(Sumber : Nursyamcentre.com)

Aku Masih Seperti Yang Dulu?

Horizon

Oleh : Dr. Suko Susilo

(Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Tri Bakti Kediri, Pemerhati Sosial)

  

Mungkin tak mudah lagi kita dapatkan santri kelana dengan lebarnya pengembaraan menjelajah dari pesantren ke pesantren lain untuk memperluas cakrawala spiritualitasnya.

  

Sengaja saya pakai baris pertama lirik lagu Tak Ingin Sendiri-nya Dian Piesesha sebagai judul tulisan agar terasa provokatif. Tahun 1985, melodi lagu itu menjadi senandung jalanan penggemar musik pop di Indonesia. Di berbagai angkutan umum lagu itu mengayun-ayun perasaan penumpangnya. Di Kupang NTT, bemo yang biasa menggedor telinga penumpang dengan lagu disco atau I Want To Break Free-nya Queen yang lagi nge-top saat itu, berganti Dian Piesesha mendayu-dayu.

  

Perubahan memang bisa sebegitu dahsyat terjadi. Dari suka lagu berspirit berontak, menjadi suka yang merengek minta dibelaskasihani. Dari yang semula sangat sosial menjadi anti sosial. Dari suka shalat rapat berjamaah menjadi berjarak dan saling curiga kiri kanannya bermasalah. Semula berperilaku relegius-normatif menjadi pragmatik.

  

Jaman sudah runyam dan demikian kelam. Berubah ke arah yang salah dari yang semula diharapkan. Berharap ekonomi berkembang pesat, justru jalan di tempat. Berharap korupsi bisa dihabisi, justru tumbuh menjadi-jadi. Kita memang selalu mrucut memprediksi masa depan. Terang cahaya agama seperti surut remang-remang. Seolah tak cukup menjadikan manusia berhati jernih yang selalu terhindar dari ketercelaan perbuatan. Pembimbing moral bangsa sebagaimana guru dan ulama, masihkah seperti yang dulu?

    

Menjawab ‘tidak’ tentu perlu jaminan bukti yang jelas mesti dicari. Untuk menjawab ‘masih’ tentu akan mendatangkan tanya bertubi-tubi ditengah jaman yang melaju kencang. Tetapi, akan terasa lebih mudah menjawab ‘tidak’ karena argumen pendukungnya tersedia banyak. Apalagi di saat pandemi ini. Peran guru sebagian besarnya tergantikan orang tua. Sedangkan ulama tak lagi mudah dicium tangannya. Takut tertular korona.

   

Globalisasi dan kemajuan teknologi menjadi mudah ditempatkan di kandang kambing hitam. Segala fenomena majunya jaman dan perubahan sosial mudah menjadikannya sebagai tersangka penyebab. Mungkin kini tak mudah kita jumpai ulama berbalut ketulus-ikhlasan, kebersahajaan, dengan tradisi kerakyatan yang kental. Mungkin tak mudah lagi kita dapatkan santri kelana dengan lebarnya pengembaraan menjelajah dari pesantren ke pesantren lain untuk memperluas cakrawala spiritualitasnya.

  

Kini, pengaruh sekularisme, kapitalisme serta hedonisme telah sungguh menemukan titik kesempurnaanya. Hal ini terkait dengan makin mendunianya bangsa kita dalam arus globalisasi. Kita hidup berdampingan dengan orang dari negara maju secara langsung. Bangsa ini pun kian membuka lebar pintu bagi orang lain. Masihkah aku seperti yang dulu? Jelas sulit menjelaskan jika kita menjawabnya ‘masih’.

  

Ketokohan para tokoh pun menjadi terasa instan di jaman yang memang menyediakan peluang untuk itu. Yang sungguh tak jelas kiprah politiknya, tiba-tiba muncul sebagai aktor politik. Satu-satunya latar belakang yang menjadikannya aktor politik adalah hubungan keluarga dan kepemilikan sumberdaya ekonomi. Begitu juga ulama.

  

Ada yang kemunculannya karena punya jamaah. Ada juga yang karena bisa membangun tempat ibadah. Kadang kelewat mewah untuk ukuran bangunan sekitarnya. Ada yang disebut ulama hanya karena ia lahir dari ruang rahim sang ulama pendahulunya.

  

Lembaga pendidikan agama yang dibangun atau hasil warisan leluhurnya dipromosikan besar-besaran agar tetap berkibar. Masyarakat diharap tetap menempatkan dirinya sebagai ulama, bahkan jika bisa sampai level kharismatik, sembari membangun kembali sikap tradisional-feodalistik. “Ulama” dalam tanda petik ini berharap memperoleh pendukung fanatik. Bahkan, untuk kepentingan itu, dihidup-hidupkan lagi berbagai mitologi agar aura keulamaannya melambung tinggi.

  

Ukuran moralitas kebersahajaan, etika kesantunan, akhlak kerendah-hatian seorang ulama bisa jadi semakin pudar dari hari ke hari. Karena, gempuran kemajuan jaman, menjadikan pengetahuan lebih penting ketimbang ilmu. Kepintaran lebih diunggulkan dari sekedar  kemengertian. Kecerdasan intelektual jauh lebih berarti katimbang kefahaman. Begitu juga rasionalitas lebih menjanjikan dari kefasihan dan kekhusukan. Fenomena ini tak pernah dikenal oleh tradisi keulamaan maupun kultur lembaga pendidikan keagamaannya.

  

Jika membandingkan dengan ulama tempo doeloe akan terdapat jarak yang membentang jauh. Berbagai sisa warisan agung tempo doeloe hanya tinggal cerita kenangan. Itu semua terjadi lantaran laju kemajuan jaman memengaruhi kehidupan spiritualitas masa kini. Jadi, masihkah kita percaya pada pengakuan ‘aku masih seperti yang dulu?’ Silahkan saja jika Anda masih percaya. Tak mengapa, ini memang jaman tak normal kok.