(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Perencanaan Keuangan Islam; Seruan Menggapai Cita-Cita Hakiki Seorang Muslim

Horizon

Oleh: Mufti Afif

Mahsiswa Program Doktor UIN Sunan Ampel

  

Setiap orang pasti mempunyai cita-cita dan harapan untuk masa depannya. Dengan cita-cita tersebut, semua aktivitasnya lebih terencana, terarah dan konsisten sesuai dengan apa yang sudah menjadi tujuannya. Kalau seseorang tidak memiliki cita-cita, maka ia tidak memiliki pendirian yang kokoh serta mudah goyah karena pengaruh lingkungannya. Sebagai orang muslim, cita-cita apa yang paling mulia dan bagaimana cara mendapatkannya? Simak ulasannya berikut ini:

  

Umat Islam dikarunia Allah jalan hidup yang jelas, terarah dan bertujuan. Artinya bahwa semua umat Islam diajarkan memiliki cita-cita yang jauh bernilai dan mulia, cita-cita itu adalah mencapai kesejahteraan hidup di dua alam; alam dunia dan alam akhirat. Hal ini sesuai dengan ajaran doa dari Allah Swt dalam firmanNya QS. Al-Baqarah ayat 201, yang artinya:"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". 

  

Doa sapujagat tersebut selalu dilantunkan oleh hampir semua umat muslim di dunia. Hal Ini menunjukkan bahwa tujuan atau cita-cita umat Islam semua sama yaitu meminta kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu sungguh merugi jika ada orang yang hanya bercita-cita memperoleh kebahagiaan di dunia saja. Kerugian ini kelak dirasakan dengan penuh penyesalan setelah mereka mengetahui keadaan hidup setelah kematian. Sehingga mereka berangan-angan ingin kembali ke alam dunia hanya untuk meneguhkan kembali dan mewujudkan cita-citanya yang telah terlupakan selama hidup di dunia. Allah menggambarkan bentuk penyesalan mereka dalam firmanNya QS. Al-Mulk ayat 10, yang artinya: “Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. 

  

Penglihatan, pendengaran dan mata hati manusia pada waktu itu (di alam akhirat) betul-betul jernih dan tajam, sehingga mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Ketika di dunia mata hati mereka banyak ditutupi oleh bisikan syetan dan syahwat sehingga mata dan pendengarannya tidak mampu menerima kebenaran (karena terhalang urusan duniawi). Hal ini disebutkan Allah Swt dalam QS. Maryam ayat 38, yang artinya: “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami”.

  

Secara dhahir, fakta menunjukkan bahwa sebagian besar manusia di dunia ini hanya bercita-cita untuk mendapatkan kebahagiaan dunia saja, bahkan mereka berani mempertaruhkan jiwa dan raganya demi menghasilkan buah kenikmatan yang sementara ini. Semua bentuk usaha dan perjuangan mereka kerahkan; bahkan sampai menghalalkan berbagai cara demi bisa merasakan sejahtera di dunia. Mereka lupa bahwa milik Allah adalah dunia dan akhirat (disediakan untuk umat manusia beriman). Maka sungguh merugi apa yang mereka cita-citakan itu dan sungguh kelak akan menyesal.

  

Cita-cita yang dilandasi dengan harapan kebahagiaan di alam akhirat akan memberikan dampak pada kehati-hatian dalam berperilaku selama hidup di dunia. Si empunya cita-cita akan selalu berbuat adil, toleran, tawadhu’, hormat, berkasih-sayang dan menerapkan semua kebajikan yang diperintahkan Allah dan yang diajarkan RasulNya. Sehingga atas rahmat dan ridhaNya mereka otomatis akan tercukupi cita-citanya yang bersifat duniawi. Segala kesulitan akan dimudahkan dan segala keperluannya akan dicukupi, sebagaimana Allah berjanji dalam firmanNya QS. At-Thalaq ayat 2-3, yang artinya: “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

  


Baca Juga : Ijtihad Politik Islam Wasathiyah

Demikianlah hakekat cita-cita hidup yang diajarkan oleh Islam. Supaya hidup ini semakin terarah dan konsisten dalam kebajikan, maka sedini mungkin diperkokoh arah dan tujuan hidup ini agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. 

