(Sumber : Liputan6.com)

Kala Rasio Tidak Manusiawi: Pernikahan Manusia Dengan Binatang

Horizon

Oleh: Novie Andriani Zakariya*

  

Kehadiran media sosial melalui berbagai platform telah banyak berdampak pada perubahan sosial masyarakat. Media sosial sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan setiap orang. Berbicara soal perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang saat ini berkembang pesat. Youtube adalah salah satu media sosial yang banyak digemari oleh masyarakat, maka tidak heran youtube sangat dingandrungin oleh masyarakat. Menjadi seorang Youtuber saat ini memang bisa dibilang sebuah profesi. Alasannya pun bermacam-macam, mulai dari tantangan untuk bisa terus berkreativitas, tidak terikat jam kerja, bisa mengikuti perkembangan zaman, dan tentunya menghasilkan uang. Apalagi kalau jumlah penonton dan pengikutnya sudah mencapai ribuan hingga jutaan orang.

  

Hal apa saja bisa kita temukan di youtube, mulai dari tutorial hingga hiburan. Sekecil dan sereceh apapun konten yang dibuat akan sangat bermanfaat bagi mereka yang butuh konten tersebut. Menurut saya, bukan hanya dengan menulis kamu akan abadi, tapi dengan berkonten kamu juga akan abadi, bahkan manfaatnya bukan lagi untuk orang lain, juga untuk si pembuat konten karna menghasilkan uang serta menjadi ilmu jariyah (untuk konten yang mengedukasi) dan menjadi amal jariyah (untuk konten yang menghibur). Tidak hanya amal dan ilmu jariyah, youtube juga dapat membawa diri larut dalam dosa jariyah.

  

Tidak dapat juga dipungkiri bahwa youtube juga banyak digunakan untuk hal-hal yang unfaedah. Maka dari itu youtube harus memiliki nilai akhlak agar dapat menyajikan konten-konten yang baik bagi masyarakat. Pada zaman sekarang media sosial youtube sangat minim nilai-nilai akhlak, hal ini dilihat dari banyaknya konten-konten yang kurang baik dalam menyajikan tontonan baik dari segi kata-kata, perilaku maupun hal lain yang tidak sepantasya dipertontonkan. Banyak sekali youtuber yang membuat konten unfaedah tetapi memiliki penonton yang banyak. Konten unfaedah tersebut harus diperhatikan apa saja dampak negatifnya.

Baca Juga : Marbot

  

Kurang bijaknya dalam penggunaan teknologi sering kali menimbulkan dampak yang serius bagi para pengguna. Sebagai contoh, konten manusia menikah dengan kambing yang diunggah di akun youtube Mata Lensa Gresik dengan judul “Gresik Gempar! Heboh Pria Menikah dengan Kambing”. Konten penistaan agama, kemanusiaan, budaya dan pencemaran nama baik akan mempengaruhi pertumbuhan iman penontonnya.

  

Dikutip dari berita INDONESIATODAY.CO.ID bahwa, dalam video memperlihatkan prosesi akad nikah secara adat yang sakral. Tampak mempelai pria mengenakan setelan hitam dan blangkon hijau. Tak hanya itu, kambing betina berwarna putih itu juga didandani menggunakan kalung bunga seperti pengantin pada pernikahan umumnya. Layaknya pernikahan sungguhan, pernikahan pria dengan seekor kambing tersebut juga dihadiri para tamu undangan, dihias dengan dekorasi lengkap, serta disediakan seserahan. Pria yang menikahi kambing, yakni Satrio Paningit alias Arief mengatakan, pernikahan dilakukan demi menjaga dan mempersatukan Bumi Nusantara dan Bumi Pertiwi. Arif mengaku menerima  petunjuk alias wangsit untuk menikahi si kambing, yakni Sri Rahayu sekitar setahun yang lalu. Menurutnya dengan menikahi kambing, ia yakni tidak akan ada lagi adu domba. Terlebih, ia beberapa waktu lalu sering mendapat wangsit atau bisikan agar segera menikahi kambing. Peristiwa tersebut difasilitasi seorang anggota dewan. Banyak orang yang mengecam, namun kemudian diketahui jika pernikahan ini dilakukan hanya demi konten. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap aksi pria menikahi kambing di Gresik merupakan perbuatan haram, meski untuk konten. Sebelumnya, Muhammadiyah dan NU juga sepakat mengecam aksi manusia menikah dengan kambing betina tersebut. Ketua MUI Gresik, KH Mansoer Shodiq mengatakan, pria menikah dengan kambing merupakan perilaku menyimpang dan dosa besar. Partai NasDem Gresik menegur dua anggotanya yang terlibat ritual pria menikahi dengan kambing. Mereka adalah Nurhudi Didin Arianto dan Moh Nasir.  Sehari sebelum ritual itu, Nurhudi mengundang koleganya karena akan ngunduh mantu di padepokannya yang ternyata pernikahan antara manusia dengan kambing.

  

Beredarnya konten-konten unfaedah seperti ini karena kurangnya pemahaman agama pembuat konten yang akan berpotensi merusak kehidupan umat, sehingga hal ini menjadi penting untuk dicarikan solusinya. Apalagi berkaitan dengan keagamaan. Melihat dampak serius yang terjadi di atas mensyaratkan bahwa para youtuber dituntut memiliki kemampuan teknis penggunaan internet yang mumpuni untuk menyajikan konten-konten yang menarik melalui perangkat digital, tidak hanya menarik tapi juga yang berfaedah. Islam melarang bahkan mengharamkan pernikahan manusia dengan hewan. MUI mengeluarkan fatwa Tindakan manusia menikahi hewan merupakan tindakan yang menyalahi syariat Islam kerena sudah menistakan agama Islam. Bahkan menurut KH Mansoer Shodiq, apabila pelaku meyakini benar ritual pernikahannya itu maka sudah keluar dari Islam alias murtad. Pernikahan nyeleneh itu, menggunakan tata cara nikah secara agama Islam di luar akal sehat.

  

Pemahaman terhadap agama di era digital menjadi sangat penting. Tantangan yang dihadapi umat beragama dalam merespon era digital. Kehadiran era digital telah membawa banyak pengaruh terhadap sudut pandang keagamaan, di antaranya dapat mempengaruhi perilaku nyeleneh yang telah berkembang banyak karena kehadiran teknologi digital. Para pemimpin agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Penguasaan konten dan sikap dalam menanggapi era digital akan sangat membantu dalam memahami agama itu sendiri. Penguatan nilai-nilai agama sangat diperlukan. Minimnya aqidah Islam dalam berkonten mengakibatkan dampak negatif, tidak hanya kepada penonton tatpi juga pembuat konten, yaitu cemooh masyarakat dan bahkan merugikan youtuber itu sendiri, seperti contoh kasus di atas mengakibatkan pihak yang terlibat di dalam pembuatan konten terkena pasal 45a ayat 2 UU ITE jo pasal 156a KUHP Jo 55 KUHP. Alangkah baiknya kita berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi ke depannya.

  

Wallahu a'lam bish-shawab

  

*Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya