(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Tentang Perempuan: Berkarir atau Ibu Rumah Tangga

Horizon

Oleh: Laily Bunga

Mahasiswa PPs UIN Sunan Ampel Surabaya 

  

Wanita menurut etimologis dalam etimologi Jawa, kata wanita berasal dari frasa ‘Wani Ditoto’ atau berani diatur. Sebutan wanita dimaknai berdasarkan kemampuannya untuk tunduk dan patuh pada lelaki sesuai dengan perkembangan budaya di tanah Jawa pada masa tersebut. Sementara itu menurut bahasa Sanskerta, kata perempuan muncul dari kata per empu an. 'Per' memiliki makna makhluk dan 'Empu' artinya mulia, tuan, atau mahir, sehingga dapat disimpulkan bahwa makna kata perempuan adalah makhluk yang mulia, atau memiliki kemampuan. Kata keperempuanan menurut KBBI di tahun 1988 justru bermakna 'kehormatan sebagai perempuan'.

  

Ini sebabnya nama lembaga yang ada adalah ‘Komnas Perempuan’ dan bukan ‘Komnas Wanita’, atau nama Kementerian yang melindungi kesejahteraan perempuan adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan bukannya Kementerian Pemberdayaan Wanita. Kata wanita yang terdengar indah dan elegan itu memiliki sejarah panjang sisa-sisa sistem feodal dan nuansa patriarki pada zaman dahulu. Kebalikannya, kata perempuan justru memiliki makna yang lebih kuat.

  

Perempuan atau Wanita memiliki kedudukan yang sama harus dihormati dan dihargai karena Wanita merupakan seseorang yang melahirkan sang penerus bangsa, dalam istilah jawa dimana kodrat perempuan itu ada tiga, yakni Macak, berarti perempuan harus bisa dandan atau berhias. Masak, selain berdandan ini seperti hal wajib yang harus dikuasai bisa memasak karena bisa mengolah makanan untuk suami dan keluarganya kelak, karena jika tidak memasak dianggap kurang atau bahkan dipandang sebelah mata dianggap tidak bisa mengurus menyenangkan suaminya. Lalu yang terakhir adalah Manak, yaitu menjadi kodrat yang amat penting bagi perempuan, harus bisa melahirkan generasi penerus ini juga menjadi suatu kebanggaan perempuan, karena jika belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya, maka belum sempurna menjadi seorang Ibu. 

  

Jangankan untuk keturunan, perempuan melahirkan bisa dengan dua cara, yaitu Caesar (Operasi Besar) dan melahirkan Normal itu saja bisa menjadi sedikit perdebatan dikalangan masyarakat, karena yang melahirkan lewat jalan operasi masih belum menjadi sempurna karena lebih mudah daripada melahirkan normal padahal melalui jalur manapun, tetap saja perempuan mahkluk yang hebat dan kuat bisa mengandung sampai sembilan bulan begitupula dengan perempuan yang belum bisa memiliki keturunan, karena keturunan adalah amanah dari Allah SWT yang dititipkan pada rahim perempuan. 

  

Kaum hawa ini menurut Najwa Shihab, dalam sebuah konten Youtube memiliki tiga kodrat saja, yakni menstruasi yang dialami setiap bulannya, lalu melahirkan dan yang terakhir menyusui selain itu bukan kodrat perempuan dan perempuan tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus mampu berkarya bukan untuk bersaing dengan lelaki, tapi memang harus bisa menjadi mandiri yang tidak hanya bergantung saja bisa berdiri diatas kaki sendiri karena Ibu Kartini dengan semboyannya “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang telah memperjuangkan kaum perempuan untuk kesetaraan pendidikan sampai pada membangkitkan kualitas hidup perempuan, akhirnya perempuan bisa berpendidikan tinggi dan realitanya adalah saat ini banyak wanita yang berkarya turut andil dalam kepemimpinan pemerintahan. 

  

Seorang perempuan dihadapkan dengan berbagai problema dalam hidup, setelah tentang kodratnya sendiri perempuan juga harus memilih berkarir atau ibu rumah tangga dimana ini menjadi pilihan sulit yang harus dihadapi semua kaum hawa untuk memilih peran antara berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, yang memilih berkarir ini yang menjadi dilema para perempuan terlebih pada mereka yang sudah berjuang menyelesaikan pendidikan tinggi. Jika memilih berkarir, dianggap egois karena lebih mementingkan karir daripada mengurus suami dan anak dan dianggap sudah sepatutnya jika setelah sekolah tinggi harus berkarir, karena ketika sudah berpendidikan tinggi memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, inilah yang menjadi bualan atau omongan masyarakat terutama ibu-ibu pemikiran kolot seperti percuma sudah capek sekolah tinggi kalau tidak bekerja, sebaliknya jika kita para perempuan sudah menyelesaikan atau bahkan melanjutkan  pendidikan yang lebih tinggi jika hanya menjadi ibu rumah tangga saja, juga tak lepas dari pandangan masyarakat yang menyayangkan sudah sekolah tinggi hanya menjadi ibu rumah tangga, padahal keduanya adalah sama-sama penuh dengan perjuangan.

   

Wanita karir, tidak banyak yang tau bahwa perempuan pada strata menengah kebawah, memilih berkarir atas dasar ekonomi, sedangkan untuk strata menegah keatas adalah menjadi bagian aktualiasasi diri dari ilmu yang sudah mereka peroleh. Wanita berkarir juga untuk kesejahteraan, dapat membagi waktu dengan keluarga meskipun dengan segala konsekuensi harus siap tidak bisa full time mengurus anak dan intensitasnya berkurang dalam melihat tumbuh kembang anak dan harus menyiapkan seorang baby sitter atau daycare dan ini pasti akan mengeluarkan biaya lagi untuk membantu mengurus anak, namun jika dekat dengan orang tua bisa meminta bantuan orang tua dan masih banyak lagi begitu repotnya wanita karir membagi waktunya antara kerjaan dan rumah tangga. 

  

Ibu rumah tangga, tidak kalah mulia dengan wanita karir karena seorang ibu rumah tangga mengurus segalanya, meski tidak berpenampilan rapi atau berdaster adalah baju dinasnya yang menjadi sebuah keanehan atau dipandang sebelah mata adalah ibu rumah tangga dianggap tidak bekerja atau di rumah saja, padahal pekerjaan rumah tiada hentinya terlebih jika perempuan sekolah tinggi lalu memilih menjadi ibu rumah tangga, perempuan melanjutkan pendidikan tinggi bukan hanya untuk melanjutkan karir yang bagus sebagian orang ada yang bertujuan untuk karirnya dan lainnya adalah untuk bekal mendidik anaknya sebagai generasi penerus karena seperti kata salah satu aktris yang berpendidikan tinggi Dian Sastro, menjelaskan entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, wanita wajib untuk berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu yang cerdas, dan ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas. Tak jarang ibu rumah tangga dianggap remeh karena tidak bisa menghasilkan uang, di era teknologi yang semakin pesat saat ini ibu yang pintar akan mau belajar untuk berbisnis dari rumah tetap berpenghasilan sembari mengurus anaknya.

  

Berkarir atau menjadi ibu rumah tangga sama-sama memiliki tujuan yang baik serta konsekuensi dari setiap pilihan dan keduanya adalah pekerjaan yang mulia tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihat dan menilai tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah semua menjadi perempuan hebat dijalannya masing-masing dan perempuan harus tetap bisa berkarya dimana pun tempatnya dan tetap menjadi perempuan yang hebat dibidangnya.