(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Tantangan dan Solusi Kaum Muda PMII di Era Disrupsi

Horizon

Ucapan selamat kepada panitia, baik SC maupun OC, yang menyelenggarakan Muktamar Pemikiran Dosen PMII yang diselenggarakan di UIN (SATU) Tulungagung, mulai tanggal 5-7 April 2021. Acara yang sangat luar biasa dan perlu diapresiasi. Tidak hanya dari peserta yang datang dari seluruh Indonesia, akan tetapi juga narasumbernya yang sangat hebat. Menteri, Pimpinan MPR, DPR, guru besar, birokrat dan para aktivis. Muktamar Pemikiran Dosen PMII ini merupakan   bukti tentang masih adanya gerakan di dalam tubuh PMII baik di kalangan yunior maupun senior dalam kaitannya dengan apa yang perlu dilakukan di tengah semakin menguatnya tantangan Era revolusi Industri 4.0 atau juga era disruptif.  

  

Saya bersama sejumlah nara sumber, yaitu: Prof. Mundzier Suparta, Prof. Noor Ahmad, Prof. Suyitno, dan Prof. Ulfiyah dipercaya oleh para sahabat PMII dalam acara Muktamar Pemikiran Dosen PMII di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Seharusnya juga Prof. Abdurrahman Mas’ud,  namun beliau terkendala sedang mengikuti vaksin Covid-19, maka beliau tidak bisa hadir. Saya terpaksa harus menggunakan zoom untuk acara ini sebab harus menunaikan kewajiban di Jakarta. Ada beberapa catatan yang saya ungkapkan di dalam acara tersebut, yaitu: pertama, PMII itu secara filosofis adalah wadahnya bagi orang yang suka bergerak atau dinamis. Makanya, yang diharapkan dengan keterlibatan di dalam PMII adalah adanya gerakan dalam berbagai level dan jenjangnya. Bagi yang dosen maka bergerak dengan kedosenannya. Bagi yang birokrat bergerak dengan birokrasinya, bagi yang pengusaha bergerak dengan perusahannya, bagi aktivis politik bergerak dengan politik etiknya, bagi mahasiswa harus aktiv dengan gerakan kemahasiswaan. Bagi mahasiswa tentu bukan bergerak menjadi korlap-korlap demonstrasi untuk mendukung personal tertentu tetapi bergerak menentang terhadap kebijakan yang dirasakan tidak memihak rakyat, dan memihak kepada keadilan, kesetaraan dan kemerdekaan.

  

Kedua, Era sekarang merupakan era baru, yang disebut sebagai era Revolusi Industri 4.0 atau Era disruptif atau Era artificial intelligent. Era ini ditandai dengan semakin kuatnya penggunaan teknologi informasi yang tidak bisa ditolak kehadirannya. Siapa pun akan terkena hukum teknologi informasi, sehingga siapa menolak menggunakannya tentu akan tertinggal. Misalnya media social saja, sekarang sudah dikuasai oleh mereka yang konservatif dan bukan kalangan Islam wasathiyah. Kaum konservatif ini sudah memulainya 10-15 tahun yang lalu, dan kita baru 5 tahun terakhir terlibat di dalamnya. Semakin menguatnya media-media social semacam ini akan bisa menjadikan “pertarungan” paham keagamaan juga semakin semarak. Jika kita masih berharap “non-media social” yang akan menang maka kita akan terkapar. 

  

Mari kita cermati media sosial apa yang paling dominan di negeri ini. Dari yang memperoleh viewer atau follower tinggi,  hanya nu.or.id sebesar 10,2%, Alif.id. 1,7% dari 10 Media online di Indonesia. Selebihnya masih menjadi tanda tanya. Kita masih beruntung sebab berdasarkan survei lain, bahwa ulama masih menjadi rujukan dengan 72,9%, orang tua 42,4% dan guru agama 35,5%, Youtube 24,1%. Namun yang paling menyedihkan bahwa guru yang dijadikan rujukan adalah guru media sosial, yang mengajarkan gerakan-gerakan salafi dalam berbagai variannya. Mulai dari yang menyalah-nyalahkan keberagamaan “sang liyan”, “mengkafirkan” dan bahkan “gerakan ekstrim”.

  

Ketiga, Sahabat-sahabat muda PMII merupakan generasi milenial, usianya bi bawah 37 tahun, yang kebanyakan merupakan generasi dengan kemampuan yang baik, terutama dalam penguasaan teknologi informasi, misalnya gadget dengan berbagai aplikasinya. Kaum muda itu ditandai sebagai generasi eksplorer, yang suka untuk menjelajah berbagai pengalaman baru. Kebanyakan belajar tentang pengalaman. Menyukai hal-hal yang serba cepat dan mudah atau sesuatu yang tidak rumit. Itulah sebabnya mereka tidak menyukai tulisan-tulisan panjang, tetapi lebih suka misalnya pesan-pesan pendek tetapi rasional dan fleksibel. Itulah sebabnya generasi muda itu generasi twitter, IG, facebook, dan tiktok. Pesan segala sesuatu yang bercorak pendek seperti infografis, meme, dan speed writing itu penting.  Namun mereka merupakan generasi yang menyukai kolaborasi dan jejaring. Inilah sebenarnya kekuatan yang bisa digunakan untuk kepentingan membangun masa depan generasi muda, termasuk generasi muda PMII.

  

Keempat, dua problema dan tantangan ini saja sudah sangat berat. Diperlukan upaya-upaya yang serius untuk menghadapinya. Dalam aspek keberagamaan yang semakin konservatif, maka generasi muda PMII harus semakin memperkuat pemahaman keberagamaannya yang wasathiyah. Hanya para pemeluk Islam wasathiyah yang akan terus menggemakan dan menggelorakan \"NKRI Harga Mati”. Di sekeliling kita semakin kuat yang berbeda paham ini. Transformasi dan enkulturasi Islam wasathiyah harus terus menerus dipompakan kepada generasi muda. Jangan pernah terhenti. Kedua kaki kita harus tegak di atas pilar-pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan keberagaman).

  

Kelima, Jadilah generasi muda yang memiliki kemampuan ekselen sesuai dengan zamannya. Kemampuan professional, inovatif, komunikatif dan kolaboratif. Jadilah mahasiswa yang memiliki kemampuan belajar yang baik dan belajar dengan baik. Era yang akan datang merupakan era sahabat semua. Jika  sahabat tidak melakukan persiapan yang baik, maka kita akan ketinggalan. 

  

Dalam menghadapi serangan bertubu-tubi Islam konservatif dan ekstrimis, maka juga kuasai media social. Kita memang ketinggalan tetapi harus berpikir “better late than never”. Semua speak up, semua bergerak. Jadilah generasi muda yang memiliki kemampuan ekselen sesuai dengan zamannya. Kemampuan professional, inovatif, komunikatif dan kolaboratif. 

  

Jadilah mahasiswa yang memiliki kemampuan belajar yang baik dan belajar dengan baik. Era yang akan datang merupakan era sahabat semua. Jika sahabat tidak melakukan persiapan yang baik, maka kita akan ketinggalan. Jangan pernah berhenti. Mohammad Iqbal menyatakan: “siapa yang berhenti di jalan ini , sejenak sekalipun pasti akan terlindas”. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.