(Sumber : NU Online Jabar )

Dinamika Gerakan Tarekat Pada Masyarakat Transisi di Pulau Bawean

Kelas Metode Penelitian

Izul Herman pun mendapatkan gelar doktor dalam Islamic Studies setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka atau ujian promosi doktor pada Program Doktor Islamic Studies pada UIN Sunan Ampel Surabaya, pada tanggal  04 Juli 2022.  Selaku Promotor adalah Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si dan Dr. Kharisuddin Aqib, M.Ag. tim penguji pada ujian terbuka adalah Prof. Dr. Masdar Hilmy, MA (Ketua/penguji), Dr. Hamisy Syafaq (Sekretaris/penguji), Prof. Dr. Nur Ahid (IAIN Kediri, penguji utama), Prof. Dr. Abdul Kadir Riyadi, MA (Penguji), Prof. Dr. Nur Syam, Msi (promotor/penguji), Dr. Kharisuddin Aqib (Promotor/penguji) dan Prof. Dr. Samsul Huda (penguji). 

  

Berdasarkan atas ringkasan disertasi, maka didapati Kata Kunci, yaitu Kesinambungan, Perubahan, Struktural Funsional, Tarekat, Transisi dan Bawean. Sedangkan ringkasan disertasinya adalah sebagai berikut: Penelitian ini hendak mengurai  dinamika kesinambungan dan perubahan gerakan tarekat pada masyarakat transisi di Pulau Bawean.  Hal ini berangkat dari maraknya kelompok tarekat di Bawean. Fenomena tersebut  menjukkan adanya pergeseran pandangan dan respon masyarakat terhadap tarekat sebagai institusi agama. Rumusan masalah penelitian ini adalah; (1) Bagaimana dinamika kesinambungan tarekat pada masyarakat transisi Pulau  Bawean? (2) Bagaimana dinamika perubahan tarekat pada masyarakat transisi Pulau Bawean? (3). Bagaimana makna dinamika kesinambungan dan perubahan tarekat pada masyarakat transisi Pulau Bawean?.

  

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teori yang digunakan untuk melihat dinamika tarekat di Bawean adalah Continuity and Change “three dimensional approach” John Obert Voll, struktural fungsional Talcott Parsons dan  teori perubahan sosial Mac Iver. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentansi. Temuan penelitian menunjukkan: Pertama, Pola kesinambungan gerakan tarekat  di Pulau Bawean dapat dibagi menjadi dua, yaitu gerakan tarekat mu’tabarah dan gerakan tarekat kultural. Gerakan tarekat mu’tabarah memiliki kesinambungan yang lebih jelas dibandingkan gerakan tarekat kultural. Kesinambungan gerakan tarekat mu’tabarah ini dapat dilihat dari  sumber ajaran, sanad kemursyidan dan jaringan keorganiasasian. Sementara sanad dan jaringan keorganisasian gerakan tarekat kultural tidak dapat dilacak secara ilmiah.  Ia muncul sebagai bentuk antitesis dari tarekat mu’tabarah. Secara substansi ajaran kedua model tarekat tersebut tidak jauh berbeda, baik dari segi amaliah,  tujuan (maksud), dan motivasi (niat). Keduanya mengajarkan penyucian diri untuk mencapai rida Allah.

  

Kedua, Gerakan tarekat di Pulau Bawean telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan  tersebut karena adanya faktor internal  kepemimpinan dan faktor eksternal adaptasi yang menuntut adanya modifikasi gerakan tarekat. Ketiga,  Kesinambungan dan perubahan institusi tarekat yang terjadi di Bawean berjalan secara alamiah. Dinamika tersebut sebagai bentuk kestabilan (ekuilibrium) untuk menjaga keseimbangan istitusi agama di tengah masyarakat transisi dari fase trandisional menuju modern guna terpeliharanya nilai-nilai ajaran Islam.

  

Sebagai karya disertasi, maka kajian ini termasuk kajian dengan pendekatan cross-disipliner. Yaitu mengkaji dua cabang ilmu dengan menjadikan kajian keislaman (tarekat) sebagai sasaran kajian dengan pendekatan sosiologis. Sebagaimana diketahui bahwa pendekatan sosiologisnya dapat diketahui dari teori yang digunakan yaitu teori perubahan sosial, teori keajegan dan perubahan dan teori struktural fungsional. Ketiganya dipakai untuk melihat dinamika tarekat pada era transisi di Bawean Jawa Timur.

  

Kajian disertasi harus menggunakan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner sebagaimana termaktub dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada level sembilan. Maka menjadi kewajiban para kandidat doktor untuk menulis sesuai dengan KKNI dimaksud. Tulisan Izul Herman saya kira sudah memenuhi syarat disebut sebagai kajian yang bercorak integrasi ilmu. 

  

Temuan baru dalam disertasi yang ditulis oleh Izul Herman adalah adanya kesinambungan, khususnya sumber ajaran tarekat, kemursidan dan  keorganisasian katarekatan, sedangkan yang berubah adalah kultur masyarakat penganut tarekat. Di dalam menghadapi kehidupan sosial, masyarakat dapat berubah sesuai dengan kultur masyarakat yang juga berubah.

  

Dengan demikian di era transisi, maka ajaran tarekat dan sanad tarekat tidaklah berubah karena merupakan substansi tarekat atau yang ajeg dalam tarekat, akan tetapi yang asesoris sebagaimana kehidupan sosial yang menyangkut relasi sosial dalam kehidupan masyarakat bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.