(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Selamat Datang Raksasa Bank Syariah Indonesia

Horizon

Oleh: Eric Kurniawan

  

Dalam satu dekade terakhir, seakan-akan berlaku “kutukan” terhadap Bank Syariah di Indonesia, dimana market share nya belum juga beranjak dari angka 6 persenan, tepatnya berdasarkan rilis data OJK pangsa pasar syariah masih bertengger di angka 6,34% per posisi Oktober 2020, data lain juga menunjukkan bahwa tidak ada satupun dari Bank Syariah di Indonesia yang total akumulasi asetnya menduduki rangking 10 besar dari total keberadaan bank di Indonesia (konvensional dan syariah), jika kita lihat asset terbesar Bank Syariah yang dimiliki oleh Bank Syariah Mandiri (BSM) saat ini sebesar 119 triliun masih harus berpuas diri berada pada urutan ke-14 di Indonesia, lebih-lebih jika kita ingin menyandingkan asset Bank Syariah di Indonesia dibandingkan dengan asset bank syariah di dunia maka bisa dipastikan tidak ada satupun bank syariah yang masuk ke dalam 10 besar asset terbesar Bank Syariah di dunia, padahal Indonesia menduduki angka posentase tertinggi jumlah populasi penduduk Muslim dunia yaitu sebesar 12,7% dari total populasi muslim dunia (worlpopulationreview.com), ditambah dengan data bahwa 45% dari total populasi muslim Indonesia memiliki preferensi syariah yang cukup kuat, tentu hal diatas menjadi fakta sekaligus paradok yang perlu menjadi perhatian semua stakeholder di tengah pesatnya tumbuh kembang industri keuangan syariah di belahan dunia lainnya.

  

Untuk menjelaskan fakta diatas, terdapat beberapa faktor yang menjadi sebab lambatnya petumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia, yang pertama; rendahnya daya saing yang dimiliki oleh bank syariah, daya saing perbankan syariah masih kalah dibandingkan bank umum seiring dengan masih rendahnya rasio dana murah, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio dana murah (current account saving account/CASA) perbankan syariah pada tahun 2019 berada di angka 64%, namun kita layak memberikan apresiasi yang memadai kepada pelaku industri perrbankan syariah yang telah berhasil meningkatkan angka CASA tersebut dari tahun-tahun sebelumnya yang tidak pernah melebihi angka 60%. Faktor kedua; adalah jaringan, dimana harus diakui dengan usia perbankan syariah di Indonesia yang rata-rata masih di kisaran 15 tahunan, tentu usia yang sangat muda jika dibandingkan dengan keberadaan bank konvensional, dimana rasio layanan konvensional terhadap jumlah penduduk Indonesia mencapai angka 1:9477 jauh diatas angka rasio layanan syariah terhadap jumlah penduduk Indonesia yang masih di kisaran angka 1:114.339 pada tahun 2020. Selain dua faktor diatas masih ada satu faktor lagi yang menyebabkan pertumbuhan bank syariah di Indonesia belum begitu memuaskan, yaitu rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh OJK pada 2016, angka literasi keuangan syariah nasional hanya sebesar 8,11 persen dan naik sedikit menjadi 8,93 persen pada 2019. Sementara angka literasi keuangan konvensional naik pesat, dari 29,5 persen di 2016 menjadi 37,72 persen di 2019.

  

Terlepas dari beragam fakta di atas. Tentu kita layak memberikan apresiasi kepada pemerintah Republik Indonesia yang telah berusaha memainkan perannya secara strategis dalam mengembangkan industri keuangan syariah secara umum dan industri perbankan syariah secara khusus, dengan menelurkan beberapa kebijakan yang berdampak langsung terhadap perkembangan industrri keuangan syariah di Indonesia, pertama: kebijakan melahirkan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) pada tahun 2016 yang betujuan untuk meningkatkan pembangunan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah guna mendukung pembangunan ekonomi syariah. Kedua: Kebijakan sentralisasi dana haji di Bank Syariah sejak tahun 2015 dimana dengan kebijakan tersebut dana haji hanya boleh ditempatkan di bank syariah sehingga kebijakan ini memberikan dampak langsung tehadap peningkatan angka dana murah bank syariah. Ketiga: Kebijakan dibukanya kesempatan Bank Syariah menjadi pengelola dan penerima gaji Pegawai Negeri Sipil, TNI dan Polri (ASN). Keempat: Dicanangkannya gerakan nasional wakaf uang pada awal tahun 2021 ini, dimana Bank syariah menjadi sangat penting keberadaanya sebagai lembaga penerima waqaf uang. Dan yang keempat: yang menjadi sangat fenomenal di awal tahun ini dengan adanya merger tiga bank syariah milik Bank BUMN yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank BNI Syariah dan Bank BRI Syariah menjadi satu entitas baru bank Syariah dengan nama Bank Syariah Indonesia (BSI).

  

Merger tiga bank syariah milik BUMN ini tentu akan menjadi angin segar dan semangat baru bagi perkembangan industri pebankan syariah baik dalam skala regional bahkan global, dimana nantinya Bank BRI Syariah yang akan menjadi entity survivor dari ketiga bank tesebut dan telah diputuskan pada RUPS untuk merubah nama menjadi Bank Syariah Indonesia serta telah mendapatkan ijin penggabungan dari OJK pada 27 januari 2021 yang selanjutnya akan efektif melaksanakan legal merger pada tanggal 1 Februari 2021. Tentu hal ini sangat mengembirakan karena Bank Syariah hasil merger ini nantinya akan memiliki aset mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun, terdiri dari aset BSM Rp 114,40 triliun, BNI Syariah Rp 50,76 triliun, & BRIS Rp 49,58 triliun. Jumlah aset dan modal inti tersebut menempatkan Bank hasil penggabungan pada urutan ke-7 dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar. Selain itu, juga akan didukung dengan keberadaan lebih dari 1.120 cabang, 1.785 jaringan ATM, serta didukung 20.094 lebih karyawan di seluruh Indonesia, Bank hasil penggabungan diharapkan akan mampu memberikan layanan finansial berbasis syariah, layanan sosial bahkan spiritual bagi lebih banyak nasabah. Semoga merger ini bukan sekedar sebagai aksi korporasi yang melangit dan tidak menyentuh kebutuhan sektor riil dan kebutuhan nyata ekonomi masyarakat yang sedang terhimpit di tengah pandemi yang belum juga berujung.

  

 Wallahualam bishowab