(Sumber : copilot desainer)

Mencari Nilai Moral dan Etika dalam Genosida Israel di Palestina

Horizon

Muhammad Hilmi

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

  

Konflik antara Israel dan Palestina telah melahirkan penderitaan yang berkepanjangan bagi warga sipil Palestina. Satu dari beberapa kejadian yang paling menyedihkan adalah serangan yang dilancarkan oleh Israel di Rafah, Jalur Gaza, pada Sabtu, 25 Mei 2024, yang mengakibatkan kematian puluhan warga sipil di kamp pengungsian Rafah. Kejadian ini dianggap sebagai tindakan genosida oleh banyak pengamat dan pakar internasional. Dalam tulisan ini, kita akan mengulas peristiwa tersebut dari perspektif etika diplomasi dan maqasid syariah, dua konsep universal yang menitikberatkan pada penghormatan terhadap kehidupan manusia dan perdamaian.

  

Etika Diplomatik

  

Etika diplomatik merujuk pada seperangkat prinsip yang mengatur hubungan antar negara dengan tujuan mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional. Prinsip-prinsip utamanya mencakup menghormati kedaulatan negara lain, menyelesaikan konflik secara damai, melindungi warga sipil, dan menghormati hak asasi manusia.

  

Dalam kasus serangan Israel di Rafah, ada argumen yang menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar beberapa prinsip etika diplomasi. Sebab serangan skala besar yang menyebabkan banyak korban sipil jelas melanggar kewajiban melindungi warga sipil dalam situasi konflik bersenjata. Penggunaan kekuatan militer yang berlebihan tersebut dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak proporsional dan tidak mendukung penyelesaian konflik secara damai.

  

Maqasid Syariah

  

Dari perspektif Islam, maqasid syariah atau tujuan-tujuan utama syariah adalah untuk melindungi dan menjaga lima hal pokok: agama, kehidupan, akal, keturunan, dan harta benda. Prinsip ini menekankan penghormatan terhadap kehidupan manusia dan menolak segala tindakan yang dapat membahayakan jiwa orang yang tidak bersalah.

  


Baca Juga : Respon Inklusif Negara atas Konflik Sunni-Syiah di Indonesia

Insiden di Rafah jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip maqasid syariah, terutama dalam aspek perlindungan jiwa. Kematian puluhan warga sipil Palestina, termasuk anak-anak diantaranya merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai hifdzun nafs atau perlindungan jiwa. Sebagaimana perintah dalam Islam yang menyeru untuk menjauhi kekerasan dan mempromosikan perdamaian, terutama bagi sipil yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata.

  

Analisis 

  

Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip etika diplomatik dan maqasid syariah, bahwa tindakan kekerasan secara besar-besaran terhadap warga sipil yang tidak bersalah dalam konflik Israel-Palestina tidak dapat dibenarkan. Kedua konsep ini sejalan dalam menggarisbawahi serta menekankan penghormatan terhadap kehidupan manusia dan penyelesaian konflik secara damai.

  

Etika diplomatik menuntut perlindungan untuk warga sipil dan penghormatan tinggi terhadap hak asasi manusia. Sedangkan maqasid syariah menegaskan bahwa melindungi jiwa merupakan salah satu tujuan utama syariah. Tidak ada alasan yang dapat dibenarkan, baik menurut hukum internasional maupun ajaran agama, untuk melakukan tindakan kekerasan yang merenggut nyawa orang yang tidak bersalah.

  

Solusi/Rekomendasi

  

Langkah yang harus diambil berdasarkan prinsip etika diplomatik dan maqasid syariah, adalah menghentikan segala bentuk kekerasan dan tindakan yang membahayakan jiwa warga sipil. Semua pihak yang terlibat dalam konflik harus berkomitmen untuk melindungi warga sipil dan menghormati hak asasi manusia.

   

Sehingga upaya dalam mendorong dialog damai dan menyelesaikan konflik secara adil melalui negosiasi dan diplomasi harus segera dilaksanakan. Komunitas internasional juga harus turut serta dalam memfasilitasi proses perdamaian untuk mendesak pihak-pihak yang terlibat agar mematuhi hukum kemanusiaan internasional.

   

Hingga pada akhirnya, perdamaian sejati dapat dicapai dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti penghormatan terhadap kehidupan, keadilan, dan toleransi. Sebab baik antara etika diplomatik maupun maqasid syariah, sama-sama menegaskan pentingnya dialog dan perdamaian daripada kekerasan dan peperangan untuk melindungi kehidupan manusia.

  

Dengan memadukan prinsip-prinsip etika diplomatik dan maqasid syariah, kita menggarisbawahi bahwa tidak ada pembenaran untuk segala tindakan kekerasan terhadap warga sipil yang tidak bersalah dalam konflik apa pun. Menghormati kehidupan manusia harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat dalam konflik Israel-Palestina, maupun konflik lain yang terjadi di seluruh dunia.