(Sumber : Nur Syam Centre)

Densus 88 dan Upaya Membangun Moderasi Beragama

Informasi

Sebagai seorang da’i dan khatib, maka sesungguhnya Al-Qur’an sudah menjelaskan bagaimana etika sosial berkomunikasi harus dilakukan. Di dalam Islam dijelaskan dengan sangat jelas bahwa berkomunikasi baik oral maupun lesan harus menggunakan enam prinsip, yaitu: Qoulan sadidan: berkata dengan penuh ketegasan dan kebenaran, Qaulan Balighan:  menggunakan kata-kata yang efektif, mudah dipahami, jelas dan tepat sasaran. Qaulan layyinan: perkataan yang lemah lembut. Perkataan yang menyentuh terhadap dimensi perasaan dan hati. Qaulan kariman: perkataan yang mulia penuh dengan semangat saling menhormati, penuh dengan kesopanan  dan kesantunan serta menghargai harkat dan martabat kemanusiaan. Qaulan ma’rufan atau perkataan yang pantas dan baik. Perkataan yang sesuai dengan kaidah berbahasa dengan nilai kebaikan. Qaulan maysuran: perkataan yang mudah dipahami, mudah dimengerti dan sesuai dengan prinsip dan etika komunikasi. Jadi seharusnya di dalam berdakwah melalui media lesan dan  media social juga jangan menggunakan ungkapan yang menyakitkan hati orang lain, misalnya dengan mengkafirkan, membidh’ahkan dan bahkan menyerang kepribadian dengan cara-cara yang tidak Islami.

  

Ungkapan ini saya sampaikan dalam acara yang digelar oleh Densus 88 dalam tajuk acara “Silaturrahmi Da’i dan Khatib Surabaya Jawa Timur”. Acara ini diikuti oleh Ketua Penyelenggara Moh. Dhofir, SAg., SH, MH (Kasubdit I Kontra Ideologi Direktorat Pencegahan Densus 88), kemudian dibuka oleh Sekda Kota Surabaya Ir. Hendro Gunawan, MA. Sejumlah pejabat hadir di antaranya adalah Letnan Kolonel Infanteri Arief Widyatmoko (Kasdim Kodim Surabaya Selatan), Letnan Kolonel Arhanuf  Drs. Adnan (Kasdim Kodim Surabaya Timur), Letkol Inf Djarno Djumadi, SPd (Kasdim Kodim Surabaya Utara), Kompol Edi Hartono AMD (Kasat Intel Poltabes Surabaya), Dr. Pardi, MPdI (Kepala Kantor Kemenag Surabaya), dan 200 khatib se Surabaya. Acara ini diselenggarakan di Balai Pemuda Surabaya, 15 September 2022. Hadir sebagai narasumber: Prof. Dr. Nur Syam, MSI, Prof. Dr. Ali Maschan Musa, MSI dan Miftahul Munif (Eks Napiter).

  

Miftahul Munif adalah salah seorang yang pernah menjadi penganut Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Jawa Timur sebelum pengeboman gereja di Surabaya. Ia dipilih menjadi pimpinan JAD karena intensitasnya di dalam mengikuti kegiatan kelompok jihadis. Miftah menyatakan bahwa pada awalnya dia melihat adanya ketidakadilan di negeri ini. Akhirnya mengantarkannya untuk membuka internet dan bertemulah dengan konten-konten yang memiliki kesamaan visi memberantas ketidakadilan dan menginginkan perubahan ideologis. Semakin dalam terlibat di dalam dunia internet akhirnya sampailah Miftah dalam pengembaraan bersama kaum Jihadis. Setiap ada ta’lim yang dilakukan oleh tokoh idolanya, maka Miftah selalu  hadir  dan akhirnya dia terpilih menjadi pimpinan JAD Jawa Timur. Melalui pembinaan yang dilakukan oleh murabbi’nya, maka Miftah benar-benar menjadi bagian dari kaum Jihadis. Ketika terjadi pengeboman terhadap Gereja di Surabaya, maka Miftah ditangkap oleh Densus 88. Di dalam penjara itulah dia mulai tersadar bahwa yang dilakukannya itu salah. Perlakuan yang sangat baik dari Densus 88 yang menyebabkannya berubah. Miftah menyatakan: “saya menyatakan terus terang bahwa Densus 88 sangat baik dalam memperlakukan saya. saya diberikan dana untuk kepentingan hidup saya, diajari untuk berusaha dan sebagainya”. 

  

Sementara itu, Kiai Ali Maschan Musa banyak menceritakan dalil-dalil agama untuk menerapkan kehidupan beragama di Indonesia. Misalnya kata khilafah, yang oleh kaum ektrimis dianggap sebagai dalil untuk mendirikan negara Islam, maka hal itu merupakan kesalahan besar. Nabi tidak mendirikan negara Islam di Madinah. Di dalam piagam Madinah tidak ada satu katapun yang menyebutkan negara Islam. Nabi justru mendirikan kepemimpinan di Madinah yang berbasis atas pluralitas dan keanekaragaman. Semua umat dilindungi dan dihargai. Sama halnya pada waktu Nabi Muhammad SAW wafat, maka yang dilakukan adalah memilih pemimpin dan ternyata yang terpilih sayyidina Abu Bakar. Tidak mendirikan negara Islam. Oleh karena itu, para da’i dan khatib harus mendakwahkan Islam yang wasthiyah jangan ikut-ikutan mempercayai terhadap kelompok yang ingin mendirikan Negara Islam dan juga ingin mengubah Pancasila dengan ideologi Islam. Mari kita satukan langkah kita untuk tetap menjaga Pancasila,  NKRI dan keberagaman. Itulah sebabnya saya menulis buku: “NKRI Harga Mati”. 

  

Sementara itu, Moh. Dhofir menyatakan: “silaturahmi ini untuk memperkuat Islam wasathiyah untuk mewujudkan Indonesia damai dan cinta tanah air. Kita harus melawan terhadap intoleransi yang sesungguhnya melawan terhadap keanekaragaman dan pengingkaran atas kebinekaan kita sebagai bangsa dan hal itu tentu bertentangan dengan Pancasila maupun norma-norma agama yang kita anut selama ini”.

  

Saya juga menyatakan bahwa acara ini patut diapresiasi sebagai bukti kepedulian semua elemen masyarakat, termasuk Densus 88. Selama ini ada anggapan bahwa Densus 88 itu hanya menangkapi para terduga teroris, tetapi kali ini kita mengetahui bahwa Densus 88 juga melakukan upaya preventif untuk menanggulangi kekerasan agama melalui program membangun umat  beragama secara moderat.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.