(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur'an: Peran Balaghah dalam Penafsiran Al-Qur'an (Bagian Ketujuh)

Daras Tafsir

Pada artikel sederhana ini kita akan menelaah peran balaghah yang keempat dalam konteks penafsiran Al-Qur’an perspektif Gus Awis, yakni menghindarkan pemahaman yang salah atau yang tidak dikehendaki oleh Al-Qur’an. Seperti yang kita ketahui, ada banyak faktor yang melatarbelakangi timbulnya pemahaman yang salah, antara lain keserupaan objek yang sedang dipahami dengan objek lain yang sejenis karena terdapat dua variabel serupa yang mengikat keduanya.

  

Pada konteks ini, Gus menyebut dua konsep dalam Ilmu Balaghah, ihtiras dan tafannun fi ikhtiyar al-kalam, sebagai perangkat yang dapat digunakan oleh mufasir untuk menepis pemahaman yang salah itu. Yang dimaksud dengan ihtiras sendiri ialah menyebutkan sebuah kata yang dapat menepis penafsiran yang “bukan-bukan”. Perhatikan baik-baik ayat berikut ini:

  

وَلَوۡ أَنَّهُمۡ أَقَامُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِم مِّن رَّبِّهِمۡ لَأَكَلُواْ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۚ

  

Dan jika seandainya mereka sungguh-sungguh menegakkan Taurat, Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan Pemelihara mereka, niscaya mereka akan makan (memperoleh rezeki yang bersumber) dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. (al-Ma’idah [5]: 66)

  

Kata ganti persona ketiga (“mereka”) pada ayat di atas merujuk pada Ahli Kitab yang secara eksplisit disebut pada ayat sebelumnya, al-Ma’idah [5]: 65:

  

Dan jika seandainya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, pastilah Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Kami masukkan mereka (ke) surga-surga Na‘im (yang penuh kenikmatan).

  

Perlu dicatat bahwa “konteks awal” Ahli Kitab yang dimaksud oleh ayat di atas ialah Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang hidup di zaman Nabi SAW. Melalui ayat di atas, mereka diajak untuk mengimani dan mengamalkan wahyu (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

  

Pokok bahasan kita adalah frasa “niscaya mereka akan makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” (la’akalu min fawqihim wa min tahti arjulihim) yang terdapat pada ayat ke-66 di atas. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Al-Qur’an, kita tahu bahwa leluhur Ahli Kitab Yahudi, yakni Bani Isra’il yang berinteraksi langsung dengan Nabi Musa AS, pernah dianugerahi rezeki berupa al-mann dan al-salwa yang turun langsung dari langit.


Baca Juga : Indonesia Sebagai Sasaran Gerakan Intoleran

  

Dan Kami menaungi kamu (dengan) awan, dan Kami menurunkan kepada kamu al-mann dan al-salwa. Makanlah dari (makanan) yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka (sendiri). (al-Baqarah [2]: 57)

  

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Al-Qur’an pula, kita tahu bahwa leluhur Ahli Kitab Nasrani, yakni Bani Isra’il yang berinteraksi langsung dengan Nabi ‘Isa AS, pernah dianugerahi “hidangan” (al-ma’idah) yang turun langsung dari langit.

  

(Ingatlah), ketika Hawariyyun (para pengikut setia Nabi ‘Isa AS) berkata, “Wahai ‘Isa putra Maryam! Mampukah Tuhan Pemeliharamu menurunkan untuk kami hidangan dari langit?” Dia (Nabi ‘Isa AS) menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang mukmin!”

  

Mereka berkata, “Kami ingin makan sebagian darinya (hidangan itu) dan (supaya) tenteram hati kami dan (supaya) kami yakin bahwa sungguh engkau telah berkata benar kepada kami, dan Kami menjadi orang-orang yang menyaksikannya.”

  

‘Isa putra Maryam berdoa, “Allahumma (Ya Allah), Tuhan Pemelihara kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi bukti dari-Mu (tentang kekuasaan-Mu); anugerahkanlah rezeki untuk kami, dan Engkau-lah sebaik-baik Pemberi rezeki.”

