(Sumber : nursyamcentre.com)

Kontroversi Musik, Budaya dan Agama

Informasi

Tak jarang terdapat beberapa pendapat dan pandangan yang menjadi perdebatan publik khususnya di media sosial yang menyatakan bahwa musik adalah haram. Bahkan ada juga yang memperdebatkan antara budaya dan agama, beberapa orang berpendapat jika keduanya tak dapat berjalan seiringan. Namun keduanya harus terpisahkan.

 

Hal ini sebagaimana pertanyaan yang dikemukakan oleh salah satu peserta dalam program Shihab dan Shihab yang berkolaborasi dengan KajiRans bernama Ridho, saat ini banyak yang berasumsi bahwa musik adalah haram.

 

"Kalo saya pribadi pertama kali saya gabung dengan SLANK niatnya adalah meringankan beban orang tua saya. Karena saat itu orang tua saya meridhoi saya untuk sekolah musik," jelasnya.

 

"Saya juga mau bertanya saat ini beberapa orang berpandangan bahwa tidak boleh mencampuradukkan antara budaya dan agama," tanya Ridho pada Abi Quraish dalam program Shihab dan Shihab kolaborasi dengan KajiRans yang diunggah dalam kanal Youtube Najwa Shihab, (30/04).

 

Demikian hal tersebut dijawab oleh Abi Quraish Shihab cendekiawan muslim sekaligus mufasir bahwa pada zaman dahulu, Rasulullah mengajak istrinya Aisyah mendengar musik pada hari lebaran. Namun jika menyanyi tersebut mengandung kalimat yang tak disetujui oleh agama, maka disitu lah Rasulullah menegur.

 

"Tetapi musiknya sendiri tidak ada larangan. Siapa yang tak bergetar hatinya jika mendengar suara yang indah atau pemandangan yang cantik, maka ia telah mengidap penyakit yang sulit diobati. Itu kata Imam Ghazali," tutur Quraish Shihab.

 

"Saya sering berkata jangan menilai musik itu islami karena itu berbahasa arab. Belum tentu. Jangan juga menilai non muslim kalo dia berbahasa yang bukan non muslim. Ada ahli tasawuf senang dengan musik bahkan ada yang mengistilahkan music al-Qur'an. Kalo al-Qur'an anda baca, dari nada itu ada musiknya," jelasnya.

 

Islam Sangat Menghargai Budaya

 

Sedangkan menanggapi soal kontroversi budaya dan agama, Quraish menjawab bahwa budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karya manusia. Maka bisa jadi budaya tersebut sesuai dengan tuntunan agama dan begitu pun sebaliknya.

 

"Ada budaya positif, ada budaya negatif. Kalo seandainya budaya positif maka itu sangat dianjurkan untuk diamalkan. Seandainya ada budaya dan adat kebiasan di Indonesia dan ada juga adat dan kebiasaan positif muslim di negara lain yang berbeda dengan budaya di Indonesia. Maka yang dianjurkan di Indonesia adalah budaya orang Indonesia yang ada di Indonesia," jelasnya.

 

"Saya suka memakai peci hitam daripada peci putih. Karena ini (peci hitam) peci khas kita (Orang Indonesia). Sangat menghargai budaya. Budaya yang baik itu dinamakan ma'ruf. Bisa juga budaya buruk itulah yang dinamakan mungkar. Yang dicegah adalah yang mungkar. Yang diperintahkan adalah yang ma'ruf," tambahnya.

 

Terakhir Quraish menyampaikan bahwa sesungguhnya cerminan nilai menghargai pada budaya terdapat pada cara bagaimana dakwah Walisongo. Dimana Walisongo dahulu menyebarkan ajaran agama Islam melalui budaya setempat yang kemudian dibumbui dengan nilai-nilai islami di dalamnya. Tak hanya itu, Walisongo juga sangat menghargai budaya dan tak pernah menjelekkan budaya setempat ataupun budaya orang lain ataupun negara lain.

 

"Dan jangan memaki budaya orang lain. Walaupun itu bertentangan dengan agama. Karena itu (budaya) dia anggap baik buat dia. Islam sangat menghargai budaya. Karena itu (budaya) Islam berbeda-beda dalam praktiknya antara satu daerah dengan daerah lain. Islam di Iraq berbeda dengan Islam di Mesir karena budayanya berbeda. Islam di Indonesia bisa berbeda dengan Islam di Saudi Arabia karena budayanya berbeda. Jadi intinya Islam itu sangat menghargai budaya," pungkasnya. (Nin)