(Sumber : nursyamcentre.com)

Fatwa KH. Hasyim Asy'ari, Penggerak Utama Peristiwa Besar Bangsa Indonesia

Informasi

'Semua umat Islam yang berada di 94 km, maka Fardu 'Ain membela Surabaya' dimana bermula dari fatwa tersebut puncak Jihad perperangan pejuang bangsa Indonesia melawan musuh berkobar di kota Pahlawan, Surabaya. Fatwa yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari itu menjadi penggerak dan pemicu utama semangat Jihad dari berbagai kalangan masyarakat, mulai santri hingga warga Surabaya bahkan luar kota Surabaya untuk berperang melawan Inggris yang saat itu hendak mendarat di Indonesia, yang kini peristiwa tersebut diketahui oleh banyak orang sebagai Resolusi Jihad.

 

Fatwa dan Resolusi Jihad menjadi bagian penting untuk terus dikenang dalam lembar sejarah kemerdekaan negara Indonesia, serta menjadi contoh dalam semangat perjuangan dan keberanian untuk melawan penjajah. Bermula dari sebuah kabar yang ditulis oleh media Belanda tepat pada tanggal 14 Oktober 1945 menjelaskan bahwa Inggris yang bersekutu akan mendarat di Indonesia. Mereka akan menangkap orang-orang yang berkolaborator dengan Soekarno.

 

Mendengar kabar tersebut akhirnya Soekarno datang pada KH. Hasyim Asy'ari meminta saran dan masukan perihal kedatangan Inggris di Indonesia untuk tetap melawan atau menyerah pada Inggris. Ternyata yang datang meminta saran dan masukan pada KH. Hasyim Asy'ari tak hanya Soekarno, melainkan masih banyak orang-orang lainnya, seperti Komandan Hizbullah Kiai Sulam Samsul dan santri Tebu Ireng.

 

"Apa yang harus dilakukan jika ditangkap Inggris? (Soekarno). Akhirnya Mbah Hasyim mempunyai keputusan yaitu melawan. Sebab, kita memiliki bekal, yaitu melawan," jelas Agus Sunyoto dalam acara bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad, (17/10).

 

Sejak itu, tepat pada tanggal 21 Okotober 1945 Pimpinan Nahdlatul Ulama mengumpulkan seluruh masyarakat se-Jawa dan Madura. Hingga, per tanggal 22 Oktober 1945 akhirnya mucul yang namanya Resolusi Jihad. Pada kala itu, yang kerap disapa Mbah Hasyim ini mengirimkan sebuah fatwa kepada seluruh masyarakat yang berbunyi, 'Setiap orang Islam yang berada di jarak 94 km dari musuh, maka Fardu 'Ain melakukan perlawanan'.

 

"Hal itulah yang membakar orang Surabaya. Karena fatwa itu dicetuskan di Surabaya. Fatwa adalah tidak tercatat yang disampaikan langsung oleh KH. Hasyim Asy'ari. Sementara, Resolusi Jihad adalah tercatat yang diberikan oleh NU pada pemerintah," ucap Agus.

 

Kota Melawan Marabahaya

 

Sejak berdirinya kota Surabaya, kota ini sering kali terjadi peperangan. Peperangan demi peperangan terjadi di kota Surabaya, salah satunya yakni Perang Tartar. Akhirnya, bermula karena hal itu, kota Surabaya disebut sebagai kota yang kerap melawan mara bahaya. Peperangan demi peperangan tak pernah selesai di kota ini. Hingga, peperangan dan tawuran menjadi karakteristik kota Surabaya. Peperangan dan tawuran bukan lagi menjadi suatu hal yang baru, melainkan menjadi hal yang sudah biasa terjadi.


Baca Juga : Meneguhkan Islam dengan Etika

 

"Cerita perlawanan Surabaya. Itulah ketika ada fatwa jihad, Surabaya terbakar langsung. Pasca 22 Oktober 1945 kita bisa melihat memanasnya Surabaya. Saat kapal Inggris mendarat di Indonesia tidak diperbolehkan untuk mendarat. Itu pengaruh fatwa," ungkap lelaki paruh baya tersebut.

 

Fatwa Mbah Hasyim menyebar di tengah masyarakat pada tanggal 22 Oktober 1945. Sementara, pada tanggal 25 Oktober 1945, Inggris mendarat di Tanjung Perak Surabaya. Saat itu, keadaan kota Surabaya pun mulai memanas. Sisi lain, Inggris tak menduga jika akhirnya setelah mendarat disambut dengan peperangan oleh segenap masyarakat Surabaya. Sebab, sejak awal rencana, Inggris datang ke Indonesia hanya untuk menangkap para tawanan.

