(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Pendidikan Ramadhan Menuju Insan Takwa

Horizon

Oleh: Mufti Afif

(Program Mahasiswa Doktor UIN Sunan Ampel)

  

Ramadhan bulan yang dikenal oleh masyarakat sebagai bulan penuh berkah atau berkat berkat Allah Swt untuk hambaNya, tidak terasa dipenghujung waktu. Sebagai sayyidus suhur bulan ramadhan memiliki banyak keutamaan yaitu penuh dengan pendidikan dan latihan bagi umat muslim. Pendidikan dan latihan yang dimaksud adalah dalam rangka mencapai derajat insan bertakwa, sebagaimana disampaikan dalam firman Allah Swt QS. Al-Baqarah [2]: 183 yang artinya “ Hai orang-orang yang tidak percaya, wajib di atas kamu sesuai ketentuan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

  

Kata takwa menurut HAMKA dalam karyanya Tafsir Al-Azhar bukan berarti semata-mata takut kepada Allah Swt, tapi juga mengandung rasa cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, dan sabar. Dan di dalam takwa terkandung juga arti berani, yaitu berani ber-amar ma’ruf dan nahi munkar. Sehingga takwa merupakan implementasi dari keyakinan dan amal sholeh seseorang terhadap aturan-aturan Allah SWT. Takwa juga diartikan oleh HAMKA dengan pemeliharaan hubungan yang baik dengan Allah SWT, memelihara hubungan jangan sampai terdapat perbuatan yang mencederai cinta dan ridhoNya. Memelihara segala perbuatan agar tidak terperosok dalam kemaksiatan, yang membuat Allah tidak ridha.

  

Untuk mencapai derajat takwa tersebut, Allah mendidikan dan mengajarkan kepada hambNya kesabaran beribadah selama satu bulan (ramadhan) penuh. Satu bulan umat muslim dididik dan ditempa agar menjadi pribadi-pribadi yang kuat, tangguh secara lahir dan batin. Sehingga kelak memiliki kesholehan dalam aspek spiritual dan sosial sekaligus. Kesholehan spiritual yang berarti tunduk dan patuh melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya seperti berpuasa, menegakkan shalat fardhu, membayar zakat fitrah, menghidupkan sunah-sunnah Rasulullah SAW seperti tarawih, membaca al-Quran, memperbanyak istighfar dan lain sebagainya. 

  

Sementara kesholehan aspek sosial berarti menerapkan sikap kepedulian terhadap kaum dhuafa’ (fakir, miskin dan anak-anak yatim). Kepedulian ini senantiasa diajarkan dan dibiasakan, tidak hanya karena alasan pandemi Covid-19 tahun lalu yang harus menolong korban, atau sebab karantina, tapi begitulah ajaran Islam yang mendidik kepedulian sesama manusia. Saling bahu membahu, berbagi kebahagiaan dengan saudaranya dengan memberikan sebagian rezeki yang diberikan Allah SWT.

  

Selama satu bulan, umat muslim dididik dan dilatih agar menjadi pribadi yang berdisiplin dan jujur pada diri sendiri. Berdisiplin dengan waktu, yang berarti sahur dan berbuka pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Disiplin makan dan minum sesuai kebutuhan, tidak berlebihan meskipun selama siang hari merasakan lapar dan dahaga. Ramadhan juga melatih pribadi yang jujur, pada diri sendiri dan kepada orang lain. Selama siang hari seseorang menahan lapar, dahaga, mencegah perkataan buruk dan perbuatan keji lainnya, karena hal tersebut dapat membatalkan puasanya.

  

Selama satu bulan, umat muslim dididik dan dilatih untuk qiyamu lail, yang berarti dibiasakan mendirikan shalat sunnah malam setelah shalat isyak atau menjelang waktu subuh. Dengan terbiasa bangun malam untuk melaksanakan sahur, seorang muslim dilatih untuk bangun lebih awal sebelum waktu subuh tiba. Sehingga kelak terbiasa melaksanakan shalat tahajud, dan memanjatkan doa kepada Allah Swt. Dengan begitu, bulan Ramadhan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas keislamannya, melakukan perbaikan-perbaikan perilaku sehari-hari menuju derajat yang paling tinggi yaitu kelompok orang-orang bertakwa, sebagaimana tujuan pendidikan selama bulan ramadhan. 

