(Sumber : nursyamcentre.com)

Tanggapan Quraish Shihab Soal Menendang Sesajen

Informasi

Belakangan jagat maya tengah ramai memperbincangkan soal video yang memperlihatkan seorang lelaki menendang sesajen di kaki Gunung Semeru. Lantas perilaku pria tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan di media sosial Twitter.

 

Menyoal perilaku lelaki yang menendang sesajen, Quraish Shihab Ulama Indonesia ikut angkat suara. Dalam video unggahan kanal Youtube Narasi Tv (15/01), ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya segala kegiatan hendaknya diarahkan keapada Tuhan, yaitu bermohon kepada Tuhan.

 

"Kalo anda bermohon pada manusia, maka bermohon kepada Tuhan terlebih dahulu. Agar Tuhan memberikan kemampuan untuk memenuhi permintaan anda," ucapnya.

 

"Apa yang dipersembahkan kepada sesuatu. Itu bisa bermacam-macam motifnya. Bisa jadi saya mempersembahkan sesuatu ke laut, supaya ikan bisa makan. Saya berikan ke hutan, supaya kera bisa makan.  Itu sesuatu yang baik-baik saja. Saya tidak kaitkan kera bisa memenuhi keinginan saya," tambahnya.

 

Perihal memberi sesajen, Quraish menanggapi, sebuah sesaji atau sesajen yang dipersembahkan tentu didasari atas keyakinan bahwa dengan sesajen tersebut dapat membantu seseorang mencapai keinginan tertentu. Misalnya, memotong kepala kerbau dengan harapan agar tidak diganggu oleh jin saat dalam pembangunan.

 

"Itu tidak boleh. Kalo menyembelih kerbau, menyembelih sapi untuk anda sedekahkan dan makan bersama, itu tidak ada masalah," terangnya.

 

"Tetapi kita aggaplah sesaji yang diberikan di kaki Gunung Semeru memang bermaksud untuk memohon bantuan suatu kekuatan selain kekuatan Ilahi. Ini yang kita harus hati-hati," tambahnya.

 

 Memaki Tak Boleh Apalagi Menendang


Baca Juga : Idul Fitri Sebagai Wisuda Spiritual

 

Walau demikian, Kata Quraish sebagaimana sesama manusia harus saling menghormati keyakinan yang dianut dan suatu hal yang dianggap baik oleh masyarakat setempat.  Sebab dalam al-Qur'an surat Al-An'am ayat 198 berbunyi 'wa laa tasubbulladzina yad'una min dunillahi fa yasubbullaha adwam bigairi 'ilm. Kadzalika zayyanna likulli ummatin 'amalahum.'

 

"Jangan memaki sembahan-sembahan  orang-orang yang menyembah selain Allah," jelasnya.

 

"Memaki saja tidak boleh, apalagi menendang. Memang begitulah Allah menjadikan manusia mencintai sesuatu dan menganggap baik sesuatu. Tidak apa-apa. Nanti Tuhan yang menentukan di hari kemudian, apa pandangan dan keputusan Tuhan terhadap mereka. Jadi mestinya, itu jangan ditendang," jelasnya lebih lanjut.

 

Quraish menambahkan bahwa sudah seharusnya saling menghormati atas keyakinan yang dianut oleh masing-masing orang. "Itulah dia kita hormati. Menghormati bukan berarti kita setuju. Itu keyakinannya. Itu adat-istiadatnya. Dan itu kepercayaannya. Kenapa diganggu?. Al-Qur'an berkata ini. Banyak sekali ayat itu," ucapnya.

 

"Lanaa 'amaluna wa lakum 'amalukum. Artinya kami punya kegiatan, kalian punya kegiatan juga. Silahkan masing-masing. Karena kalo tidak, kita mengundang orang juga memperlakukan apa yang kita percaya, apa yang kita lakukan itu sebagaimana perlakuan kita terhadap dia," tambahnya.

 

Sedangkan, perihal celetukan yang terdengar dalam sebuah video yang viral, lelaki tersebut mengatakan bahwa dengan adanya sesajen akan mendatangkan adzab dan murka dari Tuhan. Quraish pun menjelaskan bahwa segala sesuatu tak akan terjadi tanpa izin Allah.

 

"Dari mana kita tahu bahwa akan memicu murka Allah? Allah kan mengizinkan.  Allah memberikan kebebasan manusia untuk percaya atau tidak percaya. Untuk beribadah atau tidak beribadah. Kalo kita baca ayatnya tadi. Putusan dan siksaannya nanti di hari kemudian," imbuhnya.

 

Tiga Adat-Istiadat Dalam Islam

 

Sementara perihal adat-istiadat dalam Islam terbagi menjadi tiga. Sebagaimana dijelaskan Quraish, pertama, yaitu yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam disebut ma'ruf.

 

"Kita diperintahkan menegakkan ma'ruf. Apa yang kamu anggap baik di dalam masyarakatmu. Dan itu sejalan dengan tuntunan agama atau tidak bertentangan. Tegakkan itu. Misalnya pake peci hitam itu menurut saya adat kebiasaan bangsa kita. Itu lebih baik daripada pakai topi," ujarnya.

 

Kedua, yang jelas bertentangan dengan Islam. Quraish menjelaskan bahwa Islam yang bertentangan itu tidak direstui oleh Tuhan. Akan tetapi yang bertentangan tersebut menjadi suatu kepercayaan seseorang.

 

"Lakum dinukum wa liya diin. Surat Al-Kafirun ayat 6," tegasnya.

 

Ketiga, yang masih masuk dalam kategori abu-abu. Dalam hal ini Quraish menjelaskan bahwa yang termasuk dalam abu-abu, Islam berusaha untuk meluruskan dan memperbaikinya.

 

"Dulu Walisongo melakukan itu. Sekian banyak adat dan istiadat. Dia 'islamkan' sehingga berjalan sesuai. Jadi itu adat. Jangan terlalu kaku. Di setiap daerah ada adatnya, ada kebiasaannya. Kembali lagi setiap amal itu sesuai dengan niatnya," pungkasnya. (Nin)