(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Dakwah Gus Miftah

Horizon

Oleh: Ahmad Alfarobi

Mahasiswa Sosiologi, UIN Sunan Ampel Surabaya 

  

Dakwah Keberagaman Gus Miftah

  

Dakwah mempunyai arti mengajak kepada kebaikan juga merupakan aktifitas yang sangat penting dalam Islam. Melalui dakwah, Islam dapat tersebar dan diterima oleh manusia. Di dalam menjalankan syiar dakwah, dibutuhkan ilmu retorika, yakni bagaimana cara berbicara yang memiliki daya tarik dan mempesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah perasaannya. Ada banyak pendakwah yang memiliki gaya retorika unik, sehingga dapat menarik perhatian mira dakwah, salah satunya adalah Gus Miftah.

  

Gus Miftah, lahir 5 Agustus 1981 di Lampung. Ia tinggal di Yogyakarta dan memiliki jalan hidupnya sebagai penceramah agama. Ia memiliki sebuah pondok pesantren yang berlokasi di Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kalasan. Nama pondok pesantren itu Pondok Pesantren Ora Aji. Menurutnya namaOra Aji yang dalam bahasa Indonesianya tidak berharga, mempunyai makna tidak ada satupun yang berharga di mata Alloh selain ketakwaan. Ia memiliki 70 santri dengan berbagai latar belakang mulai dari mantan napi, mantan pegawai plus-plus, dan mantan pegawai hiburan malam. 

  

Hal yang menarik dari sosok Gus Miftah adalah sasaran tempat atau lokasi dakwahnya. Ia sering kali berdakwah di tempat yang dianggap penuh maksiat, misalnya diskotik. Awal mulanya, ia mendapatkan keluhan dari salah seorang pekerja malam di diskotik yang juga ingin ikut mengaji seperti masyarakat lainnya, namun ia tidak berani karena stereotip buruk terkait pekerjaannya sehiangga selalu mendapatkan gunjingan. Akhirnya, Gus Miftah menghadap manajemen diskotik untuk menyatakan niatnya berdakwah di tempat tersebut. Hasilnya, banyak para pekerja malam yang "berhijrah". 

   

 Di dalam cuplikan salah satu channel Youtube tv amatir01, Gus Miftah berdakwah di  club malam, ia menyatakan “Rekan-rekan sekalian yang berbahagia, yang belom pakai kerudung sekarang pakai kerudung, mudah-mudahan pakai kerudung selama-lamanya. Saya khawatir dengan bapak yang pakai masker, jangan-jangan msc, apa itu msc?merokok sak cangkemme. Ini mas-masnya sebagai umat Allah SWT, karna apa, yang berhak memberikan penghakiman itu cuma dia. Aku tau dengan segala kekuranganku, aku ga punya kelebihan. Dulu saja ketika saya melamar istri saya, saya dilarang sama orang tua saya, saya pernah dibilang kafir, dajjal, iblis, gapapa. Pokok e aku wani, sing ora wani mung siji, tombok. Dengan segala kekuranganku, bolehkan berbagi seperti ini, maka saya bilang kalian boleh menghujat aku, mengatakan aku kafir, mengatakan aku setan, aku iblis, demit, dajjal sekalipun, tapi ingat jangan pernah ganggu kawan-kawan saya di dunia malam, seperti untuk kembali bermesraan dengan Allah SWT”. 

  

Setiap kali berdakwah, Miftah Habiburahman atau sering dikenal Gus Miftah menggunakan unsur-unsur dari retorika seperti, kontak visual dan kontak mental dengan khalayak, vokal, gerak tubuh. Misalnya, ia melakukan kontak visual dan mental dengan emberikan pandangan yang penuh dengan perhatian terhadap mitra dakwah mitra dakwah. Selain itu, vokal diperdengarkan sangat memperhatikan irama dan jeda yang tepat untuk berhenti, gerak tubuh yang diperlihatkan dengan posisi tenang dan tegap mempengaruhi suasana saat berdakwah. Gus Miftah sering kali menggunakan kemeja rapi saat berdakwah, sehingga menunjang kesan tenang saat menyampaikan materi dakwahnya.