(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Antara Hukum Agama dan Toleransi Antar Umat Beragama

Horizon

Oleh: Sri Veni Ratna Sari

Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya 

  

Ada berbagai perbedaan pendapat mengenai hukum seorang muslim masuk kedalam tempat ibadah agama lain. Belum lama ini salah seorang pendakwah yaitu Gus Miftah menghadiri undangan peresmian Gereja dan memberikan orasi kebangsaan. Hal tersebut menuai pro dan kontra dalam pandangan masyarakat dan beberapa ulama pun angkat bicara memberikan tanggapannya. Diantaranya Buya Yahya dan Habib Jidan. 

  

Dalam menerapkan hukum terlebih dahulu perlu dipahami konteks dari suatu perkara atau diketahui asal usulnya. Indonesia merupakan negara dengan bermacam-macam suku dan agama, tentu saja toleransi dan kolaborasi guna menjaga keutuhan negara dan solidaritas sesama manusia perlu digaungkan. Sudut pandang mengenai haram atau tidaknya masuk kedalam gereja harus dilihat dari tujuan seseorang masuk ke tempat peribadatan tersebut. Sangat disayangkan ketika sesame manusia terlebih sesama muslim dengan mudah mengkafir-kafirkan saudaranya karena perbedaan sudut pandang dalam memaknai suatu perkara. Sebagai umat muslim kita harus menunjukkan akhlak Islam yang indah dan kita dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain.

  

Toleransi antar umat beragama dalam Islam telah dijelaskan dalam al-Qur\'an dan hadis. Keduanya merupakan pedoman hidup bagi umat Islam, yang berisikan petunjuk dari Allah SWT berupa larangan yang harus dihindari dan kewajiban yang harus dikerjakan oleh umat Islam. Naman toleransi tidak dibenarkan dengan mengakui kebenaran semua agama. Sebab orang masih saja sering salah kaprah dalam mengartikan dan melaksanakan toleransi. Misalnya, ada orang yang rela mengorbankan syari\'at agama dengan ikut menggunakan atribut perayaan hari besar agama lain karena takut dibilang tidak toleransi dan tidak saling menghargai. Padahal barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum tersebut. Bukanlah seperti ini toleransi yang diinginkan, melainkan toleransi antar umat beragama yang diharapkan adalah toleransi yang tidak mencampuradukkan bab akidah atau dogma masing-masing agama. Toleransi hanya dilakukan pada ranah sosial bukan dalam hal akidah. Maka apabila seseorang hanya masuk saja tanpa ada tujuan lainnya yang menyimpang dari syariat, ulama mengatakan di dalam mazhab Imam Malik, Imam Hambali, masuk tempat ibadah tanpa tujuan apa-apa maka hukum masuk gereja atau (tempat ibadah) yang lainnya dikatakan boleh. 

  

Penanaman sikap pluralitas dalam kebhinnekaan yang ada merupakan hal-hal mendasar yang perlu  dilakukan oleh pemuka agama dan pemerintah sehingga mereka dapat meminimalisir terjadinya konflik di masyarakat. Dinamika sosial yang berjalan di antara masyarakat dijelaskan sebagai sebuah pondasi keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan. Umat Islam perlu terus membangun kesadaran kebersamaan di antara seorang muslim dengan muslim lainnya dan menjelaskan bahwa agama yang diyakini memiliki kontribusi besar atas tegak dan kokohnya keyakinan agar berbagai macam konflik atas nama agama dapat dihindari dan nilai-nilai kemanusiaan tidak terciderai.

  

Pluralitas mensyaratkan adanya dialog keterbukaan. Tanpa dialog, pluralitas hanya akan sampai pada tataran fragmentasi saja, dimana seolah-olah manusia hidup dalam ruang dan waktu yang sama, akan namun terkotak-kotak pada pemahaman dan pandangan yang berbeda. Dalam dialog antaragama misalnya, semua peserta dialog duduk bersama-sama bukan membicarakan perbedaan-perbedaan, namun membicarakan persamaan-persamaan yang menuntun pada pola interaksi yang positif dan aktif demi mewujudkan suatu perdamaian. Piagam Madinah adalah  bukti dalam sejarah bagaimana Islam sejak awal menginginkan terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Dalam konteks ke-Indonesia-an, nilai-nilai luhur al-Quran dapat dikembangkan dalam rangka menegakkan berbagai pilar yang perlu disepakati bersama serta diaktualisasikan untuk membangun kerukunan antarumat beragama.