(Sumber : bantennews.co.id)

Pertemuan Kultur dan Agama di Kemaliq Lingsar (Lombok Barat)

Horizon

Oleh: Imam Alif Hidayat

Mahasiswa PPs UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Indonesia adalah bangsa yang kompetisi etnisnya sangat beragam. Tingginya pluralisme bangsa Indonesia membuat potensi konflik bangsa Indonesia juga tinggi. Dalam sekala kecil, konflik ini tercermin pada komunikasi yang tidak tersambung  dengan baik , sehingga menyebabkan rasa tersinggung, marah, frusatasi, kecewa, dongkol dan lain-lain. Sementara itu konflik dalam skala besar mewujud dalam ,misalnya kerusuhan social, kekacauan multi budaya, persatuan antar ras, etnis, agama dan lain-lain

  

Kerukunan umat beragama di Indonesia merupakan persoalan yang sangat kompleks. Sulit untuk mengulas secara pasti keadaan yang berada disuatu daerah tentang keagamaannya , dikarenakan terkait oleh banyak aspek yang menjadi tolak ukurnya. Demikian pula keadaan yang terjadi dalam  kerukunan di komplek Kemaliq Lingsar.

   

Indonesia juga dikenal dengan negara yang pluralistik karena ia mencakup berbagai ragam agama, budaya, etnis, tradisi, dan cara hidup. Namun, keberagaman ini tidak mengurangi makna kesatuan Indonesia. Pun begitu, konflik dalam masyarakat tak dapat terhindarkan. Tak ayal, beberapa perseteruan antar agama dan suku mencuat ke publik dan meresahkan para tokoh agama yang mendambakan ketenangan dan kedamaian. Toleransi antarumat beragama menjadi sering diabaikan, padahal pemerintah sudah memberikan perhatian besar terhadap masalah kerukunan dan toleransi ini dengan berbagai kebijakan.

  

Pulau Lombok yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku,ras dan agama menjadikan daerah ini memiliki banyak ragam corak kehidupan . Sehingga, memiliki konsekuensi hubungan yaitu kerja sama konflik dan akomodasi. Bentuk Integrasi sosial masyarakat Islam dan Hindu kedua pemeluk agama ini terlihat pada lahirnya kesepakatan-kesepakatan bersama, seperti tentang aturan (persyaratan) bagi siapa saja yang berniat memasuki Kemaliq. Pluralitas dikalangan masyarakat Indonesia tidaklah asing ,dari jumlah pulau dan jumlah suku di Indonesia yang bermacam-macam membentuk pertemua diantara kultur dan agama. Hal ini membentuk hal positif dan hal negatif diantara dua kelompok atau lebih.

  

Sulit dipercaya, bahwa didunia ini ada dua umat yang memiliki latar belakang etnis, kultur dan keyakinan agama, dapat hidup berdampingan di dalam melaksanakan ritusnya masing-masing dan perbedaan bagi mereka adalah sesuatu yang wajar dan logis dan dirasakan sebagai sebuah hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa karena perbedaan akan membuat mereka menjadi saling mengenal dan kemudian menghormati keyakinan satu sama lain.Disana ada sebuah sanggar kekeramatan yang diusung oleh kedua umat tertentu sesuai persepsi dan versi keyakinan agama masing-masing. Dalam hal tertentu, mereka dapat mengerjakannya bersama-sama dan dilain hal hanya boleh dikerjakan umat yang bersangkutan. Tradisi dan kepercayaan untuk mensyukuri sebuah mata air yang ada di sanggar itu atau dikenal dengan istilah Kemaliq, dipercaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa menjadi sebuah sumber kehidupan, memantik semangat untuk menyusun sebuah kepranataan, rasa tanggung jawab dan pengorbanan tanpa pamrih sebagai ungkapan rasa syukur dalam bentuk sebuah upacara. Dan amatlah lazim bila untuk memantapkan rasa kesungguhan umat, cita-cita berkorban tersebut diusung melalui dukungan susunan myitologi atau legenda.

