(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Ekspresi Keagamaan dalam Moderasi Beragama

Horizon

Oleh: Fanisa Budiani 

Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Dewasa ini, banyak bermunculan gerakan minoritas islam ekstrimis yang semakin menunjukkan eksistensinya. Disebut minoritas karena jumlahnya yang sedikit akan tetapi melakukan pergerakan yang sangat signifikan dari waktu ke waktu. Mereka menghancurkan tempat dan manusia yang mereka anggap sebagai lawan. Yang baru-baru ini terjadi yaitu gerakan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar. 

  

Ditengah mewabahnya gerakan minoritas islam ekstrimis itulah, kemudian munucul gerakan jihad yang disebut Moderasi Beragama. Moderasi Beragama ialah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku yang menyimpang yang tidak di ajarkan di dalam agama. Jadi, bab Moderasi Beragama ini dimaksudkan untuk menggencarkan perlawanan terhadap para Islam ektrimis tetapi melalui cara yang intelektual yaitu penanaman kesadaran untuk pemuda/i dengan kajian keislaman yang baik dan benar.

  

Tantangan moderasi beragama di Indonesia sedang memasuki era baru, yaitu semakin menguatnya kelompok ortodoks dan ultra ortodoks. Dengan jumlah yang semakin banyak, berdasarkan survei dari Indonesia Muslim Report (2019) disebutkan bahwa kelompok ortodoks sudah mencapai angka 25,%, dan kelompok ultra ortodoks sudah mencapai angka 11,6%. Seiring dengan semakin menguatnya media sosial, mereka juga dapat meraup banyak simpatikdari audience. Dan adanya tantangan-tantangan lain sepertigerakan pemahaman Islam transnasional, gerakan pemahaman Islam yang mengusung tema jihad,dorongan semangat kekerasan, gerakan praksis Islam yang bercorak transnasional, gerakan praksis Islam untuk  melakukan jihad, gerakan antitoleransi yang semakin menguat, dan gerakan anti lainnya dalam kehidupan sosial.

  

Anak muda harus belajar sejarah, terutama proses islamisasi di tanah Jawa. Jangan karena belajar di tempat non-Jawa misalnya Arab, lalu ingin menjadikan dirinya sebagai Arab. Hal itu tidak dapat dilakukan karena pada dasarnya setiap daerah memiliki budayanya masing-masing yang sesuai dengan keadaan politik, ekonomi, dan lingkungan sosial yang relevan dengan lingkungan alamnya. Begitu juga degan masyarakat jawa, tidak bisa dipaksa harus menyerupai Arab karena keduanya memiliki ciri yang berbeda. Kita perlu belajar pada para Walisongo yang berhasil mengenalkan islam kepada masyarakat kejawen secara cerdas, elegan, dan kreatif tanpa menghilangkan kebudayaan-kebudayaan asli masyarakat kejawen. Karena Islam tidak pernah datang pada wilayah yang kosong budaya, sehingga Islam harus selalu dapat beradaptasi dengan lingkungan setempat dan dapat dikolaborasikan.

  

Para waliyullah menggunakan konsep hangajawi (menjadi Orang Jawa) dan bukan hangarabi (menjadi orang Arab). Istilah Hangajawi merupakan konsep yang terdapat di dalam berbagai Babad. Para wali dengan sangat arif justru memasuki relung kebudayaan Jawa dan melakukan perubahan secara gradual dan sistematis untuk mengubah kebudayaan tersebut dan menyesuaikan dengan ajaran Islam.Cerita wayang di dalam tradisi Hindu lalu diubah menjadi tradisi Islam nusantara. Wayang digunakan sebagai media berdakwah sebab wayang merupakan tradisi Jawa yang sangat merakyat di masa itu. Jadi, bukan mengharamkan wayang tetapi mengubahnya dan menyesuaikan dengan ajaran Islam.

  

Menjadi Jawa harus menerjemahkan teks Islam dengan pemahaman yang relevan dengan tradisi Islam dan juga tradisi. Sehingga memahami ajaran islam tidak melalui teks akan tetapi sesuai dengan konteksnya. Hangajawi juga orang Islam tetapi memakai blangkon, sarung, celana panjang,  slametan, tabarukan, nyekar, wayangan, klenengan, dan tradisi Islam nusantara lainnya. Ini juga yang biasa disebut dengan ekspresi keagamaan. 

  

Islam secara murni ialah aturan yang tertulis didalam al-Qur’an, mengenai aalat, zakat, puasa, haji bila mampu, mengimani Allah SWT, malaikat, nabi dan rasul, serta qadha dan qodhar. Itu semua merupakan syari’at islam murni yang wajib kita lakukan tanpa perubahan dan pengecualian. Sedangkan dimana pun islam berdiri, disitu juga islam menyesuaikan dengan adat dan kearifan lokal setempat. Seperti pengucapan Allah SWT dalam islam universal, namun pada masyarakat jawa menyebutnya Kanjeng Gusti, atau Gusti Pangeran. Sebenarnya sama saja menyebut Allah tetapi dengan ekspresi yang berbeda.

  

Islam Arab dan islam Jawa tentu berbeda. Begitu juga Islam Korea dengan Islam Rusia juga berbeda. Mengapa demikian? Karena dimana pun islam, disitu bumi dijunjung. Artinya, Islam menyesuaikan dengan adat,yang penting bahwa yang dilakukan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bukan menjadi Hangarabi atau menyesuaikan segala sesuatu sesuai dengan budaya arab. Menjadi Arab dalam beragama Islam harus dimaknai menjadi orang Islam dalam keyakinan tentang Allah, meyakini Kenabian Muhammad SAW, dan prinsip-prinsip Islam mendasar lainnya. Jadi tidak hanya melihat dari penampilan luar saja tetapi juga inner looking, tidak terpaku pada simbol tetapi harus melihat substansinya. Boleh berkeinginan menjadi seperti Arab akan tetapi tidak diperbolehkan menyebarkan gagasan yang memaksa orang lain untuk sesuai dengan dirinya. Dan tidak melakukan monotafsir atau menganggap dirinya yang paling benar.

  

Jadi sebagai generasi muda, sudah saatnya kita membrantas wabah wabah gerakan ekstrimis yang mengatasnamakan agama islam dengan cara yang elegan yaitu menyebarkan dengan gencar melalui media sosial mengenai apa itu islam, bagaimana islam bekerja, dan menanamkan kepada semua orang bahwa islam itu tidak keras dan tidak harus menjadi Arab. Islam itu rahmatan lil alamin, maka dimana pun islam berdiri, disitulah diperoleh rahmat Allah dan kedamaian. Itu juga disebut dengan ekspresi keagamaan, jadi agamanya tetap islam hanya saja cara mengekspresikannya berbeda beda sesuai dengan adat istiadat yang ada.