(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur'an: Peran Balaghah dalam Penafsiran Al-Qur'an (Bagian Keempat)

Daras Tafsir

Sejak awal, Al-Qur’an menyatakan, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (kitab suci) berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti. (Yusuf [2]: 2)” Di tempat lain, Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) hanyalah diajarkan kepadanya (Nabi Muhammad SAW) oleh seorang manusia.’ Bahasa yang mereka tuduh (bahwa Nabi Muhammad belajar kepadanya) adalah bahasa ajam (bukan bahasa Arab). Padahal, ini (Al-Qur’an) adalah bahasa Arab yang jelas. (al-Nahl [16]: 103) ” Konsekuensi logis dari pernyataan semacam ini adalah urgensi mempelajari dan memahami bahasa Arab—dengan berbagai disiplin yang dicakupnya—sebagai “pintu masuk” untuk memahami pesan-pesan suci Al-Qur’an. Amat sulit, untuk tidak mengatakan mustahil, menangkap makna di balik teks-teks ilahiah itu tanpa penguasaan yang baik terhadap bahasa Arab.

  

Pada konteks ini, balaghah sebagai salah satu cabang ilmu bahasa Arab menemukan relevansinya untuk dipelajari. Fokus kajiannya berkisar pada uslub atau gaya bahasa yang kemudian diskemakan oleh para ulama ke dalam tiga bagian. Pertama, ma‘ani yang membahas gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat. Kedua, bayan yang mengkaji gaya bahasa kiasan atas dasar perbandingan. Ketiga, badi‘ yang membahas gaya bahasa—utamanya—atas dasar pertentangan dan pertautan atau keserasian. Dalam ranah penafsiran Al-Qur’an, ketiga kajian ini memainkan peran pentingnya masing-masing. Potret sekilas peran inilah yang akan kita diskusikan pada artikel sederhana kali ini.

  

Menurut Gus Awis, setidaknya ada lima peran balaghah dalam konteks penafsiran Al-Qur’an. Pertama, menyingkap makna yang tersimpan dan makna implisit dari lafal dan frasa Al-Qur’an. Sekurang-kurangnya, ada tiga fann balaghah yang terkait dengan hal ini, yakni ijaz bi al-hadzf, ihtibak dan tadhmin. Mari kita telaah lebih lanjut.

  

Ijaz bi al-hadzf ialah peringkasan sebuah kalimat dengan cara melakukan penghapusan. Ada berbagai macam penghapusan yang biasa tempuh, seperti menghapus huruf, kata, frasa, dan bahkan kalimat. Dalam bahasa Indonesia, gaya semacam ini biasa disebut sebagai elipsis. Yakni suatu gaya yang berwujud penghilangan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Bagaimana contohnya dalam Al-Qur’an? Perhatikan ayat berikut ini:

  

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِه مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (11) يٰيَحْيٰ خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ وَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا (12)

  

Bila diterjemahkan secara tekstual, apa adanya, ayat di atas lebih kurang bermakna begini:

  

Lalu (Zakariya) keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh, dan Kami menganugerahkan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (Maryam [19]: 11-12)

  