 

Pada tanggal 26 Oktober 1945, Inggris pun mendirikan pos-pos tawanan. Sedang, tepat pada sore harinya, pos pertahanan Inggris sudah diserang massa dari masyarakat Surabaya. Sejak itu juga, seluruh saluran mati total di Indonesia, seperti PDAM, saluran gas, dan lampu listrik. Hingga, untuk sekedar komunikasi dengan pihak luar tak dapat dilakukan. Pada tanggal 27 Oktober 1945, perperangan di Kota Surabaya pun dimulai. Sedang, pada tanggal 28 Oktober 1945 perperangan semakin parah. Sementara, melihat situasi dan kondisi semakin parah dan tak terkendalikan, pemerintah meminta agar perperangan dihentikan.

 

"Itu urusan arek-arek Surabaya dan Inggris. Hal itu karena terpengaruh dengan suasana dan kondisi. Akhirnya militer ikut terlibat, banyak korban," ujar pria berkacamata hitam waktu itu.

 

Akhirnya hadir Soekarno dan Bung Hatta untuk mendamaikan masyarakat Surabaya.  Demikian Gubernur ikut serta dalam mendamaikan suasana dan kondisi yang tak terkendali dan memanas kala itu. Perperangan itu terjadi lantaran masyarakat tak mengerti bahwa sebenarnya perdamain dengan Inggris telah disepakati sejak bulan Agustus.

 

"Masalahnya rakyat nggak ngerti. Itu sebabnya perlu sosialisasi. Dalam rangka sosialisasi perdamaian, menjelaskan bahwa perdamaian telah dilakukan," ujar pria yang menggunakan kemeja motif batik itu.

 

Puncak Jihad Melawan Inggris

 

Perperangan yang terjadi di Surabaya mengakibatkan dua Jenderal perang Inggris meninggal dunia di Surabaya. Sebab peperangan yang terjadi  sekaligus kematian dua Jenderal perang Inggris akibat peperangan, akhirnya Inggris pun begitu marah pada masyarakat Indonesia. Menurut Inggris, perang sudah selesai di bulan Agustus. Kemarahannya itu, akhirnya membuat Inggris mengajukan permintaan-permintaan kepada Indonesia, yaitu penduduk liar bersenjata untuk menyerah kepada tentara Inggris sampai pada tanggal 09 November 1945 pukul 6 sore. Namun, pemerintah tak memenuhi permintaan tersebut. Hingga, tepat pada tanggal 10 November 1945, kota Surabaya sudah dibombardir darat, laut, dan udara oleh Inggris.

 

"Rame, kiai Hasyim waktu itu sedang pulang dari Yogyakarta. Lalu, melihat peristiwa tersebut, kiai Hasyim mengubah fatwa jihadnya seluruh masyarakat, yaitu 'Semua umat Islam yang berada di 94 km, maka Fardu 'Ain membela Surabaya'. Termasuk Malang dan Sidoarjo waktu itu juga ikut datang ke Surabaya. Pada kenyataannya hampir semua kota datang, seperti Cirebon, Banyumas, dan Ponorogo. Akhirnya itulah terjadi pertempuran 10 November," jelasnya.

 

Sayang, peristiwa besar yang terjadi dimulai tanggal 22 Oktober hingga 10 November 1945 oleh sejarawan Indonesia dianggap sebagai perang kecil dan hanya disebut sebagai peristiwa lokal.

 

"Padahal, perang nasional dari 22 Oktober, November, hingga Desember 1945 dimuat di media online New York Times. Pertempuran dipantau oleh seluruh dunia. Sebab, saat perang itu terjadi banyak beragam fakta dan peristiwa penting, yaitu salah satunya banyak orang Inggris menghisap racun yang dilemparkan oleh orang Surabaya," tuturnya.

 

Setelah berlalu selama tiga minggu, akhirnya Inggris telah bisa membaca suasana masyarakat Indonesia. Lalu, Inggris pun menetapkan strategi perang dengan tidak langsung berhadapan dengan orang Surabaya. Melainkan, dengan melakukan siasat peperangan yang berbeda, yaitu peperangan melalui darat, laut, dan udara.

 

"Orang Inggris menembak masyarakat Surabaya dari kapal. Lalu, juga melemparkan meriam dari pesawat. Akhirnya, semua masyarakat Surabaya mundur. Sebab, perangnya tidak lagi antar pejuang melawan pasukan musuh. Melainkan, perang menghadapi bom-bom. Dimana, bom-bom kala itu bahkan sampai di kota Waru," tutupnya.(Nin)