(Sumber : Nur Syam Centre)

Pilwali Surabaya di Tengah Pandemi

Informasi

Berdasarkan ketetapan KPU Surabaya, tanggal 9 Desember 2020 mendatang sekiranya akan dilaksanakan pemilihan Walikota yang berpotensi akan menimbulkan interaksi, kerumunan, dan mobilisasi massa dalam jumlah besar. Namun, di sisi lain per tanggal 22 Agustus 2020 berdasarkan informasi dari Gugus Tugas Covid-19, Surabaya mengalami peningkatan status zona merah terkait penyabaran Covid-19. Dua hal ini menjadi problem utama yan harus diantisipasi dengan matang dan sistemik oleh tiap pihak. Oleh sebab itu, dalam menyikapi hal tersebut Satbinmas Polrestabes Surabaya menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) di Surabaya dengan tema “Jaga Kamtibmas Menghadapi Pandemi Covid-19 dan Pilwali Kota Surabaya Tahun 2020”, pada hari Sabtu (22/8). 

  

Dalam acara tersebut dihadiri oleh tiga narasumber yaitu dr. Heri Munajib dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU), Dr. Chabib Musthofa yang merupakan Wakil Dekan III FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus CEO Nur Syam Centre, dan Ustadz Fathul Qodir Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU JATIM). Serta, Gus Ahmed Miftahul Haque, Pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Khos Al-Isma’iliyah yang menjadi moderator dalam acara tersebut. 

  

Acara yang dilaksanakan di Ruang Ballroom Hotel Arcaia Jl. Raya Rajawali Surabaya tersebut diikuti oleh sekitar  75 peserta dari berbagai organisasi dan komunitas masyarakat, seperti halnya Komunitas Gerakan Anti Narkoba, Surabaya Digital City (SDC), Mafindo, Netizen Subaya, Matan, Nur Syam Centre, Ruqyah Empat Dimensi, dan Karang Taruna yang aktif dari beberapa Kapolsek. 

  

Walaupun acara tersebut tidak dilakukan secara online, namun dalam proses pelaksanaannya tetap dilakukan berdasarkan protocol Kesehatan. Seperti halnya setiap peserta dicek suhu tubuh, diwajibkan memakai masker, dan harus menggunakan handsanytizer

  

Kasat Binmas Polrestabes Surabaya, Moh Fathoni membuka acara FGD dengan sambutan tiga kali ketukan palu. “Covid-19 masih ada, tapi tidak perlu ditakuti. Ikuti anjuran pemerintah dengan selalu cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker,” ucapnya dalam sambutan tersebut. Ia juga menghimbau pentingnya masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan, karena kesadaran masyarakat yang masih rendah. 

  

Memahami Covid-19

  

Pemateri pertama dr. Heri Munajib, memaparkan mengenai siapa, bagaimana mengenali, mencegah, dan menghadapi Covid-19. Dokter yang juga mengaku pernah menjadi korban dari Covid-19 ini menjelaskan bahwa Jawa Timur adalah daerah dengan penyebaran tertinggi kedua setelah DKI Jakarta. “Jika di Jakarta Covid-19 sudah bermutasi sekitar tiga hingga empat kali, di Surabaya virus ini sudah bermutasi lebih dari 12 kali,” ujarnya. Oleh sebab itu, pola hidup sehat dan menjalankan anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan adalah solusi pada situasi semacam ini. 

  

dr. Heri juga menghimbau masyarakat akan pentingnya literasi, agar masyarakat tidak mudah termakan hoax. Pada salah satu slide-nya, ia menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan hoax terbanyak di dunia. Selain, itu anggota PDNU ini berucap bahwa ia sangat kecewa karena masih banyak orang yang mengentengkan bahkan tidak percaya bahwa virus ini ada. 


Baca Juga : Maqashid al-Suwar: al-Ma'idah (Bagian Pertama)

  

“Ada beberapa tokoh masyarakat yang mengatakan bahwa Covid-19 adalah konspirasi. Ini saya tidak terima. Karena, jika tokoh bicara itu pengikutnya banyak, ya diikuti jama’ahnya,” ujar dr. Heri. Hal itu akan semakin banyak menyebabkan masyarakat yang abai akan situasi pandemi saat ini. Karena itulah, ia juga berharap agar para tokoh turut serta dalam membangun kesadaran akan pentingnya menjaga protokol kesehatan kepada masyarakat, terutama Ketika proses politik pilwali Surabaya nanti dilaksanakan. 