  

Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya (hidangan) itu kepada kamu; maka barang siapa kafir di antara kamu sesudah (turunnya hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.” (al-Ma’idah [5]: 112-115)

  

Oleh karena itu, dalam perspektif Ilmu Balaghah, frasa “niscaya mereka akan makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” (la’akalu min fawqihin wa min tahti arjulihim) mengandung fann al-ihtiras, yakni menyebut suatu kata yang dapat menepis penafisran yang bukan-bukan. Tegasnya, frasa “dan dari bawah kaki mereka” (wa min tahti arjulihim) tersebut diungkapkan agar rezeki yang datang dari arah atas mereka (min fawqihim)—orang-orang Yahudi dan Nasrani—tidak dipahami seperti rezeki yang turun kepada Bani Israil, yakni hidangan yang turun dari langit. Karena boleh jadi bila frasa min tahti arjulihim itu dihilangkan, dugaan bahwa rezeki itu persis seperti yang turun kepada Bani Israil akan muncul.

  


Baca Juga : Asosiasi Dosen Pergerakan untuk Indonesia (Bagian Dua)

Selanjutnya tafannun fi ikhtiyar al-kalam, yaitu membedakan pemilihan kata agar pemahaman seseorang lebih terarah. Kita tahu bahwa pemilihan kata yang tepat, akan membantu audien mencerna maksud yang diinginkan oleh pembicara. Kita menyadari bahwa kemungkinan faktor kesalahpahaman bukan saja timbul dari audien baik karena lengah atau kurang fokus, tetapi bisa juga timbul dari pembicara yang kurang cermat dalam memilah dan memilih kata yang dapat menampung makna yang ia kehendaki.

  

Pada konteks ini, kita akan mendapati ayat-ayat Al-Qur’an sarat dengan tafannun fi iktiyar al-kalam. Gagasan, ide, dan makna digambarkan dalam serangkaian kata yang begitu cermat, teliti, akurat dan jeli. Sebagai contoh, perhatikan surah Ali ‘Imran [3]: 120 berikut ini:

  

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٌ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٌ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ

  

Jika kamu disentuh kebaikan, niscaya mereka tidak senang, tetapi jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya.

  

Perhatikan, ayat di atas menggandengkan kata al-mass (tersentuh) dengan hasanah (kebaikan), dan al-ishabah (tertimpa) dengan sayyi’ah (keburukan). Kata ganti persona kedua (“kamu”) menunjuk pada orang-orang mukmin, sedangkan kata ganti persona ketiga (“mereka”) merujuk pada orang-orang kafir, munafik atau musuh-musuh Islam.

  

Tegasnya, pemilihan dua kata untuk konteks yang berbeda itu hendak menunjukkan dan menggambarkan bahwa bila orang-orang mukmin “disentuh” oleh sedikit kebaikan saja, apapun bentuknya—pemaknaan “sedikit” ini dipahami dari tanwin yang berfungsi li taqlil yang terdapat pada kata hasanah dan pemaknaan “apapun” dipahami dari kata hasanah yang berbentuk nakirah—niscaya orang-orang kafir, munafik, atau musuh-musuh Islam itu bersedih hati. Dengan kata lain, jangankan orang-orang mukmin “memperoleh” kebaikan, “tersentuh” sedikit kebaikan saja, mereka itu sudah bersedih hati, tidak rela, iri, dengki dan sejenisnya.

  

Berbeda halnya dalam konteks sayyi’ah (keburukan) yang dihubungkan dengan ishabah (tertimpa), mereka belum bergembira bila orang-orang mukmin hanya “tersentuh” oleh keburukan. Mereka baru bergembira bila orang-orang mukmin “ditimpa” oleh keburukan atau bencana yang besar, apapun itu—pemaknaan “yang besar” ini dipahami dari tanwin yang berfungsi li al-ta‘zhim yang terdapat pada kata sayyi’ah dan pemaknaan “apapun” dipahami dari kata sayyi’ah yang berbentuk nakirah. Demikian terlihat betapa besarnya kedengkian mereka kepada orang-orang mukmin.

  

Sumber Rujukan

  

M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 8, 20, 119, 126-127.

  

______, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 2 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), 237.

  

M. Afifudin Dimyathi, al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Nibras, 2021), 306.

  

Muhammad ‘Ali al-Shabuni, al-Tafsir al-Wadhih al-Muyassar (Beirut: Maktabah al-‘Ashiryyah, 2007), 145-146.

  

Abi Hayyan al-Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhith, Vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 45-46.