(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Menjaga Kebinekaan Indonesia Sebagai Kebutuhan (Bagian Ketiga)

Horizon

Dalam sesi tanya jawab ada beberapa pertanyaan dari peserta zoom Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Administratif pada Balitbangdiklat Kemenag. Di antara pertanyaan tersebut ingin saya kembali bahas di dalam tulisan ini untuk mengingatkan kita semua bahwa merawat kebinekaan bagi bangsa Indonesia adalah kewajiban dan kebutuhan semua warga negara Republik Indonesia. Ada pertanyaan dan pembahasan yang dilakukan oleh Fuad Fansuri, Abdul Mujib Adnan, Khoiruman, Mieske, Nasron,  Syahrudin dan Waldy. Saya klasifikasi pertanyaan tersebut dalam tiga hal, yaitu tentang pengakuan orang tentang keanekaragaman Indonesia, lalu tentang medium untuk merawat kebinekaan dan tantangan untuk mengembangkan moderasi beragama.

  

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof. Ahmad Syalaby, Mufti Mesir, penulis buku yang sangat terkenal dan menjadi literatur wajib bagi mahasiswa UIN/IAIN/STAIN, “Islam al Aqidah wa al Syari’ah”, beliau di dalam suatu kesempatan menghadiri undangan kenegaraan di Indonesia pada zaman Presiden Soekarno, Beliau menyatakan bahwa “Indonesia adalah serpihan surga di dunia”. Bagi Beliau bahwa gambaran tentang surga di dalam Alqur’an itu nyaris sebagaimana yang dilihatnya di Indonesia. Air mengalir di sungai-sungai, tumbuhan menghijau sepanjang tahun, hawanya yang segar dan menyegarkan serta alamnya yang khas dengan keindahan, ada gunung, lautan, bukit dan  pepohonan yang rindang dengan sumber daya alam yang sangat menakjubkan. Maka ada sebuah cerita dari Fuad Fansuri, bahwa suatu Ketika dia mengantarkan tamu dari Arab Saudi yang akan menjadi Pendidik di Pesantren. Dalam perjalanan Panjang menuju pesantren, dia melihat betapa indahnya Indonesia dengan pemandangan yang indah luar biasa. Maklumlah Beliau berasal dari Arab Saudi yang tanahnya gersang dan sepanjang hamparan hanya padang pasir. Mula-mula beliau menolak beberapa praktik tradisi karena dianggapnya tidak berdasarkan atas tuntunan Nabi Muhammad SAW dan tidak ada praktiknya di Arab Saudi. Maka seirama dengan perjalanan waktu, maka akhirnya Beliau memahami bahwa yang dilakukan ini bukan pengamalan agama yang maghdloh, dan akhirnya Beliau bisa mengikuti tradisi yang beraneka ragam tersebut. Dari menolak ke menerima dan terlibat.

  

Yang tidak kalah menarik adalah gambaran tantang tantangan moderasi beragama, disebutnya sebagai TBSC atau takhayul, bidh’ah, syirik dan churafat. Tantangan ini semakin kuat dengan menggunakan media sosial. Tantangan ini sungguh tidak main-main. Kenyataannya mereka banyak menguasai media sosial dan memang secara sengaja mengunggah konten-konten yang menyerang terhadap amaliah kaum wasathiyah.  Makanya, kaum wasathiyah juga harus mempertimbangkan betapa tantangannya yang kuat. Diperlukan strategi yang jitu untuk menangkal terhadap gerakan salafisme yang terus menyerang pemahaman dan pengamalan agama. Di media sosial betapa banyaknya konten yang saling menyerang dan bertahan, sehingga jagat media sosial bisa menjadi medan pertempuran paham dan amalan keagamaan. 

