(Sumber : nursyamcentre.com)

Islamisasi Dalam Konteks Budaya dan Sastra Pesisiran

Informasi

Peran masyarakat pesisir dalam proses Islamisasi di Nusantara tentu tak ada yang meragukan. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai peninggalan baik yang berupa makam, masjid, tempat-tempat sakral, misalnya pasujudan dan pesantren yang tetap eksis hingga sekarang.

 

Keberhasilan Islamisasi tersebut tak lain didukung oleh tradisi pesisiran yang terbuka terhadap berbagai budaya yang datang. Masyarakat pesisiran yang bersifat terbuka dan mudah bergaul menjadi salah satu di antara yang memberikan kontribusi bagi Islamisasi terutama di awal Islamisasi di Nusantara. Wilayah pesisir yang medan budaya bagi pertemuan berbagai tradisi dan budaya juga turut serta dalam proses Islamisasi damai yang terjadi di masa lalu.

 

Ungkapan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Nur Syam dalam acara Webinar, 12/11/2020,  yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga yang dihadiri tidak kurang 300 peserta dari mahasiswa dan juga dosen FIB. Acara ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Listiyono, MHum, mewakili Dekan FIB, dengan Narasumber Prof. Nur Syam dan Dr. Sri Ratnawati dengan moderator Drs. Tubiyono, MSi. Demikian turut hadir unsur pimpinan FIB, dan para dosen senior.

 

Mengawali presentasinya, Nur Syam menyampaikan bahwa dirinya turut bangga dan bahagia diundang oleh FIB. Kendati ia adalah alumnus Universitas Airlangga, untuk strata dua  dan tiga. Hadirnya dalam sebuah Webinar sebagai narasumber seakan mengajaknya untuk mengenang kembali lika-liku perjalanan dan kenangan indah yang telah terjadi selama masa menempuh studi di UNAIR.

 

"Tentu rasanya seperti kembali sekian tahun yang lalu. Ketika saya belajar ilmu sosial di universitas ini bersama-sama dengan kawan-kawan. Rasanya seperti mengulang masa lalu dengan suka dan duka belajar di univeritas ini," lirihnya.

 

Menerima Islam Secara Terbuka

 

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nur Syam, masyarakat pesisiran memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat pedalaman. Masyarakat pesisiran lebih mudah menerima perubahan. Di samping itu,  watak masyarakat pesisiran adalah egaliter, tegas, menyukai hal-hal baru, berterus terang, menyukai tantangan, dan terbuka.

 

Demikian lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Islam datang di pesisir pada saat yang tepat dan relevan dengan watak masyarakat pesisiran. Hingga itu sebabnya di pesisir utara Jawa banyak sekali dijumpai makam-makam para penyebar Islam. Contohnya, di Tuban terdapat sebanyak 192 makam Auliya. Demikian di Lamongan, Gresik, dan Surabaya, para Auliya tak hanya menyebarkan Islam di wilayah sekitarnya, tapi sampai ke luar wilayahnya.


Baca Juga : Ayat Al-Qur'an yang Terakhir Turun

 

"Misalnya Sunan Giri, dikenal sebagai Raja di Bukit, menyebarkan Islam sampai di Ternate, Sunan Bonang sampai di Bawean, Madura dan Lombok. Raden Paku menyebarkan Islam di Banyuwangi sampai Bali. Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di Tuban sampai ke Demak. Sepanjang pantai dari Surabaya sampai Banten dijumpai makam-makam penyebar Islam, baik yang tergabung sebagai Walisongo atau bukan," tuturnya.

 

Adapun beberapa makam para Auliya, yaitu Makam Fathimah binti Maimun di Leran Gresik. Makam Sunan Ampel, Makam Sunan Giri, Makam Syekh Maghribi, Makam Sunan Drajat, Makam Maulana Ishaq, Makam Sunan Drajat, Makam Sunan Bonang, Makam Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Makam Sunan Murya, Makam Sunan Kudus, Makam Sunan Kalijaga, Makam Sunan Tembayat, dan sebagainya. Makam itu bisa berarti tempat menguburkan jenazah dan bisa juga tempat tinggal atau tempat mengajar, tempat riyadhah dan sebagainya.