Di mana letak ijaz bi al-hadzf atau elipsis pada ayat di atas? Jawabannya, kita perlu memahami terlebih dahulu konteks ayat di atas, khususnya ayat ke-11 dan empat ayat sebelumnya (ayat ke-7 sampai dengan 10). Secara tekstual, dalam ayat ke-7 sampai dengan 11, Allah SWT “baru” memberitahukan bahwa (1) doa yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya dikabulkan. Beliau akan dianugerahi seorang putra, dan telah disiapkan pula nama untuk putranya itu sebagai pemberian langsung dari Allah. Nama tersebut adalah Yahya, tidak pernah seorang pun yang menyandang nama itu sebelumnya. (2) Mengingat kondisi fisik Nabi Zakariya dan istri yang secara akal mustahil bisa memperoleh keturunan, beliau memohon kembali kepada Allah supaya diberi tanda-tanda bahwa anaknya itu segera dilahirkan, agar hatinya tambah tentram dan rasa syukurnya bertambah dalam. Allah menjawab bahwa tandanya ialah Nabi Zakariya tidak akan dapat bercakap-cakap dengan manusia di sekelilingnya selama tiga hari, kecuali dengan memberi isyarat saja, padahal beliau sehat dan tidak menderita penyakit apapun. (3) Nabi Zakariya keluar dari mihrab, tempatnya berdoa, menuju kaumnya yang sudah lama menunggu. Beliau memberi isyarat kepada mereka tanpa berbicara sepatah kata pun karena Allah telah menahan kemampuannya berbicara. Dengan isyarat itu, beliau memberi pesan kepada kaumnya, “Bertasbihlah kamu kepada Allah dengan ketundukan hati dan ketulusan niat pada waktu pagi dan petang.”

Baca Juga : Kritik Atas Agenda Riset Keagamaan Nasional 2018-2028

  

Nah, kemudian “tiba-tiba” pada ayat selanjutnya, pembicaraan beralih kepada Yahya, “Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) kitab Taurat itu dengan sungguh-sungguh.” Tegasnya, antara ayat ke-11 dan 12 di atas terdapat peringkasan kalimat dengan menghapus serangkaian kata (ijaz bi al-hadzf). Di sinilah balaghah memainkan peran pentingnya. Menurut Gus Awis dalam al-Syamil-nya, bila serangkaian kata itu ditampakkan, kurang lebih berbunyi begini, “Maka, tatkala Yahya dilahirkan, lalu tumbuh dan berkembang, Kami berfirman (kepadanya, ‘Wahai Yahya, dan seterusnya’). (falamma wulida Yahya wa nasya’a wa tara‘ra‘a, qulna)”

  

Contoh lain, dapat kita temukan dalam surah Thaha [20]: 91-93 berikut ini:

  

قَالُوا لَن نَّبْرَحَ عَلَيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوْسٰى (91) قَالَ يٰهٰرُوْنُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِيْ (93)

  

Secara literal, ayat di atas lebih kurang bermakna begini:

  

Mereka menjawab, “Kami tidak akan meninggalkannya (patung anak sapi) (dan) tetap akan menyembahnya sampai Musa kembali kepada kami.” Dia (Musa) berkata, “Wahai Harun, apa yang menghalangimu, ketika engkau melihat mereka telah sesat, dari mengikuti (dan menyusul)-ku? Apakah engkau (sengaja) melanggar perintahku?”

  

Sebagaimana contoh sebelumnya, letak ijaz bi al-hadzf pada ayat di atas akan dapat kita pahami dengan baik bila konteks ayat di atas telah tergambar dengan sempurna. Secara ringkas, konteks ayat sebelumnya sedang membicarakan tentang sikap kaum Bani Israil saat ditinggalkan oleh Nabi Musa bermunajat kepada Allah SWT di bukit Thur. Mereka menyeleweng dari agama Tauhid dan menyembah anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Mereka pun telah diberi nasihat dan peringatan oleh Nabi Harus atas penyelewengan itu, tetapi merek malah berkata, “Kami akan tetap menyembah patut itu sampai Musa kembali kepada kami.”

  

Kemudian, disusullah ayat ke-92 di atas yang “tiba-tiba” merekam ucapan Nabi Musa kepada Nabi Harun. Dengan kata lain, ada semacam “episode” yang tidak ditampakkan. Menurut Gus, bila episode itu dieksplisitkan, kurang lebih berbunyi begini, “Tatkala Musa kembali kepada kaumnya dan mendapati mereka sedang menyembah anak sapi, jiwanya penuh dengan kemarahan lillah dan segera menarik jenggot Nabi Harun seraya berkata, ‘Wahai Harun, apa yang menghalangimu, ketika melihat mereka telah sesat?’”