  

Selain itu ada juga hal menarik, bahwa yang diwasathiyahkan bukan agamanya, jangan sampai agama diminimal-minimalkan. Agama itu pedoman yang lengkap sehingga ketika wasathiyah dimaknai untuk meminimalkan agama, maka ini merupakan kesalahan. Memang yang diwasathiyahkan adalah pemahaman bahwa kita hidup tidak sendiri, bukan berada di rumah sendiri akan tetapi hidup dalam keragaman. Saya jadi teringat dengan bukunya Diana L. Eck, “Amerika Baru Yang Religius,  Bagaimana Sebuah “Negara Kristen” Berubah  menjadi Negara dengan Agama Paling Beragam di Dunia” (2002) dinyatakan bahwa Amerika sekarang bukanlah Amerika di masa lalu. Masyarakatnya sudah menghargai toleransi dengan baik. Masyarakatnya menyadari bahwa ada orang yang berbeda agama,  ras,  kulit dan  tradisi. Ada orang Sikh, ada orang Islam, ada orang Kristen, ada orang Katolik dan ada orang beragama dengan aneka ragam. Kesadaran baru inilah pantas dilekatkan kepada Amerika dengan sebutan Amerika Baru Yang Religius. Makanya, jangan lihat kebijakan dan politik pemerintah Amerika yang terkadang bertentangan dengan hakikat kemanusiaan, tetapi warga negaranya sungguh sudah berubah.

  

Lalu strategi seperti apa untuk mengembangkan moderasi beragama. Pertama, yang dimoderasikan adalah paham dan praktik toleransi terhadap sang liyan. Sesama bangsa Indonesia, maka haruslah dipandang bahwa di tengah kebinekaan pasti ada yang berbeda satu dengan lainnya. Jadi bukan paham dan pengamalan agamanya yang diminimalisasikan, tetapi pemahaman dan praktek pengamalan agamanya yang harus menghargai ada yang berbeda dengan kita. Dalam ungkapan Alm. KH. Hasyim Muzadi, bahwa “yang sama jangan dibedakan dan yang beda jangan disamakan”. Aqidah dan Syariah harus berbeda dan tidak bisa disamakan. Tetapi memberi pertolongan tanpa keinginan menyebarkan agamanya merupakan hal universal yang harus dilakukan. Ada ajaran moral yang berlaku universal dan sama dalam agama-agama. 

  

Kedua, Pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural penting untuk dikedepankan dengan catatan bahwa para guru memperkenalkan pada dimensi kesamaan etikal dalam agama-agama dan bukan kesamaan aqidah dan Syariah dalam agama-agama. Yang dimensi teologis dan ritual harus ditekankan perbedaannya tetapi yang bisa dirajut adalah aspek kemanusiaan yang memang saling membutuhkan. Kita bisa meminum air yang diproduksi oleh orang beragama lain, asalkan ada kejelasan asal usul air dan  zat-zat kimia atau lainnya yang dipastikan kehalalannya. Yang penting untuk merajut toleransi harus ada keterbukaan dalam hal apapun. Pendidikan multikultural menjadi penting dilakukan untuk memberikan peluang bagi penghormatan dan penghargaan sang liyan di dalam kehidupan sosial. Prinsip yang tetap dipegang adalah sebagaimana ajaran agama, “lakum dinukum waliyadin”, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Ini prinsip teologis dan Syariah yang tidak boleh dilanggar siapapun. Yang Islam harus mengakui hal ini, dan yang beragama lain juga harus mengakui hal itu.

  

Ketiga, belajar tentang konteks Keindonesiaan. Di dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama yang sangat penting adalah memahami secara kontekstual tentang keragaman Indonesia. Kita harus mengedepankan bahwa ajaran agama yang sangat substansial adalah untuk menyelamatkan manusia dan memberikan rahmat bagi seluruh alam. Ajaran kasih sayang sesama manusia, ajaran  kerja sama dalam kebaikan untuk sesame manusia dan ajaran untuk membangun kehidupan yang rukun, harmoni dan selamat harus menjadi acuan bagi seluruh masyarakat beragama di Indonesia.

  

Kita mengandaikan bahwa Indonesia pasti bisa, sedangkan Amerika yang pemerintahannya secular saja bisa melakukannya. Jadi semua kembali kepada keinginan kita untuk hidup rukun atau tidak.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.