(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Peran Dai dalam Meminimalisir Penyebaran Pandemi Covid-19

Horizon

Oleh: Fasha Umh Rizky

(Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam – UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Pandemi yang terjadi akibat merebaknya virus Covid-19 yang dimulai awal tahun 2020 lalu, masih belum benar-benar usai di negeri ini. Per tanggal 17 januari 2021 ini, pada laman Covid19.go.id tercatat ada 907.929 orang di Indonesia tercatat positif Covid-19 dan 736.460 orang diantaranya sembuh, serta 25.987 orang meninggal. Dan terdapat lonjakan kasus yang masih cukup tinggi, contohnya per 17 januari terdapat penambahan sejumlah 11.287 kasus secara nasional. Angka ini menandakan pandemi Covid-19 ini masih belum usai, meskipun era adaptasi kebiasaan baru atau new normal telah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Masih sangat dibutuhkan upaya-upaya untuk membuat pandemi ini segera berakhir.

  

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan menyediakan vaksin Covid-19 dan mengadakan program vaksinasi masal yang dimulai di tahun ini. Berbagai negara sudah memulai memberikan vaksin pada warganya. Seperti yang dilansir di kompas.com beberapa negara mulai membuat vaksin Covid-19, yaitu China yang membuat Vaksin Sinovac, Inggris yang membuat Vaksin Oxford, Amerika yang membuat Vaksi Pfizer, dan beberapa negara lainnya mengimpor vaksin yang dibuat negara-negara itu, seperti di Indonesia sendiri. Pemerintah Indonesia membeli Vaksin Sinovac dari China yang sudah datang di bulan desember lalu, sebanyak 1,2 juta vaksin di kedatangan pertama, dan 1,8 juta vaksin di kedatangan kedua, sehingga totalnya ada 3 juta dosis Sinovac yang siap untuk diberikan ke masyarakat. Selain itu pemerintah Indonesia juga telah bekerjasama dengan Novavax yaitu pengembang vaksin asal Amerika dan Kanada serta AstraZeneca yaitu pengembang vaksin dari Inggris dan Jerman.

  

Upaya pemerintah dalam menyediakan vaksin Covid-19 bagi masyarakat, khususnya di Indonesia, memang belum sepenuhnya diterima. Masih ada masyarakat yang kontra terhadap vaksin, ada yang kontra terhadap vaksin jenis tertentu, tetapi juga ada masyarakat yang pro mendukung adanya vaksin. Ada beberapa keberatan yang disampaikan orang-orang yang kontra terhadap vaksin, seperti belum mempercayai efektivitasnya dalam menangkal Covid-19, merasa sudah cukup dengan menerapkan protokol kesehatan, hingga ada yang menganggap virus ini adalah konspirasi dan vaksin adalah bagian dari konspirasi itu agar bisa menguntungkan negara tertentu. Sedangkan yang pro mendukung adanya vaksin, memiliki anggapan bahwa vaksin bisa menjadi solusi untuk memberikan kekebalan pada tubuh dari Covid-19, sehingga bisa mencegah penyebaran Covid-19 karena masyarakat memiliki kekebalan itu.

  

Tulisan ini ingin memfokuskan pada masyarakat yang pro mendukung adanya vaksin, karena memiliki kepercayaan bahwa vaksin bisa mencegah penyebaran Covid-19. Kepercayaan terhadap vaksin yang cukup tinggi, dan dianggap ampuh untuk mencegah dari Covid-19 ini bukan tanpa efek. Disatu sisi, adanya kepercayaan itu bisa melancarkan upaya pemerintah untuk melakukan vaksinasi massal pada masyarakat. Namun disisi lain, efek kepercayaan itu bisa menimbulkan euforia hingga melupakan dan mengabaikan protokol kesehatan yang sudah dibiasakan selama ini. 

  

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, euforia diartikan sebagai perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Jadi yang dimaksud euforia sebagai efek dari adanya vaksin ini adalah perasaan gembira yang berlebihan dan merasa sudah aman, karena sudah ada vaksin yang dipandang bisa membuat orang kebal terhadap Covid-19 sehingga tidak perlu lagi menerapkan protokol kesehatan yang mulai dibiasakan selama ini, menganggap tidak perlu menggunakan masker, cuci tangan, jaga jarak bahkan ada yang mendatangi kegiatan yang ada kerumunan. 

