(Sumber : Doc.Istimewa/Geotimes)

Kilas Dibalik Peci Hitam dan Filosofinya

Informasi

Penggunaan peci hitam ataupun putih kerap menjadi alat untuk mengolok-olok antara kelompok satu dengan kelompok lainnya di media sosial. Tak hanya itu, sering kali juga menjadi topik perdebatan lantaran peci tersebut hanya digunakan sebatas simbol keagamaan untuk tampil di depan layar. Padahal bila ditelisik lebih mendalam keduanya, masing-masing memiliki sejarah dan filosofi yang amat mendalam.

 

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Fachry Fanani Mahasiswa Jurusan Fakultas Syariah Islamiyah Universitas AL-Azhar Cairo mengutip dari penjelasan Gus Baha bahwa keinginan dirinya menggunakan peci hitam merupakan bentuk dari ijtihad. Sebab kala itu, Kiai Maimun Zubair Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang atau yang kerap disapa Mbah Moen menegur santri-santrinya bila ada yang diketahui menggunakan peci putih. Singkatnya Gus Baha sendiri merupakan santri kesayangan Mbah Moen,(Red : Tribunnews, 16/03)

 

"Saya sudah berangkat haji, tapi ya tetap memakai peci hitam (Mbah Moen). Mbah Moen itu marah besar bila ada santrinya memakai peci putih. Akhirnya karena Mbah Moen, saya (Gus Baha) jadi pewaris madzhab itu," ujar Fachri.

 

"Karena itu Mbah Moen marah besar dengan berkata, Cung, ketumu iku regane piro? Dak Paleng limang ewu. La kaji-kaji kae gantek adol tegal, adol swah. Mbok saingi ketu limang ewu, dak marai gelo atine wong deso tah?. Nak pecimu itu harganya berapa? Paling kan Cuma lima ribu kan. Orang-orang desa yang pergi haji itu kan sampai menjualan tanah, menjual sawahnya. Masa kamu saingi pecimu yang harganya cuma lima ribu, kan bisa membuat kecewa hatinya orang desa. Lha mengecewakan hatinya orang itu dosa apa tidak dosa?. Dosa kan?," tambahnya.

 

Semenjak itu lah santri Mbah Moen tak lagi menggunakan peci putih kecuali habib. Adatnya Mbah Moen memaklumi habib karena menggunakan peci putih adalah adatnya.

  

Menelisik lebih mendalam filosofi menggunakan peci, baik hitam ataupun putih serta tidak melepaskannya bermakna bahwa seseorang tersebut akan terlepas dari keinginan untuk berbuat hal maksiat. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Fachry bahwa dikutip dari penjelasan Kiai Ubaidillah Faqih yang demikian merupakan salah satu gurunya menyampaikan, saat seseorang memakai peci maka dirinya akan enggan dan malu untuk melakukan maksiat. Berbeda halnya jika seseorang tersebut melepas pecinya.

 

"Santriku tidak boleh lepas peci atau kopyah mau hitam atau putih, yang penting pakai kopyah atau peci. Sebab kalo pecinya dilepas, saya takut malah santriku nanti sedikit-sedikit melepas ajaran agama juga," jelasnya.

 

Peci Soekarno : Lambang Pergerakan

 

Mengakhiri coretan yang ditulis, Fachry menjelaskan bahwa istilah peci, songkok, kopya melekat erat dengan sosok Ir Soekarno Sang Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia. Kilas balik berdasarkan sejarah Soekarno menjadi orang yang mempopulerkan peci hitam secara formal dalam banyak kegiatan kenegaraan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

 

"Dikutip dari (Cindy Adams dalam buku "Biografi Bung Karno" diceritakan tentang bagaimana Bung Karno bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Sampai akhirnya penutup kepala pria khas Indonesia itu terkenal di luar negeri dengan sebutan nama Peci Soekarno," tuturnya.

 

Fachri kembali menyampaikan bahwa konon peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Dimana pada mulanya dirinya membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama Kuluk yang memiliki bentuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, yaitu Raja terakhir Majapahit Brawijaya V.

 

"Hanya saja ukurannya lebih besar. Hal itu agar sesuai dengan ajaran Islam yang egaliter. Raja dan rakyat sama kedudukannya di hadapan Allah swt, hanya ketakwaan lah yang membedakannya," imbuhnya.

 

Alat Pengingat Untuk Bertawakal

 

Makna kata peci itu sendiri, kata Fachry adalah alat untuk menutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin. Definsi tersebut berawal dari makna bahwa Pe yang berarti Delapan dan Chi berarti Energi. Penutup kepala khas Indonesia ini ada yang menyebutnya dengan istilah Songkok yang artinya "Kosong Dari Mangkok". Kosong dari mangkok bermakna bahwa hidup seperti mangkok yang kosong harus diisi dengan ilmu dan keberkahan. Sementara Kopyah berasal dari "Kosong karena Di-pyah" yang berarti "Kosong karena Dibuang". Adapun yang dibuang adalah kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan setan. Istilah Kopyah  juga ada yang mengatakan diambil  dari bahasa arab, yaitu dari kata "Khufyah" yang memiliki arti selalu takut.

 

"Dari situ beberapa ulama Nusantara mendefinisikan bahwasanya kopyah adalah sesuatu alat penutup yan barang siapa saja yang memakainya agar menjadikannya alat pengingat untuk selalu bertawakal dan takut kepada Allah swt," tutupnya. (Nin)