  

Imbas Covid-19

  

Pemateri kedua, Dr. Chabib Musthofa menjelaskan bagaimana situasi Pilwali pada era pendemi seperti saat ini. Pada awal materi, CEO Nur Syam Centre ini menunjukkan bahwa ia tidak menemukan data mengenai penyebaran Covid-19 di Surabaya. Bahkan, dari Dinas Kesehatan yang seharusnya melakukan updating berita pada masyarakat sebagai bentuk transparansi informasi. 

  

 “Masyarakat tidak mendapatan info yang real, karena lembaga yang seharusnya menyajikan data, lembaga terdekat, Dinas Kesehatan pun terakhir upload pada bulan Maret,” jelasnya. 

  

Selain itu, CEO Nur Syam Centre ini juga menghimbau bahwa penting bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang tepat atas Pilwali sekaligus perkembangan Covid-19 dengan cara menggalakkan literasi pandemi atau informasi yang mampu menenangkan masyarakat. Informasi yang jelas, transparan dan update juga dapat menjadi salah satu strategi untuk memberikan edukasi bagi masyarakat.  

  

Saat ini seluruh bidang kehidupan mengalami imbas karena Covid-19 ini, baik dalam bidang politik, kesehatan, ekonomi, sosial bahkan budaya. Beberapa hal dibutuhkan guna mengatasi situasi semacam ini, dibutuhkan literasi, edukasi, industrialisasi, dan spiritualisasi. 

  

Dr. Chabib Musthofa juga menambahkan bahwa Covid-19 jika dipahami dalam perspektif antropologi Kesehatan, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu disease, illnes dan sicknes. Disease itu merupakan tugas para dokter untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat, sedangkan illnes dan sicknes, ini merupakan tugas dari para tokoh-tokoh masyrakat baik dari kalangan pemerintah, agama, politik dan lain sebagainya.

  

“Karena selama ini problem Covid-19 ini dampak yang paling dirasakan bukan hanya sekedar korban yang terkena, tapi keluarga korban juga menjadi terkena imbasnya, banyak masyarakat yang memandang Covid-19 sebagai sebuah aib, dimana keluarga korban yang seharusnya di-support malah dijauhi dan diasingkan, bukan hanya sekedar fisik, tapi juga secara sosial”, jelasnya. 

  

Karena itulah, ia menghimbau kepada lapisan masyarakat dan pemerintah untuk saling bekerja sama membangun kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam memahami pandemi Covid-19 secara baik dan benar. 

  

Mempererat Kerjasama dalam Mengedukasi Masyarakat 

  

Pemateri ke tiga Ustadz Fathul Qodir menyambung dua pemateri sebelumnya. Jika dr. Heri membahas dengan perspektif kesehatan, Dr. Chabib dengan perspektif politik, maka ustadz Qodir menjelaskan Covid-9 lebih pada pandangan agama. 

  

“Menghindari keburukan lebih baik dari pada mengambil kebaikan dan Covid-19 adalah salah satu takdir yang sudah ditentukan Allah SWT. Ingat juga bahwa takdir itu ada dua macam. Takdir mubram sebagai takdir yang tidak bisa diubah dan takdir mualaq sebagai takdir yang bisa untuk diubah.” ucapnya pada awal pembukaan materi. “Jadi kita tidak bisa berdalil atas nama takdir, kemuian kita mengabaikan protokol Kesehatan”. Lanjutnya. 

  

Selain itu, Ustadz Qodir menghimbau bahwa mempererat kerja sama untuk mengedukasi masyarakat, terutama para tokoh agama. Ia menambahkkan apa yang disampaikan oleh dr. Heri bahwa tokoh agama memiliki banyak jama’ah yang artinya menjadi sosok contoh. “Sehingga, “segala ucapan dan tingkah laku juga menjadi teladan bagi para jemaahnya. Karena itulah saya berharap para tokoh agama ini nanti memberi Pendidikan yang baik dan benar berkaitan dengan Covid-19 terhadap masyarakat sekitar”. Pungkasnya.

  

Acara tersebut berjalan dengan lancar dan berakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah terjadi dialog dengan tiga pertanyaan dari peserta. Kegiatan semacam ini menjadi salah satu strategi Satbinmas Polrestastabes Surabaya untuk mengedukasi masyarakat. Sesuai ucapan Bripka Sofwan selaku ketua kegiatan FGD saat diwawancarai oleh tim redaksi Nur Syam Centre, ia menyatakan bahwa “tujuan kegiatan ini pertama, karena memang ada program kerja tentang diskusi, kedua substansinya juga komunitas, kedua peserta yang diundang diharapakan mampu menjadi pioneer untuk menyampaikan hasil diskusi yang mereka peroleh kepada masyakat sekitar.”