(Sumber : nursyamcentre.com)

Nur Syam ; IAIN Pamekasan Harus Merespon Era Disruptif

Informasi

IAIN Pamekasan kali ini menyelenggarakan sebuah seminar online via Webinar, Senin, (20/07). Dengan mengusung tema "Peluang dan Tantangan PTKIN di Era Disruptif". Pada seminar online kali ini, IAIN Pamekasan turut mengundang beberapa dosen dari berbagai universitas sebagai narasumber, yaitu Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Moh. Qosim, serta Prof. Imam Suprayogo UIN Maliki Malang.

  

Acara Webinar kali ini diikuti sekitar kurang lebih 150 peserta. Bahkan, tak sedikit peserta yang ikut seminar online ini berasal dari luar Jawa, misalnya Aceh. Sementara, seminar online kali ini juga turut dihadiri  oleh beberapa pejabat birokrasi IAIN Pamekasan dan juga kalangan civitas akademika, seperti Wakil Rektor IAIN Pamekasan, pejabat, dan mahasiswa.

  

Pada kesempatan kali ini, Prof. Nur Syam menyatakan bahwa tema yang diusung oleh IAIN Pamekasan sangat menarik. Sebab, menurutnya dunia pendidikan perlu mengetahui tantangan demi tantangan dunia pendidikan di masa yang mendatang. Hingga nantinya menjadi gambaran dalam merancang pendidikan yang lebih prospektif di masa depan.

  

"Kita tentu harus tahu apa yang menjadi tantangan kita agar kita bisa merancang masa depan pendidikan yang lebih prospektif. Beliau  berkeyakinan bahwa di balik tantangan dalam bidang apapun tentu dipastikan akan ada upaya untuk mencari solusinya. Every problem there is a solution. Itulah sebabnya bahan presentasinya berjudul: Memetakan Tantangan PTKIN di Era Disruptif," jelasnya.

  

Dalam pembahasan materi, Nur Syam menyampaikan bahwa sekurang-kurangnya tantangan perguruan tinggi terfokus pada tiga hal, yaitu pertama; Kita sedang berada di era "The Death of University". Sebuah keadaan yang ditandai dengan banyak hal, misalnya semakin kaburnya konsep kepakaran dan semakin terdesaknya ruang fisik dengan ruang maya. Hal ini disebabkan tiada lain karena tumbuh berkembangnya teknologi informasi. Dengan ditemukannya beberapa teknologi informasi yang canggih, yaitu artificial intelligent (AI) yang berupa robot, drone, big data, mobil tanpa pengemudi dan sebagainya. "Lalu hal ini yang akhirnya menjadi tantangan sebab berpengaruh pada perubahan sosial yang sangat cepat karena dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh masyarakat kebanyakan," ungkapnya.

  

Baca Juga : Dakwah Ulama Era Pandemi: TGB, Covid-19, dan Etika di Ruang Publik (Bagian Keempat)

Nur Syam kembali menyampaikan bawah kendala dari ruang pendidikan keagamaan saat ini yaitu masih kuatnya pendidikan keagamaan dengan ciri khas kehadiran ilmu-ilmu agama yang menjadi core business PTKIN. Namun, masih kurang dalam hal mensinergikan program ilmu-ilmu agama dengan perkembangan TI."Masih kuat anggapan bahwa ilmu agama itu tidak bisa atau kurang relasinya dengan dunia teknologi dan sains serta kebutuhan masyarakat yang semakin bercorak materialistis. Masyarakat beranggapan bahwa hanya dengan mengakses pendidikan sains dan teknologi saja yang bisa berhadapan dengan dunia kerja dan peluang kerja. Pikiran seperti ini yang menggelayuti sebagian besar di antara kita," tuturnya.

  

Padahal, tantangan penerapan program pendidikan ke depan diprediksi hampir semua berbasis pada sistem pembelajaran secara daring. Seperti halnya yang disampaikan Nur Syam demikian membenarkan prediksi Prof. Clayton Christenson dari Harvard Business School tentang semakin kuatnya penggunan TI dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun ke depan."Mengutip Prof. Clayton, Prof. Nur Syam mengatakan, PT di US akan berkurang 50 persen. Sedang, yang stable adalah menerapkan pembelajaran berbasis online," ujarnya.

