Pesan Sang Pencipta Kepada CiptaanNya

Daras Tafsir

Oleh: Khobirul Amru

(Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya) 

  

Zubdah al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (1)

  

Tulisan ini merupakan kajian atas kitab Zubdah al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki (w. 1425 H/2004 M). Untuk itu, sebelum menelaah lebih dalam, mari kita membacakan surat al-Fatihah untuk beliau, semoga dianugerahkan ilmu yang bermanfaat dan berkah. Untuk beliau, al-Fatihah.

  

Sebagaimana terlihat dari judulnya, kitab ini merupakan intisari dari al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an yang ditulis oleh Imam al-Suyuthi (w. 911 H). Tentu, di kalangan para pengkaji ilmu al-Qur’an dan pesantren salaf pada umumnya, kitab yang disebutkan terakhir ini tidak asing lagi. Ia menjadi rujukan otoritatif dan komprehensif bagi siapa saja yang ingin mendalami samudera ilmu-ilmu al-Qur’an. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Abuya, sapaan akrab Sayyid Muhammad, mengintisarikan kitab tersebut dengan menambahkan beberapa keterangan yang sangat bermanfaat.

  

Sampai di sini, mari kita menelaah lebih lanjut mukadimah kitab Zubdah al-Itqan itu. Setelah mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT dan berselawat, Abuya menuliskan:

  

Al-Qur’an yang mulia adalah kitab samawi terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT kepada penutup para nabi, dengan risalah agama yang universal, abadi, dan penutup risalah-risalah agama yang lain.

  

Bila penjelasan Abuya di atas diamati, terlihat bahwa ada 3 sifat yang melekat pada al-Qur’an, yakni:

1. Kitab samawi terakhir.


Baca Juga : Temuan Akhir, Tim Penelitian Waliyullah Penyebar Islam di Tuban

2. Diturunkan kepada penutup para nabi, yakni Nabi Muhammad SAW.

3. Berisi risalah agama samawi terakhir yang universal dan abadi.

  

Artinya, 3 sifat di atas dengan sendirinya menegasikan segala kitab suci selain al-Qur’an. Zabur misalnya, tidak bisa disebut al-Qur’an karena diturunkan kepada Nabi Daud AS, bukan Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dengan Taurat, Injil, Weda, Tripitaka dan lain sebagainya. Adapun mengenai universalitas dan keabadian risalah agama Islam, al-Qur’an dengan tegas menyatakan, yang artinya sebagai berikut: Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan menyeluruh kepada manusia, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Surah Saba’ [34]: 28)

  

Selanjutnya, Abuya menjelaskan:

Maka al-Qur’an adalah pesan Sang Pencipta untuk memperbaiki makhluk-Nya dan “undang-undang langit” sebagai petunjuk bagi penduduk bumi. Dzat Yang Menurunkannya telah menyampaikan segala syariat dan menitipkan segala kekuatan di dalamnya, serta menggantungkan segala kebahagiaan dengannya. Ia adalah hujah Sang Rasul (Nabi Muhammad) SAW dan mukjizatnya yang agung, yang berdiri tegak di “mulut dunia” sebagi saksi atas kerasulannya, penerang kenabiannya dan dalil atas kejujuran dan keamanahannya.

  

Sebagai pengingat, rasanya kita perlu berhenti sejenak, menelaah ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan erat dengan kalimat terakhir Abuya di atas. Bahwa al-Qur’an menjadi saksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad SAW. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad SAW) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh, dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya‘qub dan anak cucu(nya), ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah menganugerahkan Daud kitab Zabur. (Surah al-Nisa’ [4]: 163)

  

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau kerjakan, maka engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Surah al-Ma’idah [5]: 67)

  

Dan ketika Kami mengambil dari nabi-nabi perjanjian mereka dan darimu, dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, yang kesudahannya Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih. (Surah al-Ahzab [33]: 7-8)

  

Sedangkan berkenaan dengan kejujuran dan keamanahan Rasulullah SAW, terutama dalam menyampaikan wahyu Allah, al-Qur’an dengan tegas menyatakan, yang artinya:

  

Dan seandainya dia mengada-adakan atas Kami sebagian perkataan niscaya benar-benar Kami menyiksanya dengan tangan kanan. Kemudian benar-benar Kami telah memotong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak seorang pun dari kamu yang dapat menjadi penghalang-penghalang. (Surah al-Haqqah [69]: 44-47)

    

Demikian kajian kitab Zubdah al-Itqan karya Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Insya Allah akan kita lanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya, bi idznillah. Semoga.