(Sumber : pinterest)

Kontribusi Nilai-Nilai Islam dalam Mencapai Sustainable Environment

Horizon

Oleh : Amjad Trifita

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 

  

Mengutip dari BBC, Saat ini bumi mengalami tingkat pemanasan yang tingi dalam sejarah. para peneliti di Badan Meteorologi Inggris yakin bahwa pada tahun 2022 sampai 2026 akan muncul rekor suhu terpanas. Peningkatan suhu dari waktu ke waktu tentuya akan mengganggu keseimbangan alam dan menimbulkan dampak bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang. Pergeseran ini mungkin bersifat alami, akan tetapi sejak periode 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan  global, terutama pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi. Manusia lah yang menjadi pelaku utama akan perubahan iklim yang terjadi di bumi. 

  

Berbicara soal manusia, sejatinya manusia ditempatkan di bumi oleh Allah SWT sebagai khalifah, yaitu pemimpin di bumi, yang bertugas untuk menjaga bumi serta isinya. Sayangnya, pada realitanya semakin banyak manusia, semakin banyak pula kerusakan yang terjadi di muka bumi. Manusia telah menyalahgunakan peran tersebut sehingga menimbulkan kerusakan yang dapat mengancam kehidupan semua makhluk yang ada di bumi. Maka pertanyaannya, apakah untuk berbuat kerusakan kah Allah menciptakan manusia sebagai khalifah dibumi ? pertanyaan ini tentunya mengingatkan kita pada salah satu firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30, dalam ayat tersebut Allah telah diperingatkan oleh malaikat, “kenapa Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di bumi, sedangkan kami disini selalu bertasbih, kepadaMu, kemudian Allah berfirman, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Tidak ada yang bisa menolak hak prerogarif Allah, sebab Allah Maha tahu, dan kita sebagai hamba seharusnya dapat menjaga apa yang telah Allah ciptakan untuk kita di bumi ini, karena dari semua ciptaan Allah, manusia lah yang diberikan kekuasaan dan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan di muka bumi ini. Kitalah sebagai manusia yang mampu mengubah lingkungan kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. 

  

Tulisan ini berusaha utuk mengingatkan kembali akan peran serta tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, serta menunjukkan bahwa Islam sebennarnya telah mengajarkan nilai-nilai untuk senantiasa merawat lingkungan, dan kita sebagai seorang muslim ternyata dapat berkontribusi serta memberikan solusi bagi krisis lingkungan yang terjadi sekarang ini.

  

Agama dan  lingkungan 

  

Ilmu pengetahuan dan teknologi memang sangat diperlukan dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan,  akan tetapi dua hal tersebut tidak lah cukup, seperti yang disampaikan oleh Mary Evlyn Tucker[1], seorang guru besar  agama dari Bucknel University, bahwa selain dua hal tersebut, kita juga memerlukan  agama  untuk  keluar  dari  krisis  lingkungan yang sedang kita hadapi. Menurut  Evlyn,  terdapat lima poin dasar  untuk  menyelamatkan lingkungan dari krisis kerusakan, lima poin penting tersebut adalah Reference, atau keyakinan yang dapat diperoleh dari teks (kitab-kitab suci) dan kepercayaan  yang  mereka  miliki  masing-masing;  Respect,  penghargaan  kepada  semua  makhluk  hidup  yang  diajarkan  oleh  agama  sebagai  makhluk  Tuhan; Restrain,  kemampuan  untuk  mengelola  dan  mengontrol  sesuatu  supaya  penggunaanya  tidak  mubazir;  Redistribution,  kemampuan  untuk  menyebarkan  kekayaan,  kegembiraan  dan  kebersamaan  melalui  langkah  dermawan,  misalnya  zakat,  infaq  dalam   Islam;  Responsibility, sikap bertanggung jawab dalam merawat kondisi lingkungan dan alam.

  

Terdapat hubungan erat antara agama dan lingkungan, khususnya pada peran agama dalam mempengaruhi perilaku manusia terhadap tingkah lakunya dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup di sekitarnya. Agama secara implisit mengajarkan untuk menyadari arti penting menjaga lingkungan bagi kehidupan, karena setiap kerusakan alam, pada akhirnya akan memberikan dampak buruk jangka panjang kepada diri manusia sendiri[2]. Allah telah memperingatkan hal ini dalam surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya:  “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

  


Baca Juga : Jilbab dan Kesempatan Pekerjaan

Pentingnya menjaga kelestarian lingkungan juga telah dicontohkan oleh Rasulullah kepada para Sahabat untuk tidak merusak tumbuhan ketika sedang berperang. Pesan Rasulullah yang disampaikan dalam konteks ini, menunjukkan bahwa dalam keadaan berperang pun Rasulullah tetap memerintahkan kepada para Sahabat untuk memperhatikan lingkungan sekitar, dan tidak melakukan perbuatan merusak yang nantinya akan merugikan generasi di masa mendatang. 