  

Hingga menurut Nur Syam, PTKIN harus merancang infrastruktur IT tahun 2022 dan 2024 dalam presentase 40 persen menggunakan pembelajaran sistem daring. Sebab, baginya hanya dengan cara pemanfaatan IT, maka PTKIN bisa tetap eksis. Sementara, kehadiran Covid-19 saat ini juga memaksa PTKIN mengikuti perubahan zaman dengan menerapkan pembelajaran base on daring system."Oleh karena itu, kita mesti berpikir kelengkapan infrastruktur laboratorium, ruang ICT yang memadai, infrastruktur IT yang memadai, dan sebagainya. Tidak boleh dilupakan adalah jurnal yang berbobot, penelitian yang berkualitas, pengabdian masyarakat yang hebat dan program studi yang relevan dengan tuntutan zaman," imbuhnya.

  

Tantangan yang kedua, yaitu kita juga berada di dalam tantangan kompetisi antar Perguruan Tinggi, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Nur Syam mengatakan bahwa kualitas akreditasi PTKIN menjadi tolok ukur kemajuan akademik dan kelembagaan PTKIN.  Sebab, untuk memahami kualitas PTKIN dapat dilihat dari kualitas akreditasi."Makanya di dalam beberapa tahun ke depan, prodi kita yang sudah terakreditasi A di BAN PT, maka harus ditingkatkan levelnya dalam akreditasinya, misalnya Asean University Network Quality Assurance (AUN-QA) atau lainnya," ucapnya.

  

Selain kualitas perguruan tinggi, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi tantangan yang tak kalah penting untuk diagendakan. Sebab kualitas lembaga pendidikan tinggi sangat bergantung pada  kualitas SDM yang ada, baik kualitas dosen, tenaga kependidikan, dan kualitas out put dan out come-nya. "Konsepsinya semakin berkualitas tenaga pendidikan, tenaga kependidikan, dan alumni PT. Maka, akan semakin besar peluang untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan pemerintah," ujarnya.

  

Demikian yang tak kalah penting adalah membangun lingkungan kampus, baik lingkungan fisik maupun lingkungan  budaya kampus yang bersih, indah, nyaman dan aman. Sebab, pembangunan lingkungan kampus yang memadai dapat berpengaruh pada tumbuh kembangnya kapasitas mahasiswa. Sementara, budaya akademik kampus demikian juga dapat terus dikembangkan, seperti riset."Maka mahasiswa akan betah berada di dalam kampus untuk diskusi dan mengembangkan kapasitas dirinya. Selain itu, academic culture juga harus terus dijaga dan dikembangkan. Sebab, kampus adalah masyarakat ilmiah, maka kampus harus menjadi lahan dan tempat penyemaian budaya kampus yang berjiwa akademis. Demikian, pembelajaran dan mental yang terus dinamis dalam mengejar kapasitas diri dalam dunia ilmiah," ucapnya.

  

Terakhir, tantangan yang ketiga yaitu mengembangkan potensi seluruh civitas akademika dengan konsep 4C's, yaitu competence, capacity, communication, and collaborations. Seperti halnya disampaikan Nur Syam bahwa keempat potensi ini yang harus digali dan dicari untuk dikembangkan menjadi kampus merdeka dan belajar yang merdeka.

  

"Keduanya adalah penafsiran terhadap tantangan Era Revolusi Industri 4.0, yang seharusnya disongsong dengan sikap yang relevan dengan kenyataan ini. Makanya diperlukan 4K, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja solid dan kerja sama dan juga togetherness, yaitu coming together (menghadapi bersama), sharing together (berbagi bersama), working together (bekerja bersama) dan succeeding together (berhasil bersama). Jika semua komponen civitas akademika bisa melakukannya bukan tidak mungkin kita akan sukses menggapai PTKIN yang lebih baik," pungkasnya.