(Sumber : nursyamcentre.com)

Strategi Menangkal Misinformasi di Tengah Pandemi

Informasi

Beragam informasi di era digital saat ini membanjir, baik di media massa dan media sosial. Hingga mengakibatkan tak sedikit masyarakat mengalami kesulitan untuk membedakan antara informasi yang benar dan informasi yang salah. Hal itu kemudian berdampak tak sedikit masyarakat termakan informasi yang salah atau disinformasi. Bahkan, tak sedikit masyarakat akhirnya memahami informasi secara salah atau misinformasi karena beberapa faktor, yaitu salah satunya kadar kemampuan masyarakat dalam memahami pesan.

 

Seperti yang dilansir laman Kementerian Komunikasi Dan Informatika RI, Selasa (05/05/20) berdasar pada data hasil pantaun Tim AIS Ditjen Aptika, menyatakan, terdapat 1.401 konten hoaks dan disinformasi Covid-19 beredar di masyarakat.

 

Supaya Tetap Eksis

 

Dr. Danang Tandyonomanu Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyampaikan bahwa terjadinya misinformasi tak terbatas pada kalangan tertentu. Namun, misinformasi bisa terjadi di semua kalangan. Hal ini juga bukan karena masyarakat tak mempunyai kemampuan untuk menganalisis informasi. Tapi, justru masyarakat memiliki kemampuan analisis yang cukup beragam. Hanya saja masyarakat lebih menginginkan untuk menjadi orang pertama dalam menyampaikan informasi terbaru.

 

"Karena keberagaman dari sisi usia dan tingkat rujukan yang dimilikinya. Sedang, satu hal yang menjadi ciri dari media sosial ini adalah kecepatan. Sementara, menjadi orang pertama yang menyampaikan informasi terbaru itu suatu kebanggaan tersendiri. Supaya tetap eksis, gitu kesannya," ungkapnya.

 

Gagal Memahami Konten Dan Konteks Informasi

 

Keberadaan informasi terkategori dalam tiga bentuk, demikian halnya disampaikan Danang, yaitu misinformasi, disinformasi, dan mal-informasi. Misinformasi merupakan informasi yang dipahami secara salah. Namun, orang yang memahami informasi, memiliki keyakinan bila informasi tersebut benar. Sisi lain, orang yang memahami informasi tersebut gagal dalam membangun suatu hubungan antara konten informasi dengan konteks yang dimaksud dalam informasi tersebut.

 

"Ada kesalahan memahami informasi bisa jadi karena informasi yang ada terlalu kompleks atau susah dipahami. Sehingga khalayak gagal dalam memahami informasi dengan benar. Akhirnya pemahaman itu yang kemudian disebarkan ulang kepada orang lain melalu berbagai saluran," ucapnya pada crew Nur Syam Centre, Minggu (26/07/20).


Baca Juga : Polemik Aturan dan Praktek Pernikahan di Indonesia

 

Selain misinformasi,  Danang juga menyampaikan bahwa terdapat disinformasi. Disinformasi merupakan informasi salah yang disampaikan dengan tujuan tertentu demi menguntungkan suatu pihak. Hal ini dapat dilakukan dengan memutar balikkan konteks informasi dengan menggunakan sudut pandang lain yang menguntungkan.

 

"Bahkan ada upaya untuk memanipulasi data yang ada hingga informasi menjadi salah. Hingga akhirnya bagi orang lain tampak informasi tersebut benar. Walau, sebenarnya informasi tersebut bisa jadi berseberangan," tuturnya.

 

Sedang, yang terakhir yaitu mal-informasi. Danang menyampaikan, mal-informasi merupakan informasi salah yang dipergunakan untuk menyerang seseorang atau suatu kelompok tertentu. Hal ini yang biasanya dapat berupa, yaitu ujaran kebencian, penggunaan kata yang tak pantas, bahkan mengungkap hal-hal yang bersifat pribadi ke ranah publik secara tak pantas.

 

"Misalnya, seseorang dikatakan memiliki garis keturunan tertentu, yang mungkin belum diketahui publik. Sehingga dia diperbolehkan atau tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan tertentu," ujarnya.

 

Namun, ketiga keberadaan informasi tersebut, menurut Danang semua mengarah pada information disorder. Information disorder merupakan informasi yang tak pada tempatnya. "Semua informasi  yang tidak pada tempatnya, baik secara makna yang salah atau sengaja dibuat diplintir untuk menjadi salah," ucapnya.

 

Pasalnya, kenyataan saat ini tak sedikit masyarakat akhirnya misinformasi. Demikian yang disampaikan oleh Danang, ia mengatakan bahwa seseorang akan mencari informasi sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Bahkan, saat kebutuhan seseorang akan informasi terganggu, maka dapat membuat seseorang panik hingga melakukan tindakan apapun untuk memenuhi kebutuhan.

 

"Jika kebutuhannya adalah terkait dengan peningkatan imunitas tubuh. Maka, dia akan menerima apapun informasi yang ada terkait imunitas tubuh. Meski, informasi itu belum tentu benar," ungkapnya.

 


Baca Juga : Belajar dari Ulumul Hadits: Kesesuaian Antara Tujuan (Al Ghoyah) dan Perantara (Al Wasilah)

Masyarakat yang Well Inform

 

Akhirnya di tengah era digital seperti saat ini, peran pendidikan menjadi penting dalam menangkal misinformasi. Seperti halnya disampaikan Danang, ia menyampaikan bahwa peran pendidikan adalah menjadikan masyarakat yang well inform.  Masyarakat well inform adalah masyarakat yang paham informasi karena multi sumber dan selalu melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima. Sementara, pendidikan well inform dapat diterapkan pada semua tingkatan sekolah, mulai SD hingga perguruan tinggi.

