(Sumber : nursyamcentre.com)

Gangguan Jiwa, Kondisi Yang Tak Mudah Dideteksi

Informasi

Isu terkait pelaku penusukan pendakwah Syekh Ali Jaber kini bermunculan setelah informasi banyak beredar, baik media massa ataupun media sosial. Salah satu isu yang berkembang di tengah masyarakat adalah menyatakan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa. Sedangkan, dilansir Kompas.com (14/09), berdasarkan penyelidikan sementara yang dilakukan oleh Kapolresta Bandar Lampung mengatakan bahwa pelaku tak memiliki riwayat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Sementara, Kabid Humas Lampung mengatakan bahwa selama pemeriksaan, pelaku lancar menjawab pertanyaan dari penyidik.

 

Perlu Melewati Assessment Mendalam

 

Dr. Nailatin Fauziyah, S.Psi. M.Si. M.Psi Kaprodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa tak bisa seketika menyimpulkan secara langsung bila pelaku penusukan pendakwah tersebut mengalami gangguan jiwa. Sebab, untuk menyimpulkan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa perlu melewati assessment secara mendalam terlebih dahulu yang didampingi oleh para ahlinya langsung.

 

"Ada banyak hal yang belum diketahui dan perlu diketahui. Tak cukup hanya berdasarkan video saja. Sehingga saya pikir tidak bisa secara langsung menyimpulkan bahwa pelaku adalah gangguan jiwa. Jika memang ingin mengidentifikasi apakah benar pelaku gangguan jiwa?. Maka,  harus melalui assessment dari para ahli. Sementara, melakukan assessment membutuhkan waktu," jelasnya saat diwawancara oleh crew Nur Syam Centre, Selasa (16/09).

 

Adapun gangguan jiwa terkategori dalam beberapa tingkatan, yaitu ringan, sedang, dan berat. Gangguan jiwa tingkat berat memiliki ciri-ciri, seperti kepekaan menerima pesan yang tak stabil dan sering mengamuk. Sebagaimana disampaikan Nailatain, ia menyampaikan bahwa nantinya psikolog dapat membantu kepolisian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut secara mendalam. Hingga, mengetahui tingkatan gangguan jiwa pada seseorang yang bersangkutan melalui assessment  secara mendalam.

 

"Psikolog akan melakukan assessment sesuai kebutuhan. Misalnya, kebutuhan untuk melakukan penyelidikan secara forensik. Sehingga, dari hasil assessment psikolog dapat memberi catatan dan diagnosis terhadap pelaku. Apakah pelaku mengalami gangguan jiwa? Jika gangguan jiwa berat, maka proses hukum bisa tidak dilanjutkan. Namun, yang perlu dipikirkan rehabilitasinya seperti apa? Tapi, jika gangguan jiwa sedang, maka tetap harus diproses secara hukum," tuturnya.

 

Gangguan jiwa tak dapat dipisahkan dari beberapa gangguan lainnya, seperti gangguan emosi dan pikiran. Adapun macam-macam gangguan jiwa, yaitu Psikopat atau Skizofrenia. Demikian disampaikan Nailatin, ia mengatakan bahwa kepolisian dapat dibantu oleh para ahli psikologi forensik untuk mengetahui seperti apa pelaku sebenarnya.

 

"Psikologi forensik biasanya kerap terlibat dalam kasus-kasus penyelesaian hukum. Misalnya, bagaimana melakukan persidangan yang tepat buat pelaku. Selain itu, psikologi forensik, untuk mengetahui seperti apa orang sebenarnya atau profiling seseorang. Artinya psikolog dapat memberikan konstribusi sesuai kebutuhan, misalnya pra persidangan atau saat proses penyelidikan, persidangan, dan pasca persidangan. Tahapan pra persidangan, psikolog mengidentifikasi apakah benar gangguan jiwa atau tidak?. Jika iya, tingkatan gangguan jiwanya termasuk tingkat yang berapa?," imbuhnya.


Baca Juga : Dramaturgi Dakwah Millennial

 

Sementara, menanggapi persoalan halusinasi bayangan Syekh Ali Jaber di pikiran pelaku, Nailatin pun mengatakan bahwa para ahli perlu lebih lanjut untuk melakukan penyelidikan dan identifikasi secara mendalam untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya."Terdapat suara-suara yang menyuruh dia (halusinasi). Harus dicek kebenarannya untuk menemukan motivnya apa?" ujarnya.

 

Walau demikian, proses hukum pada pelaku penusukan Syekh Ali Jaber perlu ditindak lanjut. Sebab, perbuatan yang dilakukan oleh pelaku jelas tak dibenarkan. Seperti halnya disampaikan Nailatin, ia mengatakan bahwa penusukan Syekh Ali Jaber tidak tepat dan tak dibenarkan. Maka, tetap diperlukan interogasi oleh aparat kepolisian yang dibantu oleh para ahli di bidangnya sesuai dengan kebutuhan.

 

"Maka, perlu diinterogasi. Banyak data yang perlu kita ungkap. Baru kita dapat menyimpulkan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa. Saya tidak berani jika kemudian menyimpulkan orang tersebut gangguan jiwa tanpa melalui assesment yang mendalam," ungkapnya.

 

Pengaruh Coping Behaviour

 

Secara psikologi perilaku seseorang terbentuk dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu nilai, pengalaman, pendidikan, dan pengetahuan. Di samping itu, setiap perilaku respon seseorang pada hal apapun bisa jadi berbeda-beda. Demikian disampaikan Nailatin, ia menuturkan bahwa respon seseorang yang berbeda terhadap peristiwa yang dialami bergantung pada perilaku pengatasan (coping behaviour) seseorang tersebut. Selain itu, juga dipengaruhi oleh aspek spiritual, seperti nilai-nilai yang dipegang teguh terkait baik dan buruknya perilaku.

 

"Setiap orang merespon peristiwa bisa berbeda-beda. Dalam psikologi disebut coping behaviour atau perilaku pengatasan. Misalnya, peristiwa yang dihadapi sama, namun respon setiap orang atas peristiwa tersebut bisa berbeda-beda. Ada yang langsung marah, ada yang diam, dan ada juga yang justru menanyakan kembali pada diri sendiri," ujar Nailatin.

 

Respon yang berbeda-beda tersebut terbentuk karena latihan, misalnya proses belajar dari pengalaman dan proses belajar pada diri sendiri. Seperti yang disampaikan Nailatin, ia mengatakan bahwa respon seseorang terhadap suatu peristiwa dapat berbeda-beda. Hal ini tak lepas dari pengaruh kepribadian dan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan pikiran.

 

"Pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan atau traumatis juga dapat berkontribusi dalam membentuk perilaku seseorang," pungkasnya.