  

Baca Juga : Kembali Kepada Fitrah

Selanjutnya, mari beralih ke ihtibak, salah satu fann balaghah yang juga berperan dalam menyingkap makna yang tersimpan dan implisit di balik lafal dan frasa Al-Qur’an. Apa itu ihtibak? Ialah menghapus satu kata atau kalimat karena telah ada pada redaksinya kata atau kalimat yang dapat menunjuk kepadanya. Gus Awis menyebut surah al-Baqarah [2]: 222 berikut sebagai contoh:

  

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيْضِ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ

  

Menurut Gus, pada ayat di atas terdapat penghapusan kata yathahharna dalam frasa hatta yathhurna, karena kata itu telah ditunjuk oleh frasa selanjutnya, yakni fa’idza tathahharna. Di samping itu, dalam frasa fa’idza tathaharna terdapat penghapusan kata thahurna, karena kata ini telah ditunjuk oleh frasa sebelumnya, yakni hatta yathhurna. Dengan demikian, penggalan ayat di atas, bila diterjemahkan secara gamblang dengan mengikuti alur berpikir ihtibak, lebih kurang berbunyi, “Maka jauhkanlah diri kamu dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci dan bersuci. Apabila mereka telah suci dan bersuci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kamu.”

  

Contoh lain dapat kita temukan dalam surah Ali ‘Imran [3]: 13 berikut ini:

  

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَأُخْرٰى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ

  

Menurut Gus Awis, pada ayat di atas terdapat penghapusan kata mu’minah setelah kata fi’ah, karena ia telah ditunjuk oleh frasa selanjutnya, yakni ukhra kafirah. Di samping itu, terdapat pula penghapusan kalimat tuqatilu fi sabil al-thaghut setelah frasa ukha kafirah, karena kalimat tersebut telah ditunjuk oleh penggalan sebelumnya, yakni fi’ah tuqatilu fi sabil Allah. Artinya, bila penggalan ayat di atas diterjemahkan, maka kurang lebih berbunyi, “Sesungguhnya telah ada bukti bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan (mukmin) berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir (berperang di jalan thaghut/setan). Mereka melihat mereka dengan penglihatan mata (sebanyak) dua kali jumlah mereka.”

  

Fann balaghah berikutnya yang juga berperan penting dalam menyingkap makna implisit di balik lafal dan frasa Al-Qur’an adalah tadhmin. Yang dimaksud dengan tadhmin di sini ialah sebuah kata yang mengandung makna kata lain karena diikuti oleh huruf jar yang dimiliki oleh kata lain itu. Penggalan surah al-Baqarah [2]: 185 berikut merupakan salah satu contohnya:

  

لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ

Baca Juga : Merdeka di Masa Depan

  

Perhatikan, kata li tukabbiru pada ayat di atas diikuti (di-ta‘diyah-kan) oleh huruf ‘ala, padahal biasanya penggunaan term kabbara-yukabbiru itu tidak perlu diikuti oleh huruf tersebut. Menurut Gus, hal ini dikarenakan dalam kalimat tersebut, li tukabbiru Allah ‘ala ma hadakum, terkandung makna “pujian” (al-hamd). Artinya, perintah mengagungkan Allah itu sekaligus “dibarengi” dengan perintah untuk memuji-Nya, yakni “Agungkan dan pujilah Allah atas ajaran-ajaran agama yang telah Dia tunjukkan kepadamu”.

  

Contoh lain dapat ditemukan dalam surah yang sama, penggalan ayat ke-220 berikut ini:

  

وَاللهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ

  

Di mana letaknya tadhmin-nya? Tepatnya pada kata kerja ya‘lamu. Sebagaimana kita ketahui, dalam bahasa Arab penggunaan kata kerja ini tidak memerlukan preposisi khusus, sedangkan pada ayat di atas ia diikuti oleh preposisi berupa huruf min. Isyarat apa di balik penggandengan ya‘lamu dan min itu? Menurut Gus, hal itu untuk mengisyaratkan bahwa di sana terkandung makna yumayyiz (membedakan), sehingga bila penggalan ayat di atas diterjemahkan, kurang lebih begini, “Allah mengetahui dan dapat membedakan siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang mengadakan perbaikan.”

