(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Fenomenologi Sebagai Filsafat dan Metode dalam Penelitian Sosiologi (Bagian 1)

Kelas Metode Penelitian

Oleh: Dr. Abdul Main, M. Hum.

(Widyaiswara BDK Surabaya)

  

Fenomenologi adalah ilmu tentang fenomena. Mempelajari tentang sesuatu yang tampak, yang terlihat dalam keseharian setiap orang. Fenomena  tidak hanya dapat diamati dengan indera, tetapi  dapat juga ditilik secara ruhani.  Melihat fenomena tidak selalu mengharuskan peristiwa, karena tanpa peristiwa fenomena juga eksis di dalam diri subjek. Menurut para pengikut Filsafat Fenomenologi, fenomena adalah “apa yang menampakkan diri dengan dirinya sendiri, apa yang menampakkan diri seperti apa adanya, apa yang jelas di hadapan kita” (Hadiwijono, 1980: 140).

  

Fenomena dapat dibagi dua: fenomena fisik dan fenomena mental (psikhis). Yang pertama merupakan objek persepsi sedangkan yang kedua menjadi objek introspeksi. Dalam Dictionary of Philosophy, Peter A. Angeles menjelaskan bahwa fenomena adalah objek persepsi atau objek yang bisa dipahami; fenomena adalah objek dari sence experience, yakni objek pengalaman indera; fenomena adalah sesuatu yang hadir ke dalam kesadaran; fenomena adalah setiap fakta atau kejadian yang dapat diobservasi. Dalam tradisi filsafat Continental mulai Descartes, Kant sampai Hegel, kata fenomenologi kemudian menjadi tema filsafat yang menunjuk kepada makna ‘the thinking subject’, subjek yang berpikir (Don, 1971). Makna tersebut juga dapat ditemukan dalam karya perdana Hegel (1770-1831) Phenomenology of  Mind (1806). 

  

Jadi fenomenologi melihat, merekam, mengonstruk realitas dengan menepis semua asumsi yang mengontaminasi pengalaman konkrit manusia (subjek). Itu sebabnya fenomenologi disebut sebagai cara berpikir yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai ‘esensi’, lepas dari segala presuposisi dengan cara ‘kembali kepada halnya sendiri’ sebagaimana akan kita lihat dalam uraian selanjutnya tanpa pengaruh apa pun juga, apakah metafisika, sain, agama, takhayul, mitos, kebudayaan, kepercayaan, dan sebagainya, semuanya harus dihindari sehingga fenomena tampak sejernih-jernihnya. 

  

Proyek besar fenomenologi adalah purifikasi cara berfilsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan, kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkrit, lekat dan dihayati. Fenomenologi juga menolak klaim representasionalisme epistemologi modern, klaim yang menjelaskan pengetahuan sebagai jiplakan batin dari apa yang ada di luar benak manusia bahwa benak adalah cermin semesta. Klaim tersebut mengandaikan keterpisahan subjek dan objek pengetahuan. Pengalaman subjek pengetahuan harus dipandang sebagai pengalaman yang terlibat aktif dengan dunia. 

  

Cara berfilsafat fenomenologis yang demikian ini tak pelak, kemudian menjadi salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Di antara tokoh yang mendapat pengaruh fenomenologi antara lain filsuf Ernst Cassirer (1874-1945)  Neokantianisme, McTaggart (1866-1925) Idealisme, Friedrich Ludwig Gottlob Frege (1848-1925) Logisme, Wilhem Dilthey (1833-1911) Hermeneutika, Soren Kierkegaard (1813-1855) Filsafat Eksistensialisme, dan Jacques Derrida (1930-2004) Poststrukturalisme (Adian, 2010: 4). Sementara di garis fenomenologi sendiri terdapat beberapa nama besar antara lain Edmund G. A. Husserl (1859-1938) Bapak Fenomenologi, Martin Heidegger (1989-1976) Fenomenologi Eksistensialis dan Alfred Schutz (1899-1959) Fenomenologi sosial.

   

Di tangan para eksponen dan penganutnya, fenomenologi berkembang menjadi, tidