(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Krisis "Student Housing" di Holand

Horizon

Oleh: Wahyu Ilahi

Ph.D (Cand) Tilburg University, Belanda 

  

Hari Jumat kemarin, saya pergi ke Gementee (kantor pemerintahan) Tilburg untuk registrasi alamat tempat tinggal baru. Registrasi ini diperlukan untuk pengurusan berbagai keperluan terkait document di sini. Dalam proses registrasi prosedurnya cukup mudah. Sebelumnya saya harus membuat appointment ke kantor Gementee lewat telpon dan tarifnya gratis kalau memakai kartu lokal. Dikarenakan antrian register yang panjang, satu minggu kemudian saya baru mendapatkan jadwal pertemuan. Undangan dan nomer antrian tersebut dikirim lewat SMS dan email yang telah di daftarkan beserta documents penyerta yang harus di bawa. Terkait dengan register alamat baru, dalam keterangannya yang menggunakan Bahasa Belanda, saya harus membawa paspor, Id/MVV/ijin tinggal dan kontrak housing. Dengan seksama mereka akan memeriksa documen kita dengan data yang telah terecord di home-base. Sementara itu, mereka juga memerikasa document surat kontrak rumah perhalaman terutama tanda tangan antara penyewa dan pemilik rumah.

  

Sulitnya mendapatkan tempat tinggal di Belanda

  

Jika di media Indonesia di masa pendemi ini banyak yang memberitakan banyaknya property yang dijual murah terutama di Kawasan elit Jakarta, fenomana ini justru berkebalikan di Belanda. Harga rumah dan sewa saat ini yang melambung tinggi. Justru akhir-akhir ini marak di berbagai media online (dutchreview.com, borgenproject.org, euronews.com, dutchnews.nl dan lain sebagainya) yang mengulas tentang betapa sulit dan mahalnya untuk mendapatkan housing di Belanda. Harga rumah dan sewa rumah secara keseluruhan meroket dari tahun ke tahun. Untuk penjual property perumahan, agen hanya membutuhkan waktu singkat rata-rata 24 hari sudah sold out, sebuah hunian dengan harga yang sesuai ditawarkan.  Dari data CBS (semacam BPSnya-Belanda) dan NVM (sebuah asosiasi agen perumahan Belanda) tahun ini rata-rata kenaikan penjualan dan sewa hunian mencapai 19% dibanding tahun lalu yang masih 13%. 

  

Krisis housing ini juga dialami oleh para orang asing termasuk International student. Dibutuhkah exstra perjuangan untuk mendapatkan tempat tinggal terutama di daerah lingkungan dekat kampus. Kesulitan tersebut ditambah dengan ketika universitas mengumumkan bahwa mulai semester depan semua perkuliahan akan berjalan dengan offline. Hal ini membuat permintaan student housing di berbagai kota pun melonjak tajam. Di berbagai grup media sosial seperti di banyak para calon mahasiswa dan mahasiswa yang kembali dari pulang liburan summer yang mengeluhkan betapa susahnya mencari tempat tinggal baru. Seperti di grup PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) pun juga demikian. Bahkan sampai sekarang ada bebeberapa calon mahasiswa dari Indonesia yang disemester depan harus kuliah belum juga mendapatkan tempat tinggal. Saya sempat mendapatkan pesan di WhatsApp dan dihubungi dari orang tua dari Indonesia yang panik karena anaknya yang ingin kuliah di Groningen sampai saat ini belum mendapatkan tempat tinggal, padahal awal Agustus ia sudah bertempat di Belanda. Dan ia menceritakan betapa susahnya mendapatkan hunian di Belanda untuk anaknya tersebut.

  

Sebenarnya krisis hunian ini, bukan saat ini saja menjadi problem bagi calon mahasiswa baru namum yang sudah menetappun juga memiliki kesulitan yang sama,  apalagi mereka yang akan tinggal short time seperti untuk mahasiswa pertukaran pelajar yang hanya mengambil satu semester atau menunggu lulus dan masa mencari kerja. Kondisi juga ini diperparah dengan ada perubahan tentang ketentuan masa kontrak sewa housing saat ini, yaitu jika pada tahun sebelumnya mereka para pemilik kontrakan masih menerima short kontrak yaitu masa 6 bulan/satu semester minimal namun di tahun ini hanya menerima satu tahun. 