  

Demikian terlihat peran balaghah dalam menyingkap makna implisit di balik lafal dan frasa Al-Qur’an. Untuk peran kedua hingga kelima, insya Allah akan kita bahas pada artikel mendatang. Wallahu A‘lam.

  

Catatan

  

Data yang penulis gunakan dalam artikel ini merujuk pada materi yang disampaikan oleh Gus pada Webinar Nasional, “Peran Balaghah dalam Tafsir Al-Qur’an” yang diselenggarakan oleh tiga lembaga (kolaborasi), yakni Ponpes Tafsir Hadis Shohihuddin Prapen Surabaya, Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMP IAT) UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Tafsiralquran.id, pada Sabtu, 13 Sya‘ban 1442 H/27 Maret 2021. (Dapat diakses melalui alamat: https://www/youtube.com/watch?v=VlunvdGGglw). Tetapi tentu saja penulis juga berusaha menelaah materi-materi tersebut lebih lanjut, dengan merujuk pada sumber-sumber yang relevan.

  

Baca Juga : Grey/Apri dalam Olimpiade Tokyo: Gelora Nasionalisme dan Persahabatan

Sumber Rujukan

  

‘Abd al-Rahman Hasan Habannakah al-Maydani, al-Balaghah al-‘Arabiyah: Ususuha wa ‘Ulumuha wa Fununuha wa Suwar min Tathbiqatiha bi Haykal min Jadid wa Tharif wa Talid, Vol. 1 (Damaskus: Dar al-Qalam, 1996), 330.

  

Ahmad Mushtafa al-Maraghi, ‘Ulum al-Balaghah: al-Bayan wa al-Ma‘ani wa al-Badi‘ (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993), 89-93.

  

Badr al-Din Abi ‘Abd Allah Muhammad b. Bahadir b. ‘Abd Allah al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2012), 89.

  

D. Hidayat, al-Balaghah li al-Jami‘ wa Syawahid min Kalam al-Badi‘: Balaghah Untuk Semua (Semarang: Karya Toha Putra, Jakarta: Bina Masyarakat Qur’ani, t.t.), 144.

  

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Vol. 6 (Jakarta: Departemen Agama RI, 2011), 174-178.

  

Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman b. Abi Bakr al-Suyuthi, Syarh ‘Uqud al-Juman fi al-Ma‘ani wa al-Bayan (Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2011), 64-65.

  

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), 450.

Baca Juga : Ekonomi Syariah Sebagai Pilar Ekonomi Kerakyatan Untuk Indonesia Sejahtera

  

Muhammad ‘Ali al-Shabuni, Shafwat al-Tafasir, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Shabuni, t.t.), 118.

  

Muhammad Afifudin Dimyathi, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 92, 110-111, 112, 150.

  

______, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 2 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 243, 275.

  

Muhammad al-Amin b. ‘Abd Allah al-Urami al-‘Alawi al-Harari, Tafsir Hada’iq al-Rawh wa al-Rayhan fi Rawabi ‘Ulum al-Qur’an, Vol. 4 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 221-222.

  

______, Tafsir Hada’iq al-Rawh wa al-Rayhan fi Rawabi ‘Ulum al-Qur’an, Vol. 17 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 97.

  

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 1 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), xv, 596.

  

______, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 2 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), 28-29.

  

Syihabuddin Qalyubi, Stilistika Al-Qur’an: Makna di Balik Kisah Ibrahim (Yogyakarta: LKiS, 2009), 116.

  

Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari‘ah wa al-Manhaj, Vol. 8 (Damaskus: Dar al-Fikr, 2009), 397.