  

Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh seorang muslim untuk mewujudkan cita-cita  mulia tersebut di atas adalah dengan menerapkan perencanaan keuangan Islam. Yaitu menerapkan proses atau cara merancang kesejahteraan atau ekonomi pribadi atau ekonomi keluarga untuk masa depan; masa pensiun dan setelah kematian. Kelihatannya, praktik perencanaan keuangan Islam ini masih belum banyak dilakukan oleh umat muslim di lingkungan kita.

  

Beberapa kali penulis membuka diskusi dengan beberapa orang yang ditemui tentang prioritas penggunaan pendapatannya baik berupa gaji, hadiah uang tunai, atau penerimaan bantuan tunai jawaban mereka selalu mendahulukan untuk pemenuhan kebutuhan, kalau ada sisa untuk ditabung,  kalau ada sisa untuk investasi, kalau ada sisa untuk jalan-jalan, kalau ada sisa untuk traktir makan keluarga/ teman atau sedekah lainnya. Artinya adalah secara umum porsi sedekah dinomor akhirkan, yaitu syaratnya kalau ada sisa. Jawaban-jawaban tersebut tidak sepenuhnya salah, selama masih ada niat sedekah/ kebajikan. Nah pertanyaan berikutnya, kalau tidak ada sisa terus bagaimana? Apakah masih bisa sedekah? 

  

Pertanyaan tersebut di atas bisa dijawab dengan pentingnya literasi perencanaan keuangan Islam, supaya porsi sedekah tidak terlewatkan dan tidak ada penyesalan di hari kemudian. Sebagaimana Allah telah mengingatkan terkait kondisi penyesalan ini dalam QS. Al-Munafiqun ayat 10, yang artinya: lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh"

  

Ayat di atas mengisahkan orang yang sudah meninggal dunia menyesal lantaran kurang atau tidak sempat melakukan kebajikan/ sedekah, sehingga ingin dihidupkan kembali di dunia supaya melakukan sedekah sebagaimana orang-orang sholeh. Nah bagi kita sebagai orang muslim yang berpenghasilan lebih dari cukup, haruslah merencanakan alokasi keuangan kita (yaitu untuk sedekah, tabungan, investasi, haji, dan kebutuhan sehari-hari). Misal prosentase alokasi tersebut dibuat skema 10-20-30-40, yaitu 10% sedekah (yang meliputi zakat maal, wakaf dan sedekah lainnya), 20% untuk tabungan dan investasi, 30% untuk cicilan dan 40% untuk kebutuhan sehari-hari.

  

Alokasi dana untuk sedekah 10% bisa dibuat seperit; zakat maal (2,5%), wakaf (2,5%) dan sedekah lainnya/ santunan anak yatim (5%). Alokasi tabungan dan investasi penting diadakan (20% dari pendapatan) karena sudah menjadi fitrah manusia pasti bertambah usia, saat itu tambah lemah fisiknya dan mulai sering terserang penyakit dalam. Lagipula semakin usia senja semakin kecil penghasilannya, maka harus disisihkan sejak dini untuk masa depan 20% pendapatan. Alokasi cicilan juga rencanakan, karena suatu saat akan datang dimana kondisi sangat mendesak dan butuh pinjaman. Maka bila terpaksa berhutang, diusahakan tidak lebih dari prosentase yang telah rencanakan supaya tidak menghadapi kesulitan pada saat pelunasan hutang-hutangnya. Sedangkan alokasi kebuthan sehari-hari besarnya 40%, hal ini memuat biaya-biaya operasinal harian dan kebutuhan konsumsi. Jika ternyata kebutuhan yang ditetapkan kurang mencukupi, maka diperlukan usaha lebih keras lagi supaya total penghasilan meningkat. Apabila pengahasilan meningkat, maka akan meningkatkan alokasi dana lainnya sehingga infak sedekahnya bertambah besar dan alokasi-alokasi dana lainnya juga tumbuh meningkat.

  

Mari bersama menjadi hamba Allah yang bahagia di dunia dan akhirat, dengan konsep perencanaan keuangan Islam.

  

Wallahu a’lam bi showab