  

Bagi yang sudah tinggal sebelumnya, dua bulan sebelum masa kontrak  habis biasanya pemilik atau agen mereka akan menanyakan kepada tenant/penyewa apakah akan mau memperpanjang kontrak atau tidak. Jika memperpanjang maka penyewa akan memperbaharui kontraknya, namun jika tidak diperpanjang  maka hunian tersebut akan di unggah atau diposting secara public. Ketika sudah di unggah secara publik maka sudah dipastikan langsung sold out dalam waktu singkat.

  


Baca Juga : Menengok Perilaku Toleransi Beragama di Perayaan Natal

Agent Housing Belanda

  

Ketika saya mememutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak saya, maka dua bulan masa kontrak saya habis akan melakukan pencaharian. Pencarian ini semua dengan online tidak ada satupun secara manual. Ada beberapa agent yang saya hubungi. Salah satunya adalah Magis Housing milik Evan School yang menawarkan huniaan khusus pelajar. Mereka menawarkan dua yaitu tipe A dan dan type B. untuk type A hanya diperuntukkann untuk student Evan School dan ini bisa mendapatkan subsidi. Sedangkan type B adalah untuk semua kalangan student yang tidak ada subsidi. Sudah bisa ditebak saya masuk tidak berhasil untuk mendapatkan, dalam keterangannya saya masuk di urutan yang ke-300 pendaftar.  Di Belanda hal yang biasa jika agent perumahan akan melakukan wawancara bagi para calon penyewanya.

  

Kesulitan housing ini sebenaranya saya alami sejak pertama kali studi di negari Kincir Angin ini. Sambil menunggu Visa dan tugas belajar saya, 3 bulan sebelum saya menetap saya sudah active mencari  tempat tinggal melalui berbagai agen baik yang gratis maupun langganan berbayar. Jika sudah ketemu tempat tinggal yang cocok biasanya masalah pertama adalah tentang documen IBN number semacam account bank Belanda. Mereka meminta sebagai referensi. Akhirnya karena tidak ketemu hunian yang saya inginkan saya menghubungi PPI, mereka akan active membantu memberi informasi hunian yang masih tersedia. Saya masih ingat saya baru mendapatkan informasi  tempat tinggal ketika di  hari keberangkatan saya, tepatnya di  ketika menunggu pesawat di bandara Juanda Surabaya. Betapa sangat panic dan rush saat itu. Melalui berkomunikasi WhatsApp yang diberikan ketua PPI saya berkomunikasi dengan sang penyewa. Beruntung saya mendapatkan pemilik langsung yang menyewakan jenis personal jadi semua bisa dikomunikasikan dan orangnya sangat memahaminya. Komunikasi itu berlanjut ketika saya transit di Bandara Sukarno-Hata Jakarta. Dia memimta foto copy paspor saya dan LoA atau surat bukti diterima di Tilburg University. Identitas saya ini selanjutnya ia gunakan untuk membuat surat kontrak rumah yang teregister ke pemerintah Belanda. Ketika saya sudah sampai di Belanda, sang penyewa seorang suami istri  sudah menunggu di bawah pintu masuk apartement. Mereka memberikan kunci serta agreement kontrak yang harus saya pelajari dan tanda tangani. Dan berkata kalau ada kejangalan di kontrak tersebut bisa ditanyakan. Tak terbayangkan di Indonesia sebelumnya bahwa kontrak ini sangat penting untuk mengurus dokumen selanjutnya disini.

  

Dalam mendapatkan hunian, saya termasuk orang yang masih beruntung, walau melalui sport jantung dulu. Cerita dari teman-teman karena mereka  belum mendapatkan housing maka terpaksa mereka akan menyewa di penginapan atau lewat Airbnb dan lainnya, hal ini tentunya akan merogoh kocek lebih dalam lagi. Alternative lain beberapa teman harus menumpang sementara di tempat teman sampai mendapatkan tempat tinggal barunya. 

  

Sebenarnya banyak agent resmi yang menawarkan perumahan untuk para pelajar seperti agent Student Housing Holland, KBT, Talent Squre, atau personal (seperti saya pertamakali tinggal). Masing-masing agent perumahan tersebut punya kelebihan dan kekurangan.  Seperti Student Housing Holland misalnya, yang memiliki hamper 200 unit di Tilburg saja, hanya menyewakan untuk satu tahun dan tidak boleh diperpanjang. Hal sama yang di De Rurmor juga hanya satu tahun masa kontrak dan tidak bisa di perpanjang dan hanya diperuntukkan untuk orang baru pertama kali yang tinggal di Belanda. Talent Square memiliki ketentuan kita harus membayar penuh dimuka  dan itupun masih harus menunggu antrian setiap tahun. Beberapa kali saya daftar di Talent Square selalu sudah full booking. Agent KBT yang terkenal menawarkan beberapa unit hunian murah yang tersebar di berbagai gedung untuk para mahasiswa,  memiliki kelebihan bisa memperpanjang kontraknya tiap tahun tidak ada untuk batasan maksimal. 

