(Sumber : Nur Syam Centre)

Densus 88 Anti Teror: Da'i dan Khatib Harus Mengedepankan Islam Wasathiyyah

Informasi

Masih terdapat sekelompok orang yang menyangsikan tentang Islam wasathiyyah atau Islam moderat. Mereka menanyakan seharusnya dinyatakan Muslim Moderat dan bukan Islam moderat. Konsekuensi konsep Islam moderat adalah ada Islam yang tidak moderat. Lalu juga masih ada pertanyaan apa batasan toleransi itu? Apakah bisa terlibat di dalam upacara di dalam gereja padahal seseorang beragama Islam. Masih juga ada yang menyatakan bahwa pluralisme itu istilah yang salah karena bias pemikiran Islam liberal. 

  

Pertanyaan dan ungkapan ini saya sampaikan dalam acara “Silaturrahmi Da’i dan Khatib Dalam Memperkuat Islam Wasathiyah Untuk Indonesia Damai” yang dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo dan Pemda Sidoarjo, 17 September 2022 di Pendopo Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Hadir pada acara ini Bupati Sidoarjo, Ahmad Muchdlor Ali, Kapolres Sidoarjo, Pimpinan organisasi Islam di Sidoarjo, Kakankemenag Sidoarjo, Arwani, dan para aktivis organisasi di Sidoarjo. Sebagai narasumber adalah KH. Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Nur Syam, MSi, Guru Besar Sosiologi UINSA dan Ust. Muhammad Saifuddin Umar alias Abu Fida’, mantan teroris, yang sekarang sudah kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Hadir juga AKBP. Moh. Dofi, panitia pelaksana Silaturrahmi dari Densus 88.

  

Saya sampaikan bahwa terdapat pandangan tentang pluralisme dan toleransi. Saya membaginya  menjadi pluralisme teologis yaitu upaya untuk mencampur teologi agama-agama, misalnya yang dilakukan oleh Lia Eden, dan ada pluralisme sosiologis yaitu pandangan bahwa antar pemeluk agama bisa melakukan kerja sama dan saling mengakui keberadannya. Di Amerika sebagaimana laporan Diane L. Eck, bahwa masyarakat Amerika semakin religius. Demikian juga toleransi juga bisa dibagi dua, yaitu toleransi teologis dan teologi sosiologis. Toleransi teologi merupakan upaya untuk mengakui kebenaran teologi agama yang sesungguhnya berbeda. Tidak ada perbedaan antara teologi Islam dan lainnya. Hal yang seperti ini tidak bisa, misalnya menyatakan bahwa semua agama sama dan benar. Tetapi toleransi sosiologis adalah kesediaan untuk membangun relasi antar umat beragama yang berbeda secara teologis dan ritual menjadi basis untuk tetap saling berhubungan dalam kehidupan. 

  

Kiai Marzuki Mustamar, banyak menyampaikan pandangannya terkait dengan upaya untuk menangkal terhadap upaya kaum Salafi terutama di media sosial. Persoalan-persoalan seperti yasinan, tahlilan, membaca Qur’an di makam, ziarah kubur,  membaca wirid dan sebagainya semuanya memiliki landasan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang sudah dituliskan oleh para ulama ahli hadis di masa lalu yang penjelasannya sangat jelas.   Beliau menyatakan: “perkara memasak, memberi makanan dan minuman pada para pentakziyah semuanya memiliki dasar di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana telah diungkapkan oleh ahli hadits. Memang yang wajib hanya empat untuk merawat jenazah, yaitu memandikan, mengafani, menyolati dan mengubur, tetapi ada yang diperbolehkan dan bukan kesalahan, misalnya telah dijelaskan oleh para ahli hadis. Jadi jangan lalu dibidh’ahkan, dikafirkan dan sebagainya. Biarkan yang mau melakukan, dan biarkan yang tidak mau melakukan”. Dinyatakannya juga: “tentang taklid, sebenarnya NU dan Muhammadiyah sama. Bagi yang awam agamanya memang wajib taklid yaitu mengikuti amalan agama yang dilakukan oleh para ahlinya. Bagi yang bisa memahami dengan kemampuan ilmu agamanya, maka bisa melakukan yang berbeda dengan orang awam. Jadi jargon kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah itu benar tetapi pemahamannya melalui para ahlinya”. 

  

Bupati Sidoarjo, Ach. Mudhor Ali juga menyatakan: “kita menghadapi gerakan radikalisme yang sudah menyebar ke segenap lapisan masyarakat. Oleh karena itu kita tidak boleh pasrah begitu saja kepada Densus 88 dan BNPT. Kita harus terlibat di dalam masalah ini. Kita harus peduli dengan lingkungan kita. Pemerintah saja tidak cukup. Masyarakatlah yang harus memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sosial masyarakatnya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan maka agar segera dikoordinasikan dengan pihak-pihak yang berwenang tentang hal tersebut”. 

  

AKBP Moh. Dhofir (Kanit I Kontra Ideologi Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror) di dalam sambutannya juga menyatakan bahwa: “radikalisme merupakan lahan subur bagi perkembangan sikap intoleran yang akan menjadi bibit dari perilaku kejahatan teorisme. Untuk menanggulangi paham, sikap dan perilaku radikal, maka masyarakat harus terlibat melalui keterlibatan para da’i dan khatib, sehingga akan memunculkan sikap toleran, mencintai negaranya dan tetap menjadikan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan sebagai pilar kebangsaannya”. 

  

Densus 88 Anti Teror  bekerja sama dengan Kemenag dan Pemda di seluruh Jawa Timur berupaya untuk melakukan pencegahan melalui program silaturahmi dengan para khatib dan da’i agar ke depan akan terjadi penguatan Islam wasathiyyah untuk Indonesia Damai. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.