 

Ragam Budaya Pesisiran

 

Kebudayaan kerap menjadi seperangkat pengetahuan yang dijadikan sebagai referensi di dalam melakukan tindakan. Seperti halnya disampaikan Nur Syam, mengutip Geertz, ia menjelaskan bahwa pengambilan tindakan disebut sebagai pattern for behaviour. Pattern for behaviour adalah pedoman yang dijadikan sebagai penginterpretasi tindakan. Demikian merupakan tindakan sehari-hari yang berdasar atas pedoman yang mereka pahami.

 

"Budaya pesisir merupakan seperangkat pengetauan masyarakat pesisir dalam menginterpretasikan tindakannya dalam relasinya dengan kehidupannya. Pengetahuan budaya tersebut terkait dengan keyakinan terhadap Tuhan, makhluk halus, ritual terhadap keyakinannya, performance relasi sosial dan penggolongan sosial, dan tampilan luar yang terkait dengan dunia pesisiran yang bercorak khas," terangnya.

 

Adapun beberapa kebudayaan meliputi upacara keagamaan, misalnya muludan, rejeban, riyayan, nisfu sya'ban, suroan, dan sebagainya. Upacara ini telah menjadi tradisi Islam lokal pesisiran. Tak hanya itu, ada juga upacara lingkaran hidup, meliputi dari kelahiran sampai kematian. Ada juga upacara keagamaan yang berada di ruang budaya, yaitu Makam, Sumur dan Masjid. Sedangkan, ada juga penggolongan sosial budaya keagamaan, seperti wong NU, wong Muhammadiyah dan wong Abangan.

 

NU dan Abangan bertemu di ruang budaya makam dan sumur. NU dan Muhammadiyah bertemu di Masjid. Pertemuan Abangan dan NU mengubah tradisi lokal menjadi tradisi islam lokal, dari Tayuban menjadi Thayyiban.

 


Baca Juga : Basmalah dalam Penafsiran Ibn Arabi

Karya Sastra Medium Penyebaran Islam

 

Tak cukup sampai disana, Nur Syam juga menyampaikan bahwa sastra Pesisir merupakan ungkapan ide dan gagasan yang diwujudkan dalam lisan, manuskrip atau teks tertulis yang memiliki relasi dengan konteks sosial, budaya, agama dan politik pada masanya. Selain itu, juga terdapat sastra lisan yang dikenal, yaitu ungkapan ide atau gagasan yang diturunkan dari zaman ke zaman secara sambung-menyambung dari satu generasi ke generasi lainnya melalui penuturan.

 

"Sastra tulis adalah ungkapan ide dan gagasan yang diwujudkan dalam tulisan. Baik sastra lisan atau tulisan memiliki konteksnya masing-masing dan relevan dengan zamannya. Misalnya konteks agama, sosial, budaya dan politik," imbuhnya.

 

Ada berbagai varian di dalam sastra, yaitu salah satunya cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi di masa lalu penuh dengan misteri dan tindakan magis yang melingkupi cerita tersebut. Misalnya, Dongeng Bajo yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Nur Syam juga menceritakan bahwa masyarakat Bajo sebagai masyarakat pesisiran memiliki cerita tentang bagaimana masyarakat ini menjelajah lautan untuk menemukan wilayah lain. Suku Bajo dikenal sebagai bangsa pelaut, hingga suku Bajo bisa berada di wilayah perairan, termasuk di pesisir Muncar Jawa Timur.

 

Sementara, Sastra suluk pesisiran merupakan karya sastra yang berisi tentang ajaran Islam dalam coraknya yang esoteris. Berbeda dengan kitab-kitab fiqh yang berisi pedoman untuk melakukan ritual dan perilaku sosial lainnya, maka suluk merupakan karya ulama ahli tasawuf. Seperti yang disampaikan Nur Syam, ia mengatakan bahwa suluk berasal dari Bahasa Arab yakni  salaka-yasluku-sulukan. Lalu, di dalam konteks Jawa disebut sebagai Suluk yang bermakna pencarian. Sementara, Salik adalah pencari atau lebih tepatnya para pencari jalan kepada Tuhan.

 

"Suluk ada kaitannya dengan tarekat adalah  jalan spiritual untuk berdekatan bahkan menyatu dalam Tuhan," tuturnya.

