(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Moderasi Beragama dan Pancasila

Horizon

Oleh: Naufal Ghani Musyaffa

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Moderasi menurum Imam Shamsi Ali adalah komitmen kepada agama apa adanya, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Agama dilakukan dengan penuh komitmen, dengan mempertimbangkan hak-hak vertikal (ubudiyah) dan hak-hak horizontal (ihsan). Anis Malik Thoha mengatakan bahwa muslim moderat adalah seorang muslim yang memenuhi islamic prinsiple wassatiyah (prinsip moderasi dalam islam) antara lain tidak ekstrim kanan maupun kiri. Hal ini berarti bahwa muslim harus mampu menjaga untuk tidak menggunakan kekerasan, tetapi membawa kedamaian dan rahmat untuk semua alam, juga memahami bahwa islam memiliki hukum yang bersifat dan ada yang bisa berubah atau diijtihadkan sesuai perkembangan jaman, tidak menggunakan pemaksaan, tidak mengkromproikan hal-hal dasar dalam agama. Hal ini untuk menjaga nama suci bergama, mengkompromikan hal-hal yang bersifat fundamental dalam beragama yaitu hidup rukun berdampungan dengan siapapun.

  

Moderasi beragama tidak hanya perlu dikembangkan dalam pola keberagamaan, tetapi dalam cara berpikir tentang negara. Sebab keterkaitan antara negara dan paham keagamaan, sering menimbulkan sikap ekstrim dalam beragama. Untuk itu sanga perlu pemikiran kenegaraan islam yang moderat, yang dapat melampaui formalisasi agama melalui negara pada satu sisi dan pemisahan agama dan negara pada sisi lain.

  

Kemajemukan di berbagai kondisi di Indonesia sangat diperlukan suatu sistem pengajaran yang komprehensif yang bisa mewakili setiap orang yang ada melalui ajaran yang luwes dengan tidak meniggalkan teks, serta pentingnya penggunaan akal sebagai solusi dari setiap masalah yang ada. Indonesia adalah negara yang terkenal kaya akan keberanekaragaman, mulai dari ras, budaya, suku, agama, bahasa, dan sebagainya. Dari hal ini kemungkinan terjadinya konflik sangat besar. Namun sejarah telah membuktikan, bahwa ada sebuah usaha yang bertujuan untuk menciptakan aneka ragam hal ini berinteraksi dengan teratur. Hal ini dirumuskan dalam sebuah dasar negara yaitu Pancasila. Pancasila bertujuan untuk menyatukan keberbedaan menjadi satu dalam konteks saling menghargai.

  

Islam merupakan agama yang mendukung nasionalisme dan kebhinekaan. Seiring dengan proses perjalanan sejarah nasional, islam pun dapat mudah masuk ke Nusantara yang notabene dikenal punya latar belakang sosial dan kultural beragam. Meski kala itu, agama mayoritas yang berkembang ialah Hindu dan Budha, akan tetapi karena Islam begitu luwes dan cinta damai, membuatnya mudah di terima.

  

Moderasi Islam dan Pancasila saling menguatkan satu sama lain, banyak nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika kita sebagai anak bangsa membandingkan, apalagi membenturkan Islam dan juga Pancasila ke dalam ranah kewarganegaraan. Karena sudah sangat jelas, keduanya berbeda dalam banyak segi maupun dimensi, akan tetapi hal tersebut bukan berarti keduanya saling bertentangan satu sama lain. Sejarah telah mengajarkan bahwa jangan pernah sekalipun membenturkan pandangan antara agama dengan ideologi. Apabila hal tersebut terjadi, maka yang tercipta hanyalah berbagai bentuk dari militansi dan radikalisme bangsa, termasuk radikalisme politik.

  

Persandingan antara Islam dan Pancasila harus dibangun sebagai bentuk kontruksi yang saling mengisi satu sama lain, bukanlah kolonial yang saling bersaing dalam menguasai atau berebut dominasi. Pancasila merupakan “grand idea” dan Islam adalah agama yang menjadi mayoritas bangsa Indonesia. Gusdur pernah mengungkapkan bahwa hubungan Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai Ideologi terjalin hubungan saling mengisi dan menyuburkan keduanya. Islam dan Pancasila harus terjalin harmonis, tanpa saling menjatuhkan tatanan dasar satu dengan lainnya.

  

Islam dan Pancasila yang terbangun harmonis dalam sistem demokratisasi Indonesia diharapkan mampu menangkal virus radikalisme politik yang hanya bertumpu pada satu sisi. Nilai-nilai luhur (values) universal yang dimiliki keduanya dapat menjadi kekuatan pengokoh negara Indonesia. pola pikir yang dibangun adalah pola konstruksif bukan pembenturan satu sama lain. Dengan pola kontruksif ini, Islam dan Pancasila disandingkan dan diramu untuk menguatkan nasionalisme. Tentu untuk mewujudkan itu, Pancasila harus mampu hadir sebagai ideologi terbuka dan bersifat fleksibel, serta menerapkan azas umum, bukan azas khusus. Sebagaimana yang dicontohkan al-Qur’an, dimana agama merupakan rahmatal lil alamin, yang tentunya mengajarkan agar cinta kasih terhadap makhluk satu sama lain. 

  

Islam dan Pancasila di Indonesia dapat diibaratkan sebagai satu tubuh, yang ketika disakiti salah satunya akan melukai yang lainnya juga. Pancasila tidak terima jika Islam dihina, begitu juga Islam yang juga sangat menentang tindakan anti-Pancasila. Pendek kata, Pancasila dan Islam saling menjaga dan menguatkan satu sama lain. Nilai-nilai suci nan mulia keduanya saling menyuburkan satu sama lain. Harapannya dengan adanya moderasi Islam dan Pancasila dapat menumpas habis adanya radikalisme politik di Indonesia.