(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Era Ruralisasi Industri Keuangan Syariah: Gajah Lawan Semut?

Horizon

Oleh: Aang Kunaifi

(Mahasiswa S3 Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Jika di era orde baru ada istilah ABRI masuk desa dan listrik masuk desa, maka di era millennium saat ini Bank Syariah pun masuk desa. Itulah kira-kira istilah yang pas untuk menggambarkan kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) pada awal bulan ini. Bank yang lahir melalui merger tiga bank syariah milik BUMN yaitu BNI Syariah, BRI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri sangat diharapkan untuk mendukung kinerja nasional dengan menggarap sector UMKM. Tak tanggung-tanggung, dengan modal Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 18,3 triliun, 2.000 karyawan, dan 186 outlet BSI Jawa Timur juga optimis mampu mencapai target pertumbuhan sebesar 11% pada tahun 2021. Artinya, BSI Jawa Timur menargetkan adanya pertambahan DPK baru sebesar Rp 2,1 triliun dan produktivitas pembiayaan sebesar Rp 1,7 triliun tahun ini. Angka pertumbuhan 11% bagi perbankan syariah merupakan angka yang fantastis, mengingat selama lima tahun terakhir produktivitas bank syariah secara nasional cenderung stagnan.

  

Peneliti perbankan syariah, Tika Arundina menyebutkan dalam Republika edisi 17 Februari 2021 bahwa BSI harus mampu menggarap pasar baru serta mengembangkan opsi akad transaksinya. Pasar baru yang dimaksud adalah sector sekuritas dan pasar modal syariah, mengembangkan akad tidak hanya jual beli, melainkan juga akad mudharabah muqayyadah. Namun kedua opsi tersebut masih merupakan hal yang berat untuk dilakukan. Opsi pertama membutuhkan modal besar dan ekosistem yang kondusif, sementara opsi kedua memiliki risiko yang tinggi. Karenanya wajar jika Regional CEO Surabaya BSI mencanangkan pencapaian pertumbuhan di Jawa Timur melalui penetrasi pasar pondok pesantren. Menurutnya, Jawa Timur memiliki spot strategis bagi BSI dengan eksisting 4.000 pondok pesantren dan warga mencapai lebih 1 juta orang. Melayani UMKM yang ada di lingkungan pesantren, pihaknya optimis target pertumbuhan 11% bisa tercapai.

  

Apabila strategi tersebut benar dijalankan, maka peta persaingan bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS), koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah (KSPPS), atau baitul maal wat tamwil (BMT) akan memasuki babak baru. Penetrasi BSI yang berstatus bank umum syariah akan mewarnai kompetisi pasar industry keuangan syariah di pedesaan. Ruralisasi bank umum syariah akan menjadi challenger di pasar tersebut dengan kekuatan modal, fintech, pelayanan, dan excellent performance. Selama ini, pasar keuangan syariah di pedesaan dan pesantren dikuasai oleh BPRS, KSPPS atau BMT yang sebagian besar lahir dari lingkungan pesantren, sebut saja misalnya BMT UGT Sidogiri, BMT NU Jawa Timur, KSPPS NURI Jatim, dan ratusan KSPPS yang dibidani pondok pesantren. Walaupun keberadaan mereka lebih awal, namun BSI dengan modal dan performancenya lebih menarik bagi masyarakat yang berfikir rasional, seperti kesempatan memperoleh margin pembiayaan yang lebih murah dan pelayanan yang lebih prima berbasis digital. Tak ayal, BSI dengan 186 outletnya akan menjadi tantangan baru bagi BPRS maupun KSPPS. 

  

Penetrasi BSI ke pasar pedesaan dan pesantren merupakan fenomena ruralisasi industry keuangan syariah yang akan memengaruhi persaingan baru di pedesaan. Selama ini BPRS dan KSPPS mengandalkan pendekatan emosional dalam meningkatkan produktivitas masing-masing. Ada yang melakukan pendekatan komunitas organisasi, ada pula yang optimis melalui pendekatan alumni lembaga pondok pesantren. Bermainnya BSI dengan 186 outletnya di pasar tersebut akan mengubah peta persaingan yang selama ini diwarnai oleh beberapa BMT misalnya UGT Sidogiri dengan 200an outletnya, BMT NU Jawa Timur dengan 80an outletnya, atau NURI Jatim dengan 22 outletnya, serta BMT lainnya yang sebagian besar eksis dengan kekuatan pasar emosional alumninya. Secara umum perubahan kompetisi yang semula antara pasar emosional berubah menjadi kompetisi antara pasar rasional versus emosional, institusional versus personal, digital versus kultural, dan formal versus tradisional.

  

Sebagai bank umum syariah, wajar jika Ali Muafa (Regional CEO Surabaya BSI) akan menggarap potensi pesantren secara kelembagaan atau institusional (B to B). Ini ibarat menangkap ikan dengan memegang kepalanya, walhasil cara ini paling efisien dan paling rasional daripada bermain secara eceran. Tentu ini akan mengganggu loyalitas masyarakat terhadap BMT yang sekian lama telah melakukan cara persuasif terhadap tokoh-tokoh pesantren. Pengaruh keseimbangan pasar berikutnya adalah lahirnya kembali motive rasional masyarakat terhadap produk lembaga keuangan syariah. Selama ini BPRS dan KSPPS bermain pada level margin 1,5-2% per bulan atau 1% perbulan untuk BPRS, margin yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan bank kovensional. Kekuatan emosional menguntungkan BMT dan BPRS, namun hadirnya BSI  akan mengganggu rasionalitas masyarakat. Selisih margin yang signifikan dipastikan mengalihkan pelanggan kepada level margin yang lebih rendah.

  

Di sisi yang lain penggunaan digitalisasi fintech BSI serta performance formal standar layanan perbankan yang lebih mapan dan teruji menjadi sentiment tersendiri. Pendekatan kultural dan tradisonal dalam komunikasi dan pelayanan BPRS maupun BMT yang selama ini telah diterima dengan baik akan berubah dengan kehadiran digitalisasi dan performance unggul BSI. Kegandrungan masyarakat pada teknologi komunikasi akan sangat akomodatif terhadap penggunaan fintech. Ada unsur gengsi dan kebanggaan tersendiri ketika mereka bertransaksi secara digital. Jika tidak diimbangi dengan baik tentu hal ini akan menambah skor kekalahan BPRS atau BMT.

  

Jadi, apakah sang gajah BSI akan menang telak dengan si semut BPRS dan BMT? Tentu tidak semutlak itu! Untuk benar-benar melakukan pentrasi yang sempurna, BSI harus berinvestasi besar dan mengeluarkan high cost, berbeda dengan BPRS atau BMT low cost dalam operasionalnya. Artinya secara ekonomis untuk benar-benar head to head dengan BPRS atau BMT di pasar pedesaan dibutuhkan analisis yang lebih mendalam. Sehingga dalam jangka pendek pendekatan B to B merupakan alternative terbaik. Bagaimana dengan BMT khususnya yang berbasis atau lahir dari pesantren? Sebaiknya segera melakukan negosiasi untuk bermitra secara win-win solution, tidak menjadi competitor secara head to head. Melakukan refunding dan refinancing merupakan strategi bijak untuk sama-sama mendapatkan keuntungan dalam menyikapi ruralisasi industry keuangan syariah. Selanjutnya, terserah masyarakat untuk menentukan pilihannya.