(Sumber : nursyamcentre.com)

Nasehat Jawa Tentang Perempuan

Informasi

Perempuan tak lepas dari berbagai stereotip negatif khususnya yang bertempat tinggal di desa. Stereotip negatif yang kerap menjadi bahan cemooh, yaitu perempuan cukup bekerja di dapur, kasur, dan sumur. Padahal dari cemoohan tersebut dapat dimaknai secara positif, yaitu bermakna perempuan sebagai ruh, penenang, dan penyejuk. Karenanya perempuan harus mempunyai ketrampilan, mandiri, kuat, ulet, dan cerdas.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ning Khilma Anis penulis yang juga merupakan enterpreuner woman mengatakan, ada satu alasan khusus mengapa perempuan harus mandiri, yaitu nasehat Mbah Sunan Kudus adalah Gus Jigang. Yang mana Gus artinya Bagus. Bagus disini bermakna harus berbuat baik kepada orang lain dan tidak membeda-bedakan antara satu sama lain. Sedang Ji artinya Ngaji yang bermakna harus selalu mengaji atau selalu belajar. Sementara Gang artinya Jigang yang bermakna berdagang. Hanya saja dalam konteks perempuan, menurutnya Gang tidak melulu bermakna berdagang. Sebab tidak semua perempuan ingin menjadi enterpreuner hingga Gang dapat berarti kemandirian.

 

"Kenapa perempuan harus mandiri?Bagaimana kita mengajak orang lain untuk kuat? jika kaki kita masih rapuh. Bagaimana kita bisa mengajak perempuan untuk bisa terbang? kalo sayap kita patah. Jadi untuk mengajarkan kegigihan pada orang lain, lebih dulu kita harus kuat dulu. Kaki dan sayapnya harus kuat," jelasnya dalam unggahan kanal Youtube TV9 dalam acara NU Women Talk yang bertajuk The Next Women Leader and Enterpreuner, (11/03).

 

"Perempuan juga harus mandiri sebab perempuan adalah madrasah pertama bagi putera dan puterinya. Kedua, kita kalo ingin belajar dari tokoh dulu. Bisa dari wayang, yaitu tokoh Srikandi yang dikenal dia sangat kuat. Ada juga Drupadi yang juga sangat kuat, ada Kendedes yang juga sangat kuat. Ada Dewi Sambdara dan Nyi Ageng Sera. Mereka yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri," tambahnya.

 

Teken, Tekun, Tekan

 

Ning Khilma juga memaparkan tentang nasehat jawa yang terkenal sangat bagus, yaitu pertama tentang Teken yang berarti perempuan harus mempunyai himmah atau cita-cita. Kedua, Tekun berarti harus istiqomah atau punya ketrampilan yang kemudian diistiqamahkan. Sedang ketiga, Tekan berarti sampai atau dalam bahasa pesantren hasil mahsud. Dalam artian siapa yang memiliki cita-cita dan dia melakukannya dengan istiqamah maka sampailah dia ke tujuan.

 

"Perempuan tidak bisa lepas dari tiga hal ini jika ingin menjadi perempuan mandiri. Nasehat ini sering kita lupakan karena seiring perkembangan zaman. Kita sering belajar kelembutan pada perempuan zaman dulu. Dan lupa belajar tentang keuletan perempuan zaman dulu. Padahal perempuan dahulu itu sangat ulet yang tidak mengharapkan apapun kecuali apa yang dihasilkan dengan tangan dan kakinya sendiri," ujarnya.

 

Walau begitu hingga kini masih ada yang memandang perempuan dengan stereotip negatif, yaitu yang bekerja hanya di dapur, kasur, dan sumur. Khilma pun bertutur bahwa yang dapat dilakukan bukan hanya sekedar memandang stereotip negatif tersebut, melainkan melihatnya dari sudut pandang yang positif.

 

"Kita tidak boleh larut dari pemaknaan yang negatif itu. Kita harus mampu mengambil pemaknaan yang positif. Artinya jika perempuan itu dapur bermakna bahwa perempuan tampil sebagai ruhnya rumah. Kemudian kasur ya memang kita sebagai penenang bukan sekedar dimaknai dari sisi negatif. Kemudian menjadi sumur sinubo, yaito sumur yang berada di tengah gurun sahara yang semua orang yang melewati sumur itu pasti berhenti untuk berteduh untuk menikmati kesejukannya. Jadi perempuan harus terus belajar sampai menjadi sumur sinubo tempat untuk bertanya buat semuanya baik bagi putera dan puterinya, santrinya, dan masyarakatnya," tuturnya

 

WaniTapa (Perempuan Berani Bertapa)

 

Tak jauh berbeda dengan sebelumnya, orang-orang Jawa memandang jika perempuan hanya sekedar WaniTata dan WaniDitata. Padahal makna sebenarnya dalam penjelasan Jawa adalah WaniTapa. WaniTapa  adalah perempuan berani bertapa. Sedang yang menjadi contoh dari WaniTapa, yakni wanita yang berada di pesantren. Demikian perempuan tersebut tetap tenang dan senantiasa terhubung mendekatkan diri kepada Sang Khalik untuk memunculkan dirinya dalam versi terbaik bagi dirinya sendiri.

 

"Berani Mikul, Mendem Jeru. Di telapak tangan perempuan terdapat esensi dunia dan syurga berada. Karena tapa itu membutuhkan tangan untuk menelungkup," ujarnya.

 

Terakhir Khilma berpesan bahwa perempuan jangan sampai tumbuh tanpa ketrampilan dan bergantung kepada orang lain. Demikian jangan menjadi perempuan yang tak berprinsip.

 

"Tentang Enterpreuner. Petik buah paling rendah. Sukanya apa. Tekuni satu dari banyak hal. Dan menjadi ahli. Kuasai satu bidang. Ambil itu dan gali sedalam-dalamnya. Jadilah perempuan yang mandiri. Kalau perempuan mandiri tidak lagi bergantung. Tidak lagi merasa yang mewujudkan keinginanya adalah orang lain. Jika perempuan sudah berdiri di atas tangan dan kakinya sendiri. Dia tidak mudah goyah, baper, dan patah. Karena yang dia pikirkan adalah berkarya dan terus berkarya," ucapnya.

 

"Jangan jadi perempuan yang ngikut sana-sini. Harus berani terbang seperti elang. Harus berpikir menembus batas. Biar kita menjadi perempuan yang mandiri. Ada istilah wanita 'pengabsah wangsa' seperti Ken Dedes, siapapun yang yang menikah dengan sosok ini anaknya akan menjadi raja," tutupnya.