(Sumber : Nur Syam Centre)

"New Style" Perguruan Tinggi di Era Disruptif

Horizon

Salah satu di antara dampak positif Pandemi Covid-19 adalah terjadinya percepatan di dalam penerapan teknologi informasi untuk Pendidikan. Melalui wabah Covid-19, maka Lembaga Pendidikan mendadak IT. Semua dosen dan tenaga kependidikan yang selama ini selalu menggunakan pola konvensional dalam pembelajaran maupun pelayanan,  tiba-tiba harus beralih menggunakan IT. Tidak perduli  dosen senior atau yunior, tenaga kependidikan senior atau yunior, maka semua terkena hukum perubahan yang disebabkan oleh Covid-19 untuk menggunakan zoom, google meeting, google class dan aplikasi lain di dalam program pembelajaran dan pelayanan.

  

Namun demikian, ada suatu pertanyaan dasar, apakah Perguruan Tinggi sungguh-sungguh sudah siap dalam mengelola pendidikan jarak jauh, sebagaimana yang diharapkan terutama di dalam menghadapi tantangan global di masa depan, tidak hanya Pandemi Covid-19 tetapi juga Era Revolusi Industri 4.0, yang memang meniscayakan penerapan IT di dalam program pembelajaran dan pelayanan publik. Pertanyaan ini  kiranya  belum memperoleh respon yang memadai dari para pengambil kebijakan pada level institusi, sehingga tampak masih terjadi respon yang pro-kontra atau sekurang-kurangnya belum merespon dengan seksama. 

  

Memang harus diakui ada banyak kendala di dalam program pembelajaran jarak jauh  berbasis konvergensi tridarma perguruan tinggi. Di antara yang menonjol adalah ketidaksiapan tenaga pendidik dan kependidikan di dalam penggunaan IT. Masih banyak di antara para dosen yang gagap teknologi informasi, apalagi harus merumuskan content pembelajran berbasis IT. Misalnya, harus menyiapkan bahan-bahan pembelajaran yang reevan dengan mata kuliah dan program pembelajaran. Kebanyakan tenaga pendidik masih menginginkan program pembelajaran konvensional, misalnya dengan cara oral atau ceramah yang berbentuk tatap muka. 

  

Sebagaimana yang ditulis oleh Lukito Edi Nugroho, “Konvergensi Tridarma Perguruan Tinggi”, (Kompas, 29/07/20), bahwa diperlukan konvergensi antara tridarma perguruan tinggi, sebagaimana konvergensi di dalam teknologi informasi, yaitu konvergensi 3C (computing, communication and content). Jadi tidak sebagaimana di masa lalu, di mana ketiganya merupakan entitas yang tidak saling menyatu. Makanya, yang dibutuhkan adalah konvergensi tridarma perguruan tinggi sebagai antisipasi atas kebutuhan tenaga kerja di masa depan, yaitu keetrampilan kognitif lanjut,  keterampilan social dan emosional, serta keterampilan teknologi. Di dalam konteks ini, maka diperlukan upaya untuk mengembangkan keterpaduan antara pendidikan/pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat. 

  

Gagasan keterpaduan tridarma perguruan tinggi, sebenarnya telah menjadi gagasan lama terutama di kala ramainya perbincangan mengenai Revolusi Industri 4.0, yaitu di saat perguruan tinggi berupaya untuk melakukan rekonstruksi kurikulum, pengembangan jejaring, penguatan IT dan penguatan lulusan Perguruan Tinggi, dan kemudian ditindaklanjuti dengan gagasan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar. Melalui perubahan konsep-konsep tersebut maka yang diharapkan adalah bagaimana bisa terjadi pemaduan secara mendasar antara program pendidikan/pengajaran dengan riset dan pengabdian masyarakat.