  

Sustainable Environment

  

Kepedulian terhadap isu lingkungan menjadi pembahasan yang sangat penting dalam forum dunia, yaitu upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan pembangunan berkelanjutan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup orang di seluruh dunia[3]. Sustainable development dapat dicapai melalui empat elemen yaitu, Pertumbuhan dan keadilan ekonomi, Pembangunan sosial, Perlindungan lingkungan, dan  Pemerintahan yang baik (Good governance) [4]. Keempat elemen tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Menurut Emil Salim, konsep Sustainable development mengandung arti bahwa dalam setiap gerak pembangunan harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Sustainable development merupakan suatu proses jangka panjang dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dari berbagai generasi. Dalam Our Common Future yang dipublikasikan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987, konsep pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan mereka[5]. Penjelasan diatas dapat digaris bawahi bahwa lingkungan menjadi faktor paling penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. 

 

Deklarasi Islam untuk lingkungan 

   

Perhatian agama terhadap lingkungan dibuktikan dengan dilaksanakannya deklarasi Islam untuk perubahan iklim atau Islamic Declaration on Global Climate Change (IDGCC)  di Istanbul Turki. Deklarasi ini dilaksanakan pada tahun 2015 yang diwakili oleh sejumlah ilmuwan lingkungan hidup dan iklim, akademisi muslim dan ulama terkemuka dunia. Poin pada IDGCC dalam artikel 1.6 menilai bahwa sejak berkembangnya Revolusi Industri, umat manusia telah mengonsumsi sumber daya alam tak terbarukan secara tidak terkendali atas nama pembangunan ekonomi dan capaian peradaban manusia. Akibatnya, tindakan eksploitatif ini membutuhkan waktu 250 juta tahun bagi bumi untuk memulihkan diri [6]. Inilah realitas kerusakan (fasad) yang sudah diperingatkan oleh Allah dalam Al Qur’an sejak dini. Pada poin selanjutnya ditegaskan bahwa perlunya keterlibatan dari semua pihak, mulai dari para pemimpin pemerintahan, ulama, hingga masjid dan lembaga pendidikan Islam untuk bersegera mengambil tindakan dalam kaitan merawat bumi, bersikap bijak terhadap sumber daya alam, serta menyikapi dengan serius fenomena perubahan iklim. 

 

Pentingnya keterlibatan dari berbagai pihak inilah yang membuat masjid, lembaga dakwah, dan lembaga pendidikan Islam beserta pemangku kepentingan di dalamnya menjadi aktor penting dalam menyikapi isu lingkungan. Lembaga pendidikan Islam seharusnya dapat memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai dampak, risiko dan bahaya yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, dan yang paling penting menanamkan sikap dan perilaku dalam menjaga lingkungan. Begitupun dengan peran Masjid, lembaga dakwah, dan ormas-ormas Islam yang memiliki pengaruh cukup besar seharusnya pada saat ini mampu menjadi pendorong kesadaran dan kepatuhan umat tentang pentingnya merawat lingkungan, serta serius dalam menyikapi fenomena perubahan iklim. Mimbar masjid dan pengajian seharusnya dapat lebih intensif menyampaikan kepada umat akan pentingnya merawat dan menjaga lingkungan. Keseriusan dalam menanggapi isu lingkungan dan perubahan iklim dapat dijadikan sebagai salah satu topik syiar dakwah. Inilah hal yang harus menjadi perhatian lebih bagi para pendakwah, karena pada hakikatnya dakwah adalah suatu bentuk upaya untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Perubahan yang dimaksud disini tidak hanya terletak pada aspek keimanan diri terhadap sang pencipta, akan tetapi tentang seluruh aspek yang mempengaruhi kehidupan manusia, termasuk aspek lingkungan, karena dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu merubah tatanan keidupan ke arah yang lebih baik. 

  

 Referensi 

  

[1] Muhammad Ghufron, “FIKIH LINGKUNGAN,” J. Al- Ulum, vol. 10, 2010, [Daring]. Tersedia pada: https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/au/article/view/17/13

  

[2] Fitrian dan Safrilsyah, “AGAMA DAN KESADARAN MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP,” Substantia, vol. 16, Apr 2014, [Daring]. Tersedia pada: http://substantiajurnal.org/

  

[3] Amjad Trifita dan Ridha Amaliyah, “Ruang Publik dan Kota Berkelanjutan: Strategi Pemerintah Kota Surabaya Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs),” Glob. Policy Ed. Khusus IROFONIC, vol. 8, Des 2020, [Daring]. Tersedia pada: http://www.ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/jgp/article/download/2413/1726

  

[4] ICPH, “International Conference on Public Health.” [Daring]. Tersedia pada: http://theicph.com/id_ID/id_ID/icph/sustainable-development-goals/

  

[5] Nike Qithiarini, “Our Common Future,” Oxford University, New York, 2012.

  

[6] Saiful Maarif, “Spirit Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim,” Kemenag, 2021. [Daring]. Tersedia pada: https://kemenag.go.id/read/spirit-deklarasi-islam-tentang-perubahan-iklim-bgebd