(Sumber : nu.or.id )

Syarat Mencari Ilmu

Horizon

Oleh: Sayidah Afyatul Masruroh 

Mahasiswa Program Pascasarjana UINSA

  

Bismillahirrahmaanirrahiim…

  

Kitab Ta’liimul Muta’allim adalah kitab yang berisi tentang pedoman belajar dan tata krama bagi para pencari ilmu. Kitab ini merupakan karya Asy-Syaikh Az-Zarnuji yang sudah sangat masyhur di kalangan kaum santri. Karena biasanya kitab ini dipelajari oleh santri yang baru mulai belajar di pondok pesantren atau madrasah diniyah. Dengan mempelajari kitab ini diharapkan ada harmonisasi antara ilmu dan akhlak dalam menuntut ilmu yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa melahirkan pribadi yang salih.

  

Dengan mengharap ridha Allah SWT serta ilmu yang manfaat dan barakah, marilah kita sejenak menghadiahkan Surat al-Fatihah kepada muallif kitab Ta’liimul Muta’allim Asy-Syaikh Az-Zarnuji. Al-Fatihah…

  

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi kaum muslimin dan Muslimah. Ini menunjukkan bahwa tidak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan tentang kewajiban dalam mencari ilmu. Karena dengan menuntut ilmu kita bisa meningkatkan kualitas diri kita dan kualitas keimanan kita, dimana kualitas diri kita itulah yang menentukan cerminan kepribadian kita, juga kepribadian agama kita. Bagi seseorang yang menuntut ilmu sudah seyogyanya untuk memantapkan hati, berniat dengan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya  menuju ridha ilahi. Disamping itu untuk mendapat hasil ilmu orang yang menuntut ilmu disyaratkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  

Cerdas(ذُكَاءٍ)


Baca Juga : Islam dan Pancasila dalam Pertarungan Ideologi Dunia

  

Kecerdasan atau intelegency ini menempati peranan penting dalam memahami pengetahuan. Selama ini kecerdasan difahami sebagai sebuah kemampuan mengingat fantantis seseorang ditinjau dari kacamata sains, seperti kemampuan menghafal puluhan atau bahkan ratusan kosa-kata hanya dalam beberapa menit, atau mampu menghitung perkalian secara cepat. Menghafal al-Qur’an dalam waktu yang singkat, mampu menghafal kitab-kitab hadis, dan sebagainya. Padahal sebenarnya yang dimaksud dengan cerdas disini adalah kemampuan dalam abstraksi,nalar kritis dan  cakap dalam memecahkan masalah. Sehingga seseorang itu mampu memprediksi kemungkinan masalah yang akan timbul, kemudian menganalisisnya secara kritis, setelah itu menentukan metode dalam pemecahan masalah sesuai dengan realita saat ini yang terjadi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Saddad Ibn Aus, Rasulullah SAW bersabda: “Orang cerdas adalah orang yang mampu menginstropeksi dirinya dan suka beramal untuk (kehidupan) setelah kematian.” Dari hadis tersebut bisa diinterpretasikan bahwa orang cerdas adalah orang yang mempunyai proyeksi pandangan hidup jauh di masa depan, bahkan sampai kehidupan alam akhirat. Namun  sebaliknya, jika seseorang itu hanya memproyeksikan pandangan hidupnya hanya untuk kesenangan duniawi, maka dia tidak dikatagorikan sebagai orang yang cerdas.

  

Semangat ( حِرْصٍ )

  

Orang yang mencari ilmu harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk mencapai sebuah keberhasilan. Motivasi itu bisa muncul dari dalam diri sendiri juga bisa disebabkan karena adanya interaksi dengan lingkungan, sehingga mendorong dirinya untuk bertindak atau bersikap. Adapun contoh motivasi dari diri sendiri (intrinsik) adalah niat. Segala sesuatu itu dinilai berdasarkan niatnya. Niat yang sudah ditorehkan dalam hati akan memunculkan kebulatan tekad bagi orang yang menuntut ilmu, sehingga ia tidak akan berhenti berusaha untuk terus belajar sampai ia mendapatkan pengetahuan yang diinginkannya. Kemudian motivasi yang yang berasal dari luar (ektrinsik) contohnya seperti orang yang menuntut ilmu akan diberikan kemudahan dan keutamaan; dimudahkan jalannya ke surga, dimuliakan oleh malaikat, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi akan selalu mendo’akannya, orang yang ahli ilmu lebih utama daripada orang yang ahli ibadah, dan lain sebagainya. Orang yang selalu semangat akan diliputi rasa optimisme yang tinggi, dia akan selalu berupaya untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan dalam niat yang sudah terpatri dalam hatinya.

  

Sabar (اصْطِبَارٍ )

  

Konteks sabar disini adalah usaha untuk bersabar. Bagaimana seseorang bisa memposisikan dirinya ketika menghadapi sebuah permasalahan ketika ia tengah menuntut ilmu. Sehingga kondisi psikisnya menjadi stabil, dan ia fokus untuk mencari ilmu. Dalam hal menuntut ilmu, sabar merupakan upaya menahan keinginan hawa nafsu, seperti menahan emosi, menahan amarah, menahan rasa rindu terhadap orang tua, keluarga, sahabat, maupun handai taulan, menahan untuk berbuat boros, menahan diri dari perbuatan malas dan sebagainya. Inti dari sabar sendiri sebenarnya adalah tentang bagaimana kita mengolah rasa atau gejolak yang ada di dalam hati, yang mana gejolak ini timbul karena ada peran dari nafsu yang terus mendorong manusia untuk cenderung pada sesuatu yang negative (Inna an-nafsa laammaarotun bi as-suu’), dan bagaimana kita bisa mengarahkannya menjadi sebuah sikap positif. 