 

Selain itu, juga terdapat sebuah karya sastra yang mengkisahkan tentang kekuasasan yaitu yang disebut Babad. Adapun di dalam Babad menceritakan rangkaian peristiwa dari generasi ke generasi dalam dinamika kekuasaan di suatu wilayah. Demikian Nur Syam mengatakan bahwa Indonesia sangat kaya dengan sastra dalam bentuk Babad. Bahkan, sastra dalam bentuk Babad telah menjadi salah satu acuan dalam studi-studi sejarah mengenai kekuasaan.

 

"Di antaranya adalah Babad Tanah Jawa, yang mengungkap tentang asal-usul para raja di Jawa, bahkan sampai memasuki dunia pewayangan dan Nabi Muhammad SAW. Dikenal juga misalnya Babad Tuban. Babad Tuban diterbitkan pada tahun 1936 cetakan ke III. Diterbitkan oleh Boekh. Tan Khoen Swie Kediri, dan dialihaksarakan oleh Zenit Lalu Januar, SSIT, 27 Pebruari 2017. Buku Babad Tuban ini menggunakan tulisan dalam huruf Jawa dan menggunakan Bahasa Jawa Halus atau Kromo Inggil. Judulnya setelah dialihbahasakan adalah "Sejarahipun Para Bupati ing Nagari Tuban"," jelasnya.

 

Tak hanya itu, karya sastra lainnya juga berupa sastra tulis yakni yang disebut serat. Serat adalah hasil penuangan ide ke dalam teks atau tulisan yang berisi tentang pemikiran kontemplatif penulis. Nur Syam pun kembali menyampaikan bahwa karya yang berbasis kontemplatif maka yang dituangkan adalah ide-ide tentang hal-hal yang bercorak mikro dan makro kosmos. Demikian dunia alam kemanusian dan alam, serta dunia ketuhanan yang terkait dengan aspek eskatologis.

 

Salah satu macam Serat  yaitu Serat Cebolek. Serat Cebolek merupakan rangkaian cerita tentang pertarungan antara tradisi lokal dengan tradisi Islam lokal. Di dalam serat ini digambarkan pertarungan antara Islam dengan budaya Jawa yang justru menghasilkan konsep Raja-Sufi. Seperti yang diceritakan oleh Nur Syam, ia menjelaskan bahwa kekuasan dapat dikatakan ideal bila seorang raja memilki kekuasaan terhadap dimensi duniawi dan juga dimensi ukhrawi khususnya ajaran tasawuf.

 

"Serat ini muncul pada saat Raja Pakubuwono II di Surakarta. Contoh lain adalah Serat Dewa Ruci merupakan kitab yang membahas tentang cara-cara untuk menuju kepada kesempurnaan hidup. Kitab ini telah digunakan oleh Sunan Kajijaga di dalam pengajaran Islam terhadap para santrinya. Kitab ini berupa ajaran untuk mencapai maqam tarekat atau tasawuf yang mengajarkan 'kesatuan' antara manusia dengan Tuhan," ungkapnya.

 

"Masuknya Bima ke dalam tubuh Dewa Ruci menggambarkan penyatuan manusia ke dalam Tuhan atau masuk ke dalam alam lahut. Atau konsep wahdatul wujud. Serat Dewa Ruci terkait dengan Kitab Arsy al-Muwahhidun karya Syekh Mutamakin. Naskah ini berisi tentang ajaran Islam yang sangat mendasar, misalnya relasi antara Islam, Iman dan Syahadat. Secara umum kitab ini membahas aspek fiqh di dalam Islam dan juga ajaran tasawuf," jelasnya.

 

Sedangkan Dr. Ratna selaku narasumber juga menyatakan bahwa sastra Pesisiran di Jawa identik dengan Islamisasi di pesisiran Jawa. Misalnya, munculnya tulisan pegon, tembang Jawa dan karya sastra lain, seperti Babad, Suluk dan Serat.

 

"Semua karya sastra itu dihasilkan oleh para penyebar Islam didalam proses Islamisasi. Dimana  menjadi bukti empiris bahwa Islam di masa awal dan selanjutnya terkait erat dengan produk sastra yang masih bisa dibaca hingga sekarang," pungkasnya.