(Sumber : nursyamcentre.com)

Abu Fida : Geliat Rekrutmen Hingga Kaderisasi ISIS

Informasi

Seiring semakin berkembangnya tekhnologi, siapapun dapat memperoleh berbagai informasi dimana saja dan kapan saja di media sosial. Tak hanya itu, melalui media sosial juga siapapun dapat membangun hubungan pertemanan lintas negara dan agama.

 

Hal ini sebagaimana telah dialami Saifuddin Umar atau kerap disapa Abu Fida eks kelompok ISIS. Ia mengaku bahwa Abu Fida terpapar paham Islam garis keras hingga terperosok ke dalam lingkaran kelompok ISIS melalui informasi yang didapat di media sosial dan sekaligus lingkaran pertemanan di dalamnya.

 

"Perang media sosial memang merupakan salah satu langkah yang diutamakan dalam penyebaran paham yang dianut oleh ISIS. Dibaikkan media massanya, dibaikkan iklannya, dan dibaikkan rekruitmennya. Yang jadi menarik untuk orang," jelasnya selaku Narasumber dalam Seminar Nasional yang bertajuk Moderasi Beragama di Tengah Geliat Islam Radikal yang digelar melalui Meeting Online Zoom oleh Nur Syam Centre,(18/06).

 

"Sementara yang membuat propaganda tersebut bukan dari orang Siria. Melainkan dari orang Eropa, Italia, Prancis, Inggris, Amerika, dan Jepang," tambahnya.

 

Propaganda di Media Sosial

 

Propaganda yang diciptakan oleh kelompok ISIS untuk menarik para anggota baru, salah satunya adalah isu pembebasan diri dari dosa untuk masuk syurga. Demikian disampaikan oleh Abu Fida bahwa kerap kelompok ISIS mengajak aggota baru dengan bujuk rayuan pembebasan diri dari kemaksiatan yang terbelenggu dan dosa yang menumpuk melalui jalan jihad.  Jalan jihad disini yang berarti termasuk membunuh diri sendiri alias bunuh diri.

 

"Hingga tak jarang orang tersesat dan mau mengikuti jalan itu dengan bunuh diri untuk bersih dari dosa. Dari googling bisa mengbom, dari googling bisa membunuh orang. Dari googling juga bisa memberi kecintaan kepada orang lain," ujarnya.

 

Adanya Jaminan Hidup


Baca Juga : Tentara

 

Selain isu pembebasan diri dari dosa, rekruitmen anggota oleh kelompok ISIS dilakukan dengan memberi jaminan hidup secara ekonomi. Abu Fida juga mengatakan bahwa setiap orang yang ikut bergabung dalam kelompok ISIS awal mula mendapat tawaran menarik berupa jaminan hidup secara finansial. Namun kenyataan akhir berbeda, justru anggota yang telah terperangkap dalam lingkaran kelompok ISIS diperintah untuk berperang dengan dalih berjihad.

  

"Salah satunya ya tertarik karena jaminan hidup. Ingin merubah nasib. Tapi malah disana disuruh perang. Tak hanya itu mereka menerapkan perbudakan dan menjual budak," ungkapnya.

  

"Itu yang akhirnya mencoreng nama Islam. Sehingga Islam dikenal buruk. Dan dari situ saya menyadari bahwa kelompok ini tidak benar. Dan menyadari bahwa sebenarnya Islam itu baik," tambahnya.

  

Melalui Gerakan Non Jaringan

 

Dalam rekruitmen kelompok ISIS lebih mengutamakan cara dialog dan penggunaan media sosial secara masif. Seperti yang disampaikan Abu Fida kelompok ISIS tak mempunyai mantra khusus untuk menarik anggota baru. Melainkan mereka lebih mengutamakan cara berdialog dan tanpa gerakan yang terstruktur.

  

"Yang diutamakan non jaringan. Kalo jaringan itu, misalnya ada presiden, camat, rt dan rw. Ini adalah manajemen lama bagi mereka (ISIS). Manajemen lama ini oleh ISIS dipangkas. Bagi mereka yang penting pekerjaan itu siapa yang bisa mengerjakan apa," ucapnya.

  

"Kenapa mudah menarik anggota. Memang yang ditekankan adalah media. Bagaimana media menjadi menarik dan magnetis," tambahnya.

 

Terakhir Abu Fida pun menyampaikan agar generasi muda lebih berwaspada dan hati-hati dalam memperoleh informasi melalui media sosial. Tak hanya itu, dirinya berpesan agar mengambil pembelajaran dari orang yang telah terpapar oleh Islam yang ekstrem. "Selektif lah terhadap apa yang dididapat dari sosial media," jelasnya.

 

Demikian Nur Syam Guru Besar Sosiologi UINSA selaku Narasumber dalam Seminar Nasional tersebut juga menyampaikan agar generasi muda lebih cerdas lagi dalam bermedia. "Hati-hati. Jangan asal klik sana klik sini, kita harus kenali website ini milik siapa dengan melihat konten yang ada.  Karena kalo sudah klik suatu informasi di website, orang itu akan terus ditarik dan ditarik hingga terperosok di dalam kelompok di balik website tersebut," pungkasnya. (Nin)