  

Dalam satu tempat di Kawasan Kemaliq lingsar terdapat dua bangunan. Bagian bangunan bagi masyarakat Hindu dinamakan Gaduh, yang artinya Pura. Bagian bangunan bagi masyarakat penganut Wetu Telu dinamakan Kemaliq, yang artinya keramat. Gaduh dan Kemaliq ini boleh dipakai kapan saja menurut keperluan agamanya masing-masing, tetapi hanya sekali setahun harus diadakan upacara bersama, yaitu Perang Topat. Adapun pura sebagai ritual pemeluk agama hindu dan kemaliq sebagai tempat ritual keagamaan Islam wetu telu dari suku sasak. Kedua kompleks bangunan ini letaknya bersebelahan, antara keduanya dibatasi oleh pagar tembok. Pada tembok pembatas tedapat dua buah pintu penghubung, sehingga tampak dari luar sebagai sebuah bangunan.

  

Upacara  dilingsar antara lain  ialah Perang topat antara masyarakat  islam dan hindu, pertemuan kultur dan agama ditampakkan di moment ini. Acara ini merupakan bentuk kesyukuran  masyarakat muslim  yang meyakini  Islam Wetu telu dengan masyarakat yang beragama Hindu. Upacara ini tidak lain ialah  Hasil keyakinan bahwasanya sesuatu yang berasal dari sawah kembali nantinya kesawah pula. Setelah didoakan ketupatnya, kemudian dilaksanakan acara perang ketupat, kemudian bekas perang ketupat tersebut diambil oleh warga, dan kemudian  warga tersebut membawanya ke sawah mereka masing-masing dengan keyakinan, bahwa setelah menaburkan Ketupat dari hasil perang ketupat tersebut, mampu menyuburkan tanah sawah mereka. Acara Perang Topat ini bertepatan dengan acara Pujawali umat agama hindu,sehingga antara orang muslim dan hindu saling membantu dalam menjalankan kedua Upacara ini. H. jamhur mengatakan  “kita bersatu, namun tidak menyatu”( Kepurbakalaan Nusa Tenggara Barat). 

  

Menurut Bahrudin Lopa ,langkah yang diambil itu menciptakan adanya 3 kerukunan, yakni: Pertama, kerukunan umat beragama (persatuan kedalam masing-masing gabungan umat beragama), Kedua, kerukunan antar umat beragama tertentu, dan umat beragama yang lain,  Ketiga, kerukunan antara umat beragama, pada tingkat lokal (daerah) menarik diapresiasi upaya – upaya mewujudkannya. Bila kita ambil dalam ajaran agama masing-masing maka akan tercapai suatu kerukunan, dikarenakan adanya pemikiran untuk bisa saling menghargai dalam perbedaan. Semua agama  bila kita pelajari pasti didalamnya ada pelajaran untuk saling menghargai dan saling mencintai.

  

Kebersamaan hidup masyarakat Lingsar yang berbeda secara etnis maupun agama sejak turun temurun terlihat dari sejarah cagar budaya Taman Pura Lingsar Kemaliq sebagai tempat ibadah yang letaknya berada dalam posisi yang berdampingan. Selain itu, praktik toleransi dalam kehidupan beragama ditunjukkan saat masing-masing agama melakukan peringatan hari raya keagamaan. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa seluruh masyarakat Lingsar berada dalam kedudukan atau posisi yang sama dalam masyarakat sehingga diminimalkan terjadi benturan karena perbedaan etnis dan agama. Nilai kearifan lokal Sasak yang berkembang dalam masyarakat Lingsar.memberikan penanaman tentang pentingnya peranan nilai-nilai dalam menciptakan sikap saling menghormati perbedaan etnis dan toleransi dalam beragama.

  

Dengan demikian Pertemuan kultur dan agama dalam satu tempat yang berbeda ini tidak terlepas dengan perkembangan pemikiran masyarakat. Kemaliq Lingsar merupakan perpaduan budaya, etnis, sosial, ekonomi, kepercayaan masyarakat multikultural. Bertemunya agama dan budaya di Indonesia membawa dampak yang signifikan terhadap beragamnya sifat pemahaman dan gerakan keagamaan.selain menjadi berkembang secara pemikiran, masyarakat pun sadar dan memahami adanya keberagaman menyatukan rasa dalam sisi kemanusiaan.