  

Dalam kompas.com disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil bahwa antibodi baru muncul dalam 3 bulan setalah vaksin dilakukan. Ridwan Kamil juga menyampaikan agar setelah mendapat vaksin, jangan euforia seolah sudah bebas. Selain itu seperti yang dilansir oleh koran.tempo.co disampaikan bahwa euforia adanya vaksin belum bisa menjawab keraguan sebagian kalangan masyarakat yang masih meragukan vaksinasi Covid-19. Jadi masih perlu ada upaya-upaya untuk menjelaskan pada masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi dan mengingatkan untuk tidak terbawa euforia setelah di vaksin, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Dan upaya ini bukan hanya peran pemerintah, melainkan semua kalangan termasuk ulama atau dai. 

  

Peran Dai Dalam Mencegah Pandemi Covid-19

  

Dai sebagai panutan atau role-model bagi masyarakat, tentu memiliki peran yang penting dalam mencegah euforia adanya vaksin Covid-19 ini. Sebagai juru dakwah, atau subjek yang memiliki tugas penting untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada masyarakat dan mencegah adanya keburukan, maka dai juga memiliki tugas penting untuk menyampaikan kebaikan ini. Dai perlu mendakwahkan pentingnya melakukan upaya-upaya untuk menghentikan pandemi seperti mau menerima vaksin, melakukan langkah pencegahan melalui penerapan protokol kesehatan, serta saling mengingatkan agar semua orang menjalankan protokol kesehatan. Dai juga perlu mengingatkan masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin, agar tidak terbawa euforia yang berlebihan dari adanya vaksin Covid-19 ini. Karena resiko terkena virus masih tetap ada, apalagi dengan adanya mutasi baru dari virus ini, dan kecepatan penyebaran virus ini yang cukup cepat.

  

Untuk itu, dai bisa menggunakan berbagai pendekatan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak terkena euforia berlebihan dari vaksin. Pertama, dai bisa melakukan dakwah bil qalam, dengan membuat tulisan berupa artikel di website, atau pesan broadcast maupun status di media sosial atau social messenger seperti whatsapp. Kedua, dai bisa melakukan dakwah bil lisan, dengan menyampaikan langsung di forum-forum kajian akan pentingnya melakukan vaksin tapi sembari tetap menjaga protokol kesehatan dan tidak terbawa euforia adanya vaksin. Selain menyampaikan langsung di forum-forum, dakwah bil lisan di masa kini juga bisa ditempuh melalui podcast untuk menjelaskan hal itu. Selain itu, dai juga bisa mengkombinasikan antara dakwah bil lisan dengan dakwah bil qalam dengan membuat podcast yang disertai dengan visualisasi dan teks yang diupload di Youtube. 

  

Ketiga, dai juga bisa melakukan dakwah bil hal, yaitu dengan memberikan contoh atau tauladan melalui perilakunya, dengan mau menerima vaksin sekaligus menerapkan protokol kesehatan, seperti selalu menggunakan masker dengan benar, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Selain itu ketika mengadakan program seperti pengajian atau tahlil dan sejenisnya, dai juga bisa mengatur agar kegiatan itu berjalan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan tidak menimbulkan kerumunan yang terlalu banyak.

  

Dengan demikian diharapkan masyarakat sebagai mad’u bisa menangkap pesan dakwahnya dan bersikap sewajarnya dengan tidak terbawa euforia berlebihan atas adanya vaksin, tetapi juga mau menerima keberadaan vaksin untuk mencegah penyebaran Covid-19. Serta ikut menjadi agen yang mengingatkan sesama untuk menerapkan protokol kesehatan. Akhir kata kita perlu mendukung segala upaya untuk mengatasi pandemi ini dan semoga pandemi ini segera berakhir dengan adanya vaksin dan tetap menerapkan protokol kesehatan: mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan menggunakan masker.