  

Sebagai contoh hunian yang sangat familiar diantara komunitas  mahasiswa Indonesia di Tilburg adalah di Statenlaan. Selain murah tempatnya juga sangat stragis yaitu dekat dengan stasiun Tilburg Universiti (7 menit jalan kaki) depan Gedung juga ada komplek pertokoan yang cukup lengakap dan setiap hari kamis digelar pasar kaget yang murah meriah. Jarak ke kampuspun cukup dekat hanya 10 menit jalan kaki 5 menit dengan sepeda onthel. Dikomplek gedung ini pemilik unit yang secara personal. Mereka adalah sepasang suami Istri, dan cukup terkenal dikalangan mahasiswa Indonesia Tilburg. Memiliki 5 unit hunian full furnished dengan tiap unitnya terdiri 5 kamar. Cukup lumayan bersih karena sang pemilik rajin mengontrol kebersihan disetiap unit yang mereka miliki. Istri dari pemilik adalah dari Surabaya, mahasiswa Indonesia memanggilnya Tante Yudit. Ia juga terkenal agak galak dan cerewet terkait kebersihan di unitnya. Dengan bahasa Indonesia campur Belanda, Tante Yudith  sering menegur mahasiswa Indonesia yang tinggal di unitnya jika unitnya kotor dan berantakan.  Walau dikelola secara personal namun semua unit yang ia miliki tereegister. Dan kelebihan perorangan sang penyewa tidak perlu membayar biyaya administrasi atau broker agent dan harga yang ditawarkan lebih murah antara 10 sampai 25 Euro perbulannya. Dengan fasilitas yang lebih lengkap dan bagus, namun unit yang ditawarkan tidak sebanyak agent.

  

Melalui agent-agent yang terdaftar resmi itu sebenaranya keuntungannya bagi tenant atau penyewa  tidak akan tertipu karena mereka dilindungi secara hukum dengan kontrak yang disepakati. Sementara agent resmi ini namun biasanya berbayar untuk mendaftaranya. Ada juga yang tidak  berbayar yang informasinya bisa didapatkan di grup-grup media social. Namun grup ini juga  kadang ada ketidak nyamanan karena kadang menawarkan hanya menerima internasional student hanya untuk Dutch only dan mereka menginformasikannya menggunakan Bahasa Belanda. Namun jangan kuatir baru ini tiba-tiba admin grup membuat peraturan dan peringatan untuk tidak menawarkan hunian yang yang hanya Dutch only. Selain itu di grup ini juga anggotanya juga bisa melaporkan jika terindikasi adanya scammer. Berbagai laporan dan testimoni pengalaman  dan peringatan tentang  housing dan rental scam bisa kita dapatkan.

  

Awas, Housing & Rental Scam 

  

Karena permintaan tinggi maka sudah menjadi hukun alam akan ada banyak berkeliaran penipuan perumahan atau scammer. Terkait dengan penipuan housing,  saya juga punya pengalaman tidak mengenakan berurusan dengan para scammer hunian tersebut. Tepatnya  dua bulan yang lalu, berasal dari grup tak berbayar ada yang menawarkan unit apartementnya. Saya tertarik karena gambar yang ditawarkan cukup bagus dan murah. Dan kemudian saya mengirim pesan di account messenger. Beberapa hari kemudian ia mengontak saya untuk berkomunikasi melalui email. Dengan nama Savanah Muller, ia meminta maaf karena lambat merespon pesan saya. Dengan sangat meyakinkan ia menceritakan tentang dirinya bahwa ia harus pindah ka Jerman karena mendapatkan projek pekerjaan di hotel yang terkenal, dan harus meningalkan unit apartemen yang ia miliki di Tilburg. Untuk itu mengapa ia menawarkan lebih murah. Ketika saya menanyakan bagaimana saya bisa mengecek atau survai unit yang ia tawarkan, ia beralasan kuncinya kebawa dan tidak ada orang yang bisa di titipin. Kemudian ia menawarkan melalui pemrosesan penyewaan lewat jasa Airbnb dengan bermodalkan bahwa ia bekerja di perhotelan jadi memiliki pengalaman yang memadai tentang hal ini. Sekilas cukup rasional dan meyakinkan. Sang penipu juga mengiformasikan bahwa nanti kunci akan dikirim melalui agent Airbnb local untuk keperluan pengecekan, survai dan ketika masuk apartement. Bahasa yang disampaikan sangat terstruktur dengan baik dan terlihat logic. Melalui Airbnb, prosedur yang ia tawarkan sang penipu cukup mudah dan rasional hanya membayar doposit satu bulan dan 2 bulan kontrak selanjutnya kita bisa memperpanjang nya secara personal.