  

Sebagai contoh praksis, program studi sosiologi dapat memberikan pengayaan riset dan pengabdian masyarakat, misalnya dalam pilihan studi resolusi konflik. Maka mahasiswa diperkaya dengan pembelajaran berbasis resolusi konflik dari studi-studi terdahulu, dan kemudian mahasiswa diberikan peluang untuk melakukan riset berbasis resolusi konflik dan kemudian dalam peluang melakukan pengabdian masyarakat, maka mahasiswa dapat berada di daerah pasca konflik untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan  masyarakat. Jika hal tersebut dirumuskan dalam kurikulum maka metodologi dan riset resolusi konflik dapat diberikan selama satu semester, lalu pengabdian masyarakat dalam waktu satu semester. Sedangkan, teori dan kajian terdahulu dapat diberikan dalam satu semester. Semenjak awal mahasiswa sudah diberikan peluang  tentang pilihan-pilihan yang akan dijadikan sebagai keahlian minornya, dan harus dirumuskan di dalam profil lulusan atau standart kompetensi lulusan. Dengan demikian, terdapat tiga semester untuk pengayaan keahlian minor, dan yang lima semester untuk pengayaan keahlian mayor. 

  

Di dalam lima semester ini, mahasiswa diperkaya dengan program pembelajaran ilmu keislaman, ilmu social dan penguasaan IT. Alokasi yang digunakan adalah satu semester untuk pembelajaran ilmu keislaman, dua semester untuk pembelajaran ilmu social dan satu semester untuk program penguasaan IT.  Jika satu semester itu terdapat sebanyak 20 sks, maka yang harus dipikirkan adalah apa yang bisa didapatkan oleh mahasiswa dengan belajar IT selama 20 sks tersebut. 

  

Selama ini kelemahan kurikulum di Perguruan Tinggi adalah banyaknya mata kuliah yang harus diambil oleh mahasiswa. Dari 144 sks, maka terdapat sebanyak 50 mata kuliah. Banyak mata kuliah dengan dua sks, sehingga pembelajran tidak tuntas. Makanya, kurangi mata kuliah dan perkuat sks, sehingga mahasiswa akan mendapatkan materi pembelajaran yang lebih mendasar dan konprehensif. Buatlah pohon mata kuliah dan sesuaikan dengan gagasan Kampus Merdeka dan Belajar Merdeka atau era Revolusi Industri 4.0. 

  

Pada program Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), maka yang diperlukan adalah merumuskan kembali kurikulum yang sudah ada dengan menyusun profil atau standart kompetensi lulusan. Misalnya dengan profil keahlian di bidang social engineering, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan teori social engineering dalam satu semester, metodologi dan riset social enginering selama satu semester dan pengabdian masyarakat selama satu  semester. Lalu, mengajarkan ilmu keislaman satu semester, teori-teori perubahan sosial dua  semester dan kuliah IT selama satu semester. Yang diperlukan adalah memilah-milah besaran mata kuliah tersebut dalam pecahan-pecahan mata kuliah yang memiliki keterpaduan dan sistemik. Tentu saja tawaran ini sangat tentative dan bisa menyesuaikan dengan kebutuhan yang dianggap penting. 

  

Era disruptif menghendaki adanya perubahan termasuk perubahan proses pembelajaran. Dan sebagaimana prediksi Prof. Clayton Christenson, dari Harvard Business School, maka ke depan yang akan survive hanyalah institusi pendidikan yang mengusung program pendidikan berbasis IT. Makanya yang dibutuhkan ke depan, adalah bagaimana Perguruan Tinggi dapat membangun IT yang lengkap dengan infrastuktur yang andal. Jadi bukan lagi ruang kelas yang banyak tetapi ruang IT yang lengkap dengan infrastruktur program pembelajaran online. Harus dilakukan kalkulasi yang tepat, kapan Perguruan Tinggi akan memasuki program pendidikan online berbasis  kurikulum terpadu dengan riset dan pengabdian masyarakat. 

  

Pilihan kita hanya dua saja, Perguruan Tinggi akan bertahan dengan pendidikan konvensional seperti sekarang ataukah akan berubah menyongsong new style program pembelajaran. Jika pilihan Perguruan Tinggi tetap berada di program pendidikan konvensional, maka tunggu waktu kapan PT akan ditinggalkan oleh sumber daya mahasiswa, tetapi jika Perguruan Tinggi memilih yang new style, maka Perguruan Tinggi harus melompat menuju sesuatu yang baru. Kurikulum diubah total dipadukan dengan riset dan pengabdian masyarakat dan pembelajaran yang prospektif berbasis pada penggunaan IT yang sangat memadai. Apakah Perguruan Tinggi bisa?

  

Wallahu a’lam bi al shawab.