama) diperintahkan untuk bertakwa dan (sama-sama) bermuara pada Adam dan Hawa sebagai asal mula penciptaanmu.” Demikian terlihat keterkaitan akhir surah Ali ‘Imran dengan awal surah al-Nisa’.

  

Di sisi lain, terdapat pula kesesuaian dan keterkaitan antara bagian awal dan bagian akhir surah al-Nisa’. Bila surah ini diawali dengan menyebut asal-usul penciptaan dan kelahiran manusia (bad’ al-khalq wa al-wiladah) seperti yang telah dikutip di atas, maka ia diakhiri dengan penjelasan seputar hukum-hukum yang terkait dengan kematian seseorang yaitu, “Mereka meminta fatwa kepadamu (Nabi Muhammad SAW). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yang tidak mempunyai anak dan ayah), jika seseorang meninggal dunia…” Di samping itu, bila surah ini dibuka dengan ayat-ayat seputar warisan dan kalalah, maka ia pun diakhiri dengan ayat yang serupa. (Bandingkan ayat ke-11 sampai 12 dengan ayat ke-176)

  

Tema Surah

  

Tema utama atau tujuan utama surah al-Nisa’ ialah terciptanya keluarga sakinah yang harmonis yang pada gilirannya melahirkan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Untuk mewujudkan tujuan ini, surah al-Nisa’ menjelaskan langkah-langkah fundamental yang mesti diamalkan oleh setiap individu dalam masyarakat. Langkah-langkah tersebut dapat dideskripsikan ke dalam topik-topik sebagai berikut:

  

Pertama, menyayangi orang-orang lemah, khususnya anak-anak yatim dan perempuan karena merekalah yang sering kali menjadi korban diskriminasi. Kezaliman kepada mereka dalam bentuk apapun tidak diperkenankan, seperti memakan harta anak yatim, “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka (ayat 1),” tidak menyerahkan mahar kepada wanita yang dinikahi, “Berikanlah maskawin kepada wanita-wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan (ayat 4),” menghalang-halangi wanita secara umum untuk menerima hak waris mereka (baca ayat-ayat waris seperti ayat 7, 11-12, 176), dan mewarisi baik harta atau diri wanita dengan jalan paksa (ayat 19).


Baca Juga : Psikoterapi, Atasi Cemas Dan Kurang Percaya Diri Pada Anak

  

Kedua, menjalin hubungan baik dengan Allah SWT dan setiap individu dalam masyarakat. Hal ini ditegaskan dalam ayat ke-36, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan (persembahkanlah) kebajikan yang sempurna kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat, orang-orang dalam perjalanan yang memerlukan pertolongan dan hamba sahaya yang kamu miliki.” Tentu saja segala perilaku yang berlawanan dengan poin kedua ini juga patut dihindari dan dijauhi, seperti khianat, sombong, membangga-banggakan diri dan kikir baik harta maupun ilmu, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri, (yaitu) yang berlaku kikir dan menyuruh orang (lain) berbuat kikir, dan menyembunyikan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka dari karunia-Nya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang sangat menghinakan (ayat 36-37).”

  

Lebih lanjut, menjalin hubungan baik dengan Allah SWT dan setiap individu dalam masyarakat ini juga sepatutnya dilakukan dengan cara menjernihkan fikiran, akal dan hati, serta membersihkan anggota tubuh (baca ayat 43). Pun sebaliknya, iri, dengki, mencelakakan orang lain, ucapan yang buruk, lisan yang gemar berbohong, dan berinteraksi dengan “dua wajah”, sudah semestinya dijauhi (baca ayat 46). Juga yang tak kalah penting, menjauhi sifat khianat, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah-amanah kepada pemiliknya (ayat 58).”

  

Ketiga, menciptakan keamanan secara internal dengan cara mematuhi Allah, Rasul-Nya, para ulama dan para pemimpin (sepanjang yang disebut terakhir ini tidak menyuruh berlaku maksiat), “Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW) dan ulil amri di antara kamu (ayat 59).”

  

Keempat, menciptakan keamanan secara eksternal dengan jalan menempuh langkah-langkah strategis demi menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan masyarakat dari serangan-serangan pihak luar, “Hai orang-orang beriman! Bersiap siagalah (menghadapi musuh Allah SWT dan Rasul-Nya), lalu majulah berkelompok-kelompok atau majulah bersama-sama! (ayat 71).” Dalam pelaksanaannya, ada beberapa prinsip yang patut diperhatikan, antara lain:

  

a) Tidak mengharapkan adanya permusuhan. Bila ada musuh yang datang, maka harus dihadapi dengan tegar bukan malah lari tunggang-langgang. Saat menghadapi mereka, tidak diperkenankan menyalahi perintah pimpinan. (Baca ayat 77-79)

  

b) Mewaspadai orang-orang munafik yang kerap menyulut perpecahan, baik dari kalangan internal maupun eksternal, karena kebiasaan mereka adalah mengobarkan api fitnah lebih-lebih saat suasana sedang genting-gentingnya dan menebarkan rasa takut-cemas di hati masyarakat. (Baca ayat 83)

  

c) Saling tolong-menolong dan memberi penghormatan kepada sesama anggota masyarakat. (Baca ayat 85-86)

  


Baca Juga : Islamisasi Dalam Konteks Budaya dan Sastra Pesisiran

d) Mewaspadai terjadinya sikap dualisme saat menghadapi orang-orang munafik, satu kelompok membela sedangkan kelompok lain memusuhi. (Baca ayat 88)

  

e) Sangat berhati-hati, jangan sampai membunuh sesama muslim atau orang-orang yang telah memilih berdamai. (Baca ayat 92-94)

  

Pada perspektif lain, tujuan utama surah al-Nisa’ yang telah disebut di atas dapat pula dideskripsikan dalam beberapa tema pokok berikut ini:

  

a) Tuntunan kehidupan rumah tangga dan perlunya memberi perhatian tentang hak-hak perempuan dan kaum lemah.

  

b) Pengenalan terhadap musuh-musuh Islam dan tuntunan menghadapi mereka.

  

c) Kewajiban taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri yakni yang memiliki wewenang memerintah.

  

d) Perlunya berhijrah meninggalkan tempat atau kondisi yang tidak kondusif untuk melaksanakan tuntunan agama.

  

e) Kisah umat terdahulu guna memetik pelajaran dari pengalaman mereka.


Baca Juga : Mencermati RUU Sistem Pendidikan Nasional

  

Sumber Rujukan

  

‘Adnan ‘Abdul Qadir, Jana al-Qalb al-Hayim fi Maqashid al-Suwar wa Mahawiriha (Kuwait: Dar Hamil al-Misk, 2014), 44-54.

  

Abi al-Fadhl ‘Abdullah Muhammad al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani, Jawahir al-Qur’an fi Tanasub Suwar al-Qur’an (Kairo: Maktabah al-Qahirah, t.t.), 28-29. 

  

Ahmad b. Ibrahim b. al-Zubayr al-Tsaqafi, al-Burhan fi Tanasub Suwar al-Qur’an (Dammam: Dar Ibn al-Jawzi, 1428 H), 91-92.

  

Jalaluddin al-Suyuthi, Marashid al-Mathali‘ fi Tanasub al-Maqathi‘ wa al-Mathali‘ (Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj, 1426 H), 48-49.

  

M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 76, 77, 84, 87, 89, 101.

  

M. Quraish Shihab, “Makna dan Kandungan Surah-Surah al-Qur’an” dalam Al-Qur’an dan Maknanya, 9-10.