  

Biaya (بُلْغَةٍ )

  

Wacana pendidikan di Indonesia saat ini memunculkan proposisi tentang pendidikan yang berkualitas pasti membutuhkan biaya pendidikannya mahal. Hal ini berangkat dari sebuah realita banyaknya masyarakat miskin yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak karena mereka tidak bisa menjangkau biaya pendidikan yang tinggi. Konsep bulghoh atau “ana sangune” (red: Bahasa Jawa) sebagai syarat hasilnya sebuah ilmu dalam hal ini adalah kesiapan modal, apakah itu bersifat material seperti finansial, atribut pendidikan, Lembaga pendidikan, atau immaterial seperti niat yang sungguh-sungguh, kebulatan tekad, dan kesiapan mental. Dalam mencari ilmu, seberapapun biaya yang kita keluarkan itu menjadi sebuah keniscayaan. Jika dalam hati kita sudah ada tekad yang kuat dalam mencari ilmu, maka tidak akan ada kekhawatiran mengenai biaya yang dikeluarkan. Ini adalah bentuk pengorbanan dan perjuangan dalam thalabul ilmi. Karena sesungguhnya ilmu dan ridha Allah untuk mendapat derajat tinggi yang kita dapatkan tidak sebanding dengan biaya yang sudah kita keluarkan. Allah SWT sudah memberikan janji-Nya dalam QS. Al-Mujadalah:11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Oleh karenanya banyak kita temukan kenyataan bahwa meskipun dari golongan keluarga miskin tetapi ia tetap bisa merasakan pendidikan yang tinggi, bahkan tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Kemudian upaya untuk mengatasi problem tersebut bisa kita lakukan dengan perencanaan finansial, yakni bisa melalui tabungan, investasi, dan merubah pola gaya hidup yang konsumtif.

  

Petunjuk guru (اِرْشَادُ اُسْتَاذٍ ) 

  

Guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung. Sebagai orang tua, guru mempunyai tanggung jawab yang berat layaknya orang tua kandung kita, selain mengajarkan ilmu, guru juga berkewajiban mendidik. Mendidik disini adalah membentuk sebuah karakter, kepribadian, sehingga tujuan yang dicapai adalah pembentukan akhlakul karimah. Oleh karenanya dalam mencari ilmu harus ada guru, harus ada petunjuk guru. Pepatah Arab mengatakan “wa innama al-ilmu bi at-ta’allum” bahwa ilmu itu bisa didapat dari proses belajar, dan dikatakan belajar kalau ada guru. Guru yang dimaksud disini adalah guru yang nyata, yang tampak, dan bukan dari hanya sekedar membaca artikel berita di media online saja. Karena keberkahan ilmu akan didapat ketika berhadapan langsung dengan guru, dan hal ini menghindari adanya kesesatan dan penyimpangan. Kita juga sering kali mendengar ungkapan “Barang siapa yang belajar tanpa guru, maka setan adalah gurunya”. Dengan demikian seseorang tidak bisa mengamalkan suatu ilmu tanpa adanya bimbingan dari guru. Adapun untuk pengamalan ilmu duniawi, seseorang boleh mempelajarinya tanpa guru selama bukan ilmu yang membutuhkan keahlian khusus dan tidak memiliki dampak secara langsung pada jiwa manusia, seperti ilmu memasak yang bisa dipelajari secara otodidak.

  

Masa yang lama (طُوْلِ الزَّمَانِ )

  

 Dalam sebuah pribahasa dikatakan carilah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat. Selain itu dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dijelaskan bahwa barang siapa yang ingin memperoleh kebahagiaan di dunia maka raihlah dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin memperoleh kebahagiaan akhirat maka raihlah dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, maka raihlah dengan ilmu. Dari hadis tersebut bisa kita fahami, bahwa kehidupan dunia ini tidak hanya sesaat, walaupun sifatnya adalah fana, karena yang kekal adalah kehidupan akhirat. Sedangkan akhirat adalah tujuan akhir sebuah kehidupan. Oleh karenanya ketika seseorang menginginkan kehidupan yang sukses maka tuntutlah dan pergunakanlah ilmu itu dalam tiap segi kehidupan manusia. Sehingga apa yang kita lakukan menjadi terarah dan jelas tujuannya. Jika kita fikir, mencari ilmu itu sebuah proses untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, di dalam proses pasti ditemukan hambatan-hambatan, termasuk pemahaman yang tidak bisa didapat seketika itu. Proses pemahaman dalam mencari ilmu adalah secara bertahap, sehingga ketika seseorang itu lebih sering menela’ah kajian keilmuan, maka ia akan mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait keilmuan tersebut, namun sebaliknya, ketika seseorang itu jarang sekali menela’ah sebuah keilmuan, maka pemahaman yang ia dapatkan membutuhkan waktu yang lama. Hal ini memberikan pengertian bahwa tidak ada batasan waktu dan usia dalam menuntut ilmu, bahkan sampai maut menjemput. 

  

Sumber:

  

Asy-Syaikh Az-Zarnuji. tt. At-Ta’liimul Muta’allim Thariiqut Ta’allum. Semarang: Maktabah Hasan Bin Idrus 

  

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin . 1995.  Syarah Riyadhus Shalihin, karya, Cet. ke-1. Riyadh :Dar Al-Wathan.