  


Baca Juga : Menjaga Marwah Islam Wasathiyah

Penilaian atas sukses atau tidaknya pendidikan selama satu bulan (ramadhan) tersebut adalah apa yang terjadi pada pribadi seorang muslim setelah bulan ramadhan usai. Apakah ada peningkatan kualitas ibadah setelah ramadhan atau justru semakin kendur. Setelah pendidikan selama bulan, pribadi umat muslim hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung. Beruntung yang berarti terdapat peningkatan kualitas ibadah kepada Allah dan ini yang disebut mendapatkan peringkat takwa setelah berpausa bulan Ramadhan. Sedangkan buntung yang berarti selepas ramadhan nilai kualitas ibadahnya biasa-biasa saja atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

  

Semua capaian tersebut di atas kembali kepada niat masing-masing individu muslim. Apakah sejak awal ramadhan ikhlas untuk meningkatkan kualitas pribadinya atau tidak. Bila niat saat menjalankan puasa ramadhan disertai niat yang baik, yaitu untuk meningkatkan aspek religiusitas dan aspek sosial, maka selepas bulan Ramadhan pun akan terbiasa melakukan kedua aktifitas tersebut. Namun jika niat saat menjalankan puasa ramadhan hanya sebatas ikuta-ikutan kebanyakan masyarakat muslim, disamping untuk menggugurkan kewajiban agama semata, maka selepas ramadhan ia akan kembali kepada jati dirinya. Tidak ada peningkatan aspek spiritual dan sosial, baginya untuk apa melakukan yang tidak diwajibkan? Ibarat pekerja, saat datang masa liburan mereka cenderung melupakan dan meninggalkan aktivitas kantor yang wajib dan biasa dilakukan sehari-hari. 

  

Dalam ajaran Islam, tidak ada istilah libur atau istirahat untuk menggapai akhirat. Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah [94]: 7 yang astinya: “Maka apabila kamu telah selesai satu pekerjaan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh  pekerjaan yang lain”. Sehingga setelah ramadhan berlalu, pribadi muslim harus menyiapkan program peningkatan kualitas diri dengan ibadah yang lain, hal ini juga diambil dari nilai pendidikan selama satu bulan ramadhan tersebut. Dua aspek pendidikan yang perlu dipertahankan setelah Ramadhan, yaitu:

  

Istiqamah spiritiual

  

Istiqomah spiritual terletak pada hati setiap pribadi muslim. Bila hati telah memantabkan diri dalam istiqomah untuk berbuat kebajikan, nicaya anggota badan lain akan mengikutinya. Anggota badan lainnya akan dijauhkan dari segala macam bentuk kemaksiatan. Sebagaimana di bulan ramadhan seseorang mampu menahan lapar padahal makanan dan minuman itu halal, mampu dibeli, mampu diperolehnya dan bisa dimakan sewaktu-waktu, namun hal itu ditinggalkan karena hati sudah mantab untuk menyelesaikan puasa hingga adzan magrib tiba. 

  

Istiqamah sosial

  

Istiqomah sosial terletak pada perilaku sehari-hari terkait dengan menjaga kerukunan, ketentraman hidup antar sesama. Selepas ramadhan, pribadi muslim harus mampu menebarkan keramahan, ketentraman dan kerukunan antar sesama manusia. Sebagaimana dalam bulan ramadhan yang terdapat larangan marah, berkata kotor, ghibah, fitnah, bohong, pelit, dan perilaku lainnya yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, baik pada waktu siang hari atau malam hari. Karena waktu malam yang singkat diisi dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga tidak ada kesempatan untuk menebar kerusuhan. 

  

Mempertahankan amalan istiqamah tersebut setelah ramadhan memang berat. Terlebih setelah ramadhan tidak ada jaminan dibelenggunya setan sebagaimana ketika bulan Ramadhan. Dan selama ramadhan, secara kompak umat muslim melakukan aktifitas ibadah puasa secara bersama, sehingga satu sama lain saling menjaga prilakunya sebagai upaya memperoleh derajat takwa. Sedangkan hari-hari setelah ramadhan, sangat sedikit pribadi muslim yang bisa menjalankan istiqomah tersebut. Sehingga fitnah, kerusuhan dan kedholiman sangat sulit untuk dielakkan.

  

Dengan sisa-sisa waktu dari bulan ramadhan 1443 H ini mari kita maksimalkan setiap menit untuk merasakan proses pendidikan dan pelatihan dari Allah untuk menjadi pribadi berkualitas setelah Ramadhan. Semoga kita menjadi hamba Allah yang bahagia di dunia dan akhirat, dengan kesuksesan meraih derajat takwa, aamiin.

  

Wallahu a'lam bi showab