(Sumber : nursyamcentre.com)

Disertasi Pertama UIN Sunan Ampel Menggunakan Mixed Methods

Informasi

Ada yang menarik dari ujian disertasi yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Ampel, 18 Agustus 2020 melalui Zoom dengan promovendus M. Anis Bachtiar. Disertasi M. Anis Bachtiar merupakan disertasi kali pertama di UIN Sunan Ampel yang menggunakan Mixed Method sebagai perangkat metode penelitian yang sekarang lagi ngentren di dunia kampus. Demikian disampaikan Nur Syam selaku Promotor mengatakan bahwa disertasi menggunakan Mixed Method kali pertama, yang selama ini nyaris tidak digunakan oleh para mahasiswa Program Doctor PPs UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Adapun komposisi penguji, yaitu Prof. Dr. Aswadi sebagai ketua, Dr. Syamsul Huda sebagai sekretaris, Prof. Dr. Amin Syukur, Prof. Dr. Nur Syam, MSi sebagai promotor, Prof. Dr. Mohammad Sholeh sebagai promotor, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, dan Dr. Siti Nur Asiyah. Dr. Anis merampungkan disertasi dengan judul "SILAT DAN MENTAL HEALTH: Perspektif Psikologi Islami di Padepokan Pagar Nusa Ashabul Mujahid Pondok Pesantren Al Manshur".

 

Mixed Methods

 

Kala itu Dr. Anis Bachtiar tampak menguasai disertasi yang ditulis dan pengetahuan metodologi yang digunakan hingga akhirnya ia memperoleh peringkat sangat memuaskan. Demikian, pada hari itu juga telah resmi menyandang gelar Doctor UIN Sunan Ampel yang ke 603. Adapun tiga design penelitian Mixed Methods yang digunakannya dalam disertasi, yaitu Explanatory Research, Exploratory Research and Triangulation. Hal ini demikian disampaikan Anis bahwa ia menggunakan design Explanatory research dengan cara melakukan penelitian kuantitatif terlebih dahulu dan melanjutkannya dengan penelitian kualitatif.

 

"Sebagai penelitian Mixed Method, maka pengumpulan data lapangan dilakukan berbasis pada kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya, dan juga uji instrument, sehingga hasil yang didapatkan dalam penelitian kuantitatif tentu sudah memenuhi syarat yang baku," ucap Anis.

 

Sementara, untuk penelitian kuantitatif, maka desain yang dipilih adalah methode experimental, dengan menetapkan sejumlah responden yang dijadikan sebagai kelompok control dan sejumlah responden menjadi kelompok eksperimen. Anis pun menyampaikan bahwa terdapat dua rumusan masalah yang menjadi pertanyaan akademis di dalam penelitian ini. Pertama, adakah pengaruh pelatihan relaksasi silat Pagar Nusa Ashabul Mujahid terhadap peningkatan kesehatan psikhis?. Kedua, apakah pemahaman yang mendalam guru spiritual tentang agama, pelatihan yang terstruktur, dan lingkungan pelatihan menentukan terhadap pemahaman spiritual anggota Padepokan Ashabul Mujahid Ponpes Al Manshur Jombang?

 

"Adapun hipotesis yang diuji  di dalam penelitian ini adalah 'Tidak ada pengaruh Pelatihan silat tenaga dalam Pagar Nusa Padepokan Ashabul Mujahid terhadap peningkatan mental health'. Sedangkan, kerangka konseptualnya adalah variabel terikat mental health  terdiri dari dua sub variabel, yaitu self control dan spiritualitas, dan variabel bebasnya adalah pelatihan silat tenaga dalam," ujarnya.

 

Saat ini untuk melakukan analisis data kuantitatif tidak lah sulit, sebab sudah ada aplikasi yang memudahkan. Penelitian kuantitatif dapat menggunakan uji statistik melalui SPSS Uji T Sample Berpasangan, yaitu pasangan kelompok eksperimental dan kelompok kontrol. Seperti halnya disampaikan Anis, ia menyampaikan bahwa kedua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan pre test untuk mengetahui seberapa nilai yang didapatkannya. Lalu, kelompok eksperimen diberikan treatmen berupa pelatihan relaksasi spiritual. Sedangkan, kelompok kontrol tidak diberikan.


Baca Juga : Prof. Nur Syam; PTKIS Harus Berubah Jika Ingin Eksis di Masa Depan

 

"Kedua kelompok ini masing-masing belajar silat, hanya saja untuk kelompok eksperimental diberikan treatmen tersebut. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa hipotesis nihil ditolak dan hipotesis alternatif diterima, yaitu ada pengaruh signifikan pelatihan relaksasi spiritual terhadap kesehatan psikis anggotanya, dan hipotesis nihil yang berbunyi 'tidak ada pengaruh pelatian relaksasi spiritual terhadap kesehatan jiwa anggotanya', ditolak," tuturnya.

 

Berpengaruh Pada Kesehatan Mental

 

Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa perbedaan pre test dan post test untuk kelompok eksperimen adalah rerata hasil pre test sebesar 64,75 dan hasil rerata post test sebesar  89,15. Demikian Anis mengatakan bahwa data ini menunjukkan bahwa kelompok ini diberikan treatmen silat fisik dan relaksasi spiritual.  Bahkan, ia kembali menyampaikan bahwa berdasar pada kelompok kontrol dengan rata pre test sebesar 23,70 dan rerata post test sebesar 35,10 pada aspek self control.

 

"Kelompok ini hanya diberikan pelatihan fisik saja. Dengan demikian dapat digambarkan bahwa tingginya self control yang disebabkan oleh pelatihan fisik dan spiritual pada kelompok eksperimen memberikan gambaran bahwa pelatihan silat fisik dan relaksasi spiritual berpengaruh terhadap kesehatan mental," ujarnya.

 

Lalu, peningkatan spiritualitas dinyatakan berdasarkan hasil pre test untuk kelompok kontrol sebesar 30,70, dan hasil post test sebesar 29,80. Sedangkan, untuk kelompok eksperimental sebesar 41,10 dan post test sebesar 52,10. Dengan demikian, pelatihan relaksasi spiritual ternyata berpengaruh signifikan terhadap spiritualitas anggotanya.

 

Relaksasi Spiritual

 

Sementara, ada beberapa nilai positif bisa didapat dalam pencak silat, yaitu meningkatkan ketaqwaan, cinta tanah air, kesehatan dan kebugaran, membangkitkan kepercayaan diri, melatih ketahanan mental, mengembangkan kewaspadaan diri, membina sportivitas, serta disiplin dan keuletan yang tinggi. Demikian Anis menyampaikan bahwa terdapat beberapa konsep relaksasi antara lain, cue-controlled relaxation, autogenic relaxation, relaxation via tension relaxation,  dan relaksasi kesadaran inderawi.

 


Baca Juga : Sebuah Formula Menghadapi Dampak Covid-19

"Padepokan Ashabul Mujahid menggunakan model cue-controlled relaxation, yaitu teknik menggabungkan pernapasan dengan amalan doa atau dzikir atau kata-kata sugestif yang menimbulkan implikasi kondisi santai, tenang dan nyaman. Selain itu juga diajarkan metode meditasi spiritual dengan menggunakan dzikir atau meditasi transsendental dengan pola membaca wirid yang bertujuan untuk mengembangkan self control dan spiritualitas,"tuturnya.

 

Adapun self control terdiri dari beberapa dimensi, seperti  behavioral control, cognitive control and decision control. Sedang, spiritualitas terdiri dari dimensi pengalaman spiritual, menemukan arti dan tujuan hidup, harmonis dengan alam, dan ketenangan diri. Hal ini demikian disampaikan Anis bahwa dalam konteks psikologi Islam dikenal istilah coping mechanism, yaitu mekanisme dari distress atau stress menjadi eustress.

 

"Dari imunitas menjadi imunitas baik, dari frustrasi menjadi prestasi dan dari disease exhausted  stage ke health," ucapnya.

 

Selain itu, dalam penelitian ini menggunakan konsepsi Imam Ghazali dalam Psikologi Islami yang memiliki paham bahwa rasionalitas inteligen saja tak cukup dan harus diimbangi dengan spiritualitas intelegen hingga kehidupan akan menjadi lebih bermakna.  Sedangkan, dari sisi teori psikologi pada umumnya digunakan pandangan William James dengan pendekatan fenomenologi psikologi.

 

"Pandangan William James ini menjelaskan bahwa pengalaman metafisika secara integral memiliki kaitan dengan ide-ide pluralistik dan keagamaannya. Jika pengalaman metafisika itu dilogika deduksi maka akan didapati pengalaman dzikir atau wirid sedangkan ide pluralistik dan keagamaan dapat dilogika deduksikan menjadi ketenangan berbasis spiritualitas, maka dapat dinyatakan bahwa pengalaman melakukan dzikir akan dapat membawa kepada ketenangan spiritualitas," imbuhnya.

 

Ketenangan Berbasis Spiritualitas

 

Kendati demikian, penelitian ini dilakukan oleh Anis dalam waktu satu tahun setengah sejak ujian proposal. Hingga mengakibatkan cukup menguasai akan disertasi yang ditulisnya. Selain itu, ia juga menguasai pengetahuan metodologi yang digunakannya. Hal ini demikian disampaikan Nur Syam bahwa Anis demikian menguasai pengetahuan metodologi yang nyaris saat ini belum tersentuh di PPs UIN Sunan Ampel.

 

"Selama ini kebanyakan disertasi menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, sehingga nyaris tidak ditemui penelitian yang menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif apalagi yang menggunakan Mixed Method. Banyak di antara mahasiswa yang memiliki pemikiran bahwa pendekatan kualitatif saja rumit apalagi harus ditambah dengan pendekatan penelitian kuantitatif," ujar Nur Syam.

 

Namun, penelitian ini tentu tak spektakuler dengan menghasilkan temuan yang baru. Melainkan, penelitian ini tentu telah membuka cakrawala baru bahwa dalam pencak silat program relaksasi spiritual. Demikian Nur Syam mengatakan bahwa relaksasi spiritual memiliki signifikansi di tengah kehidupan sosial yang makin krusial dan kompleks.

 

"Jika kemudian dibuat proposisi yang lebih empirik, maka pelatihan relaksasi spiritual memiliki keterkaitan dengan ketenangan  berbasis spiritualitas. Hal ini merupakan salah satu proposisi, dan tentu masih ada proposisi lain yang berkaitan dengan konsepsi fenomenologi psikologi Willian James ini," pungkasnya.