(Sumber : dakwahindonesia.com)

Dakwah Ulama Era Pandemi: TGB, Covid-19, dan Etika di Ruang Publik (Bagian Keempat)

Horizon

Oleh: Samsuriyanto

(Pemerhati kajian dakwah. Penulis buku Dakwah Lembut, Umat Menyambut (2020), dan enam buku lainnya)

  

Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., lahir di Pancor, Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 31 Mei 1972. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah ini adalah putra dari HM. Djalaluddin, SH., dan Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Majid. Tuan Guru Bajang (TGB) adalah ulama yang juga memberikan ceramah tentang adab di ruang publik mencegah Covid-19. Selain itu, ahli tafsir ini juga memotivasi umat saat beribadah di rumah dengan keheningan era pandemi, agar lebih semangat seperti beribadah dengan keramaian. 

  

Etika dan Kepedulian di Ruang Publik

  

 “Maka saya ketawa melihat ada yang viral-viral kan. Naik motor di-stop dia gak pakai masker. Kenapa gak pakai masker? Marah dia. Loh saya yakin ndak apa-apa, katanya,” ungkap TGB dalam Youtube Hubbul Wathan TV dengan judul Nasehat TGB  untuk Anda yang Tidak Percaya Covid dan Tidak Taat Protokol Kesehatan. Samsuriyanto (2021: 1) dalamPalestina: Komunikasi Kemerdekaan dan Tragedi Kemanusiaan, menegaskan bahwa dalam Islam, perang saja mengajarkan etika, seperti dilarang membunuh masyarakat sipil, dan lain-lain. Apalagi jika dalam keadaan damai, termasuk di era pandemi harus mengedepankan adab di ruang publik, sehingga tidak menghilangkan nyawa dan merugikan orang lain. 

  

Model masyarakat di atas tentu egois dengan diri sendiri, dan tidak memiliki kepedulian sosial kepada orang lain. Menurut alumni S1 hingga S3 di Universitas al-Azhar Mesir ini, kalau kita yakin dan tidak keluar rumah, maka tidak masalah jika tidak menggunakan protokol kesehatan. Silahkan saja jika kita mempunyai seribu satu keyakinan tapi diam di rumah. Tapi ketika keluar, maka kita terikat dengan adab-adab sosial. Salah satu adab ketika kita keluar dari rumah berjumpa dengan orang adalah la darar wa la dirar, jangan jadi orang yang bisa menularkan sesuatu yang tidak baik.

  

Bagi Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia ini, masyarakat bolehmemiliki berbagai macam pendapat dan keyakinan, baik menganggap Covid-19 ini tidak ada, tidak akan terpapar dan tertular. Bahkan mereka meninggal sendiri di rumah juga itu urusannya. Tapi begitu mereka keluar dari rumah, menggunakan jalur publik seperti jalan, pasar bahkan ke masjid harus memiliki etika. Maka terikat dengan kaidah Islam la darar wa la dirar. Artinya manusia bukan semaunya di ruang publik, berbeda jika di rumahnya sendiri maka akan bebas melakukan apa saja. 

  

Alumni Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor 1992 ini lebih lanjut mengutip hadis bahwa, la yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsih. Artinya, tidaksempurna iman seseorang kecuali dia menginginkan orang lain mendapat kebaikan sebagaimana dia ingin dirinya dapat kebaikan juga. “Anda ingin mendapat penyakit? Kan tidak. Tapi kok anda tidak jaga saudara anda. Anda ingin sehat? Ingin. Tapi kok anda nggak peduli sama keadaan saudara anda yang lain,” tanyanya yang masih dalam Youtube Hubbul Wathan TV. 

  


Baca Juga : Tari Jaranan: Kreasi Sunan Ngudung Untuk Berdakwah

Jadi, menurut peraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude ini, kita memiliki tanggung jawab ketika berada di ruang sosial. Tanggung jawab ketikakita berada di ruang muamalah dan ruang publik adalah dengan kaidahla darar wa la dirar, tidak membahayakan diri dan orang lain. Baik alam konteksumum, terutama saat pandemi  seperti ini. Jika kita sudah mengamalkan kaidah ini, maka disebut sebagai ummatan wasathan, yang bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

  

Spiritualitas dan Keheningan era Pandemi

  

“Saya beberapa kali menyampaikan dalam diskusi-diskusi dan sharing bapak-bapak, saudara-saudara sekalian. Bahwa dalam masa pandemi ini, justru kita diberi peluang oleh Allah SWT untuk mengasah lagi spiritualitas kita,” ungkap TGB dalam Youtube Tuan Guru Bajang dengan judul Mengasah Spiritualitas di Tengah Pandemi.  Spiritualitas dalam arti keberserahan diri kita kepada Allah. Selain itu juga mengembalikan makna iman kepada sesuatu yang paling hakiki dari iman tersebut, yaitu hubungan individual manusia kepada Allah SWT. 

  

Oliwia Kowalczyk dkk., (2020: 2676) dalam Religion and Faith Perception in a Pandemic of COVID-19, menegaskan bahwa masyarakat modern, sebelum pandemi Covid-19, berfokus terutama pada tubuh dan kesejahteraan. Orang yang mengalami ketakutan, penderitaan, atau penyakit sering kali mengalami pembaruan spiritual (spiritual renewal). Mungkin sedang dibentuk generasi virus corona (generation of coronavirus) di mana perkembangan spiritualitas akan melahirkan sikap dewasa berdasarkan kebenaran dan kebebasan.

  

Bagi peraih penghargaan The Best Dedicated Governor in Developing of MICE Industry, kadang-kadang kita lupa antara tujuan dan sarana. Tujuan yang paling utama ketika kita beragama adalah membangun hubungan yang kokoh dan kuat dengan Allah SWT. Kita sering kali menjadikan sarana sebagai tujuan. Ketika ada syiar-syiar dalam keramaian, maka kita beragama dalam keramaian sehingga membentuksemangat luar biasa. “Ketika kita berada dalam keramaian, kerumunan, rasanya Islam kita sudah pol-polan. Sudah kata orang Mesir itu mi’ah fil miah. Sudah seratus persen. Udah baik betul kita,” tambahnya masih dalam dalam Youtube Tuan Guru Bajang. 

  

Tentu berbeda ketika kita berada dalam kesendirian, keheningan seperti ketika kita dalam situasi pandemi ini. Menurut Gubernur NTB 2008-2018 ini, apakah kita bisa menjaga kesungguhan, keseriusan dan semangat ketika kita dalam kerumunan, dalam ibadah kesendirian kita? Dalam Covid-19 ini, salah satu hikmahnya adalah kita diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menumbuhkan kembali spiritualitas kita ditengah kesendirian. Kita bermunajat,berserah, berdoa, dan mengadu kepada-Nya. Sehingga kita mengembalikan makna agama dalam sisi yang paling substantif dan paling esensial. (Lebih lanjut baca www.nwdi.or.id dengan judul Ketua Umum PB NWDI).

  

Referensi: 

  

Oliwia Kowalczyk et al., “Religion and Faith Perception in a Pandemic of COVID-19”, Journal of Religion and Health, 59, 2020. 

  

Samsuriyanto, “Benarkah HAMAS itu Teroris?”, dalam Palestina: Komunikasi Kemerdekaan dan Tragedi Kemanusiaan. ed. Andina Firmandari Imani, Surabaya: Inoffast Publishing, 2021, Cet. 1.