  

Namun, kecurigaan saya muncul ketika ia sangat ngotot minta copy identitas, IBN dan pekerjaan saya. Alasannya adalah untuk membuat draf kontrak yang akan di registerkan ke Gementee. Namun ketika saya memintanya alamat web Airbnb nya ia tidak kunjung memberikannya. Selalu ada alasan. Karena penasaran saya akhirnya  mencari informasi di Google, betapa terkejutnya saya, ketika mengecek banyak jenis penipuan hunian  ini disana. Bahkan ketika saya mengecek kalimat yang sempat membuat saya tarlena yang dia kirimkan lewat Email, dengan nama yang berbeda ternyata kalimat dan alur nya persis sama di Google. Dalam hati hampir saja, Alahamdulilah masih dilindungi. Karena ada beberapa mahasiswa yang sudah terlanjur membayar dan setelah di cek ternyata  tempatnya tidak ada alias bodong. 

  

Pentingnya Surat  Housing Agreement atau Kontrak Rumah

  

Bagi yang baru tinggal dokument kontrak rumah ini sangat penting untuk mengurus beberapa dokumen selanjutnya seperti BSN semacam nomer legal kita di pemerintahan. BSN inilah yang bisa kita gunakan untuk membuka account bank dan mendapatkan IBN, dan daftar fasilitas layanan kesehatan, Pendidikan dan layanan publik lainnya.  Hal semacam ini tidak terpikirkan sama sekali ketika masih di Indonesia. Yang terbaru seperti layanan untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 , secara otomatis kita mendapatkan surat dari Gementee di alamat rumah kita yang teregister. Kalau pun kita tidak mendapatkan kita  cukup telfon ke GGD (layangan kesehatan Belanda) dengan menyebutkan nomer BSN kita dan besoknya langsung dijadwalkan vaksin. Setelah itu kita buka aplikasi kita DigiD id dan di aktifkan, dalam 24 jam kedepan akan mendapatkan sertifikat vaksin dan barkot EU dan international paspor  COVID trevel yang bisa kita gunakan kemana saja. Pengalaman teman saya yang telah melakukan perjalanan ke luar Belanda lewat pesawat, ternyata untuk area EU cukup pakai barkot itu saja tampa hasil PCR. Oh yaa layanan PCR Covid-19 untuk perjalanan bisa didapatkan gratis,  tinggal telpon di GGD, lagi lagi dengan menyebutkan no BSN kita membuat janjian dan nantinya hasilnya bisa dikirim lewat Email dan SMS. 

  

Kembali ke agrement kontrak antara pemilik atau agent dengan penyewa, isi pasalnya bermacam-macam tergantung tempat yang kita tingali. Disitu disebutkan fasilitas apa saja yang disediakan apakah termasuk bebas listrik, gas, kebersihan, furniture dan Internet. Calon penyewa harus memiliki deposit satu bulan atau lebih, boleh atau tidak boleh mebawa binatang peliharaan dan lain-lain. Di kontrak kita juga tertera hak dan kewajiban sebagai penyewa. Tentu saja ada pinalti yang harus kita bayar seandainya kita putus kontrak di tengah jalan atau melakukan hal tidak sesuai denagan yang tertera di kontrak. Setiap kontrak masing masing agent akan berbeda. Dokumen  kontrak rumah inilah yang kemudian akan didaftarkan oleh agent atau pemnyewa di Gementee. Jadi data kita sudah terecord disana dengan siapa penghuninya. Data-data kita secara otomatis akan ngelink atau teritegasi dengan semua data kita di Gementee. Sebelum study saya pernah tinggal dalam masa lebih 3 bulan di Laiden dan ternyata nomer BSN saya masih sama masih terecord dengan keterangan dimana saya tinggal sebelumnya kapan saya meningalkan Belanda. Hal ini saya ketahui ketika saya mendapatkan dokumen baru dari Gementee. Sepertinya ketentuan semua documen berlaku untuk hunian di Belanda. Untuk itu sangat perhatikan untuk yang berkeinginan tinggal lebih dari 3 bulan di Belanda. Sebaikanya pemburuan rumah dan pernak-perniknya ini juga menjadi prioritas untuk dipikirkan.