 

"Iya pendidikan itu proses bukan instan. Ada proses yang memberikan mereka kesempatan untuk melihat segala sesuatu dari banyak sisi, banyak sudut pandang, banyak sumber, sehingga mereka akan menjadi masyarakat yang melek informasi. Itu kalau pendidikannya yang benar," tuturnya.

 

Sedang, peran media juga tak kalah penting dalam menangkal misinformasi. Sebab, media adalah salah satu yang memiliki peran dalam hal edukasi masyarakat. Seperti yang disampaikan Danang, ia menyampaikan bahwa media juga mempunyai tugas untuk mendidik masyarakat melalui jalur non sekolah."Jadi sampaikanlah informasi yang memang benar dan mendidik. Tidak sebaliknya," ucapnya.

 

Literasi Media Secara Masif

 

Menanggapi persoalan misinformasi, Drs. Prihananto, M.Ag Dosen Komunikasi Dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya menyampaikan bahwa terjadinya misinformasi banyak disebabkan oleh kadar kemampuan seseorang dalam memahami pesan. Sedang, hal itu disebabkan karena beberapa faktor, yaitu faktor internal, seperti pendidikan dan persepsi. Sementara, faktor lain yang menjadi penyebab, yaitu pesan itu sendiri.

 

"Pesan mungkin terlalu sulit dipahami, baik secara struktur kalimat, teks, dan penggunaan istilah, dan lain sebagainya. Sehingga langkah awal dapat dimulai dari pembuat pesan. Pembuat pesan harus membuat pesan yang mudah dipahami dengan menggunakan struktur yang sederhana, serta menyesuaikan dengan karakter audience," ungkapnya pada crew Nur Syam Centre, Selasa (28/07/20).

 

Demi meminimalisir terjadinya misinformasi, maka perlu meningkatkan kadar kemampuan masyarakat dalam memahami pesan. Seperti halnya disampaikan Prihananto, ia mengatakan bahwa salah satu meningkatkan kadar kemampuan masyarakat dalam memahami pesan, yaitu dengan adanya upaya literasi media secara masif. Sebab, menurutnya, di era digital saat ini, informasi beragam cukup membanjir khususnya di media sosial.


Baca Juga : Kepentingan

 

"Banjir bandang informasi, baik informasi yang benar dan informasi yang salah. Sementara, juga ada masyarakat yang memahami informasi benar, lalu dipahami dan dipersepsi secara salah. Selain itu, informasi yang salah diterima sebagai kebenaran. Belum lagi kualitas informasi media yang masih jauh dari prinsip jurnalisme sesungguhnya. Masih banyak konten media sosial adalah produk private netizen journalism. Demikian masyarakat perlu memilih media informasi yang terpercaya dan berstandar yang sesuai standar jurnalisitik," imbuhnya.

 

Memahami Informasi Berdasar Teks dan Konteks

 

Edukasi masyarakat terkait media menjadi penting agar masyarakat terhindar dari misinformasi. Hingga akhirnya masyarakat dapat mengkonsumsi informasi dari media berdasar pada pemahaman informasi yang menghubungkan antara teks dan konteks. Demikian halnya disampaikan Prihananto, penting membaca informasi yang dipahami berdasar pada teks dan konteks.

 

"Teks harus dibaca secara bersamaan dengan konteks dimana teks tersebut diproduksi, seperti dimana, kapan, oleh siapa, dan dengan tujuan apa. Demikian masyarakat harus mampu membaca teks dengan prinsip setiap huruf, kata, dan kalimat mewakili makna dari kenyataannya masing-masing. Dan yang terpenting setiap konten media merupakan hasil konstruksi pembuat teks tersebut," ujarnya.

 

Kendati demikian, hal lain yang memicu terjadinya banyak misinformasi, yaitu cara pandang positivistik. Seperti halnya disampaikan Prihananto, pandangan positivistik ini akhirnya menyumbang lebih banyak terjadinya misinformasi. Sebab, menurutnya cara pandang positivistik membekali masyarakat berprinsip bahwa informasi adalah realitas sesungguhnya atau kebenaran.

 

"Hingga informasi media yang dibaca dengan menggunakan cara pandang positivistik ini,  kemudian tidak peduli media apa dan bagaimana kualitas konten atau pembuat pesannya," ungkapnya.

 

Menggunakan Tanda Koma dan Tanya

 

Selain itu, Prihananto juga menyampaikan, setidaknya masyarakat dapat menggunakan cara pandang konstruktivistik dan kritis. Sebab, menurutnya dengan kedua cara pandang tersebut dapat membantu masyarakat terhindar dari misinformasi.

 

"Melalui cara pandang konstruktivistik dan kritis kita dilatih untuk membaca teks media informasi selalu dengan menggunakan tanda koma dan tanya. Sehingga informasi media dijadikan pancingan bagi audience untuk menguji informasi tersebut. Misalnya, benarkah demikian?, apa tujuan menginformasikan hal ini?, mengapa diksi dan istilah yang dipakai seperti ini?, adakah pemenggalan atau istilah lain diplintir ungkapan narasumbernya, dan sederet auto question lainnya atau timbul tanda tanya secara otomatis terhadap informasi yang diterimanya," pungkasnya.(Nin)