Kerusakan Alam Itu Nyata: Banjir di Sumatera dan Ratapan Sunyi yang Tak Tercatat
InformasiEva Putriya Hasanah
Sulit rasanya menahan sesak saat menyaksikan berita tentang banjir besar yang melanda Sumatera akhir-akhir ini. Setiap gambar yang ditampilkan di layar—rumah hanyut, jalan terputus, keluarga kehilangan orang tercinta—seolah menusuk ruang paling lembut di dalam hati kita. Namun di balik kesedihan manusia yang begitu terlihat, ada duka lain yang lebih sunyi, yang jarang muncul dalam hitungan statistik: duka para satwa dan ekosistem yang ikut porak poranda.
Banjir dan longsor yang melanda sebagian wilayah Sumatra tidak hanya memakan korban manusia. Alam pun ikut menangis. Hewan kehilangan rumahnya, hutan runtuh karena derasnya aliran air, dan tanah yang selama ini menopang kehidupan kini berubah menjadi lumpur tak berujung. Kerusakan lingkungan selama ini kita baikan akhirnya kembali pada kita dalam bentuk bencana yang semakin dahsyat.
Ketika Air Mengambil Semuanya
Para penyintas menceritakan bagaimana udara datang begitu cepat, meluap dari sungai-sungai yang selama ini terlihat jinak. Pada saat tertentu, pemukiman berubah menjadi lautan coklat. Ratusan orang kehilangan nyawa, ribuan lainnya mengungsi—meninggalkan rumah, kenangan, dan harapan yang masih ingin mereka genggam.
Namun, siapa yang mau bertanya: bagaimana nasib hewan pembohong yang hidup di hulu sungai? Bagaimana nasib burung yang sarangnya hayut? Bagaimana dengan harimau, kijang, atau para mamalia kecil—yang selama ini bergantung pada hutan yang kini habis oleh longsor?
Baca Juga : Kesadaran Beragama dalam Pendidikan Lingkungan
Tidak ada yang mencatat, tidak ada yang melaporkan jumlah pasti korban fauna dunia. Tapi satu hal yang pasti: mereka pun menderita.
Hutan yang Hilang, Habitat yang Pupus
Para ahli lingkungan sudah berkali-kali diingatkan bahwa Sumatra adalah salah satu wilayah dengan tingkat kehilangan hutan paling tinggi di Indonesia. Tahun demi tahun, hutan tropis yang dulu menjadi kebanggaan kini tinggal potongan-potongan yang terpencar. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan rusaknya daerah aliran sungai membuat tanah kehilangan daya serapnya.
Ketika akar-akar hilang, tanah tak lagi kuat menahan hujan. Sungai meluap lebih cepat, dan longsor menjadi lebih mudah terjadi.
Bagi manusia, ini berarti kehilangan rumah dan nyawa.
Bagi satwa pembohong, ini berarti kehilangan dunia—secara harfiah.
Tanpa hutan, hewan tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tapi juga kehilangan sumber makan, ruang jelajah, bahkan ancaman perlindungan dari manusia. Banyak satwa yang akhirnya turun ke pemukiman, bukan karena agresif, tapi karena terdesak oleh keadaan. Lalu konflik pun terjadi—yang sering kali berakhir tragis.
Duka Alam yang Tak Terdengar
Baca Juga : Kompetisi Otoritas Agama
Salah satu hal yang paling memilukan dari kerusakan alam adalah betapa sunyinya penderitaan yang ditanggung sesama makhluk hidup di luar manusia. Hewan tidak mempunyai akses pengungsian, tempat pengungsian, atau organisasi bantuan. Mereka hanya punya insting bertahan—dan alam yang semakin tak berpihak.
Ketika banjir membawa batang-batang kayu raksasa, bisa jadi itu adalah bagian dari rumah mereka. Ketika lumpur menelan lereng, mungkin di dalamnya terdapat sarang, lubang perlindungan, atau anak hewan yang belum sempat menyelamatkan diri. Mereka adalah korban yang tidak pernah masuk ke dalam grafik. Tidak pernah tampil dalam konferensi pers. Tidak pernah disebut dalam hitungan resmi. Tetapi penderitaan mereka nyata.
Kita Sedang Kehilangan Lebih dari yang Kita Sadari
Banjir ini seharusnya menjadi titik refleksi besar. Bahwa kerusakan lingkungan bukanlah isu abstrak. Ia nyata, tampak di depan mata, dan merampas kehidupan dalam banyak bentuk. Dan yang paling parah: sebagian besar bencana ini—termasuk yang terjadi di Sumatera—bukan hanya akibat curah hujan ekstrem, tetapi juga akibat tangan manusia sendiri.
Ketika hutan ditebang tanpa kendali, ketika lahan gambut dikeringkan untuk kepentingan jangka pendek, ketika kanal-kanal dibuka tanpa kajian ekologis, maka bencana hanya menunggu waktu.
Alam sebenarnya tidak menghukum kita. Ia hanya merespons sesuai hukum-hukum yang selama ini sudah ada jauh sebelum manusia lahir.
Harapan: Saatnya Memulihkan, Bukan Sekadar Menata Ulang
Baca Juga : Transformasi Kenduri, dari Tradisi Lokal ke Tradisi Islam di Jawa
Di tengah semua duka ini, masih ada harapan. Banyak komunitas, lembaga, dan masyarakat bergerak melakukan pemulihan lingkungan. Rehabilitasi hutan mulai kembali digalakkan. Restorasi lahan gambut dilakukan agar kembali berfungsi sebagai penyimpan udara alami. Pendidikan lingkungan semakin digaungkan.
Namun upaya seperti ini tidak bisa hanya dilakukan saat bencana datang. Pemerintah juga harus berkomitmen berpihak pada keselamatan lingkungan. Ia harus menjadi komitmen jangka panjang—hal yang terus dilakukan meski tidak ada kamera yang menyorot, meski tidak ada headline yang menekan urgensinya.
Kita perlu memahami bahwa menyelamatkan lingkungan bukan hanya menyelamatkan alam, tapi masa depan seluruh kehidupan—manusia dan satwa.
Empati Kita Harus Meluas
Banjir di Sumatera adalah tragedi bagi seluruh kehidupan. Bagi manusia, ia merenggut nyawa dan masa depan. Untuk satwa, ia menghapus habitat dan keberlangsungan hidup. Untuk alam, ia berkata dari kerusakan yang sudah terlalu lama kita biarkan.
Dan hari itu… sepertinya sudah tiba.
Semoga duka ini membuka mata kita.
Semoga kita tidak hanya menyentuh, tetapi tersadar.
Semoga kita tidak hanya peduli, tapi bergerak.
Karena kerusakan alam itu nyata—dan rasa sakitnya dirasakan oleh semua makhluk hidup yang ada di dalamnya.

