(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Antara Akhlak dan Jilbab

Informasi

Perempuan dan jilbab adalah persoalan yang kerap menjadi perdebatan hangat  yang mengemuka. Seperti yang terjadi belakangan ini, viral isu Nissa Sabyan pelantun musik religi berjilbab yang dikabarkan merebut suami orang, yakni Ayus, suami dari Ririe Fairus. Lantas, tak sedikit warganet  yang kemudian memberi ragam komentar yang mengaitkan isu tersebut dengan jilbab yang dipakainya di media sosial.

  

Hal ini sebagaimana disampaikan Neny Nur Hayati Directur Eksecutive Democracy and Electoral and Empowerment (DEEP) sekaligus aktivis Nasyiatul Aisyiyah, persoalan perempuan dan jilbab merupakan persoalan klasik yang sebenarnya sudah selesai. Menurutnya, keputusan  memakai jilbab merupakan persoalan  pilihan dan kenyamanan.

  

"Sah-sah saja. Itu hanya persoalan kenyamanan," ucapnya saat diwawancara oleh crew NSC, (19/02/21).

  

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa antara perilaku perempuan berjilbab dan jilbab yang dipakainya merupakan dua hal yang berbeda. 

  

"Dua hal yang berbeda yaitu jilbab dan akhlak. Jilbab ya jilbab. Akhlak ya akhlak.  Ini persoalan prinsip," terangnya.

  

"Kadang juga ada kan yang ilmunya tinggi, tapi tidak berakhlak," celetuknya.

  

Dengan begitu menyalahkan perilaku buruk seorang muslimah karena jilbab yang dipakainya adalah hal yang tak semestinya dilakukan. Demikian disampaikan Neny, semestinya sesama umat muslim mendoakan agar orang yang bersangkutan dapat memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. 

  

"Jangan salahkan jilbabnya. Jangan mendiskreditkan," ujar Neny.


Baca Juga : UU Cipta Kerja dan Harga Mati Demokrasi

  

Demikian Neny kembali mengatakan bahwa setiap orang tak lantas dapat menghakimi seorang muslimah berjilbab tersebut dengan sewenang-wenang. 

  

"Tidak bisa menghakimi seseorang. Selalu gunakan asas praduga tak bersalah," ucap wanita berkacamata itu yang kini tengah melanjutkan studi S2 Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran.

 

Tak hanya itu, Neny juga menghimbau agar warganet tak mudah terprovokasi dan reaktif, serta dapat berpikir positif. Demikian tak berkomentar yang membuat ribut dan kisruh di media sosial.

  

"Jangan merasa paling benar sendiri. Sebelum ada alat bukti yang kuat. Al insanu makanul khota' wa nisyan," tegasnya.

  

Mengakhiri perbincangannya, ia mengatakan, setiap orang tentu mempunyai hati nurani untuk berbuat kebaikan. Sedang, hal yang paling mulia dalam ajaran Islam adalah memaafkan.

  

"Jangan terpecah belah sesama umat muslim karena hal yang sederhana seperti ini. Bisa jadi dibalik hal ini dibuat oleh oknum yang berkepentingan," tuturnya.

  

"Di dalam al-Qur'an kan kita juga telah diterangkan tentang toleransi, moderasi, inklusivitas, dan menebarkan Islam yang rahmatan lil 'alamin kepada sesama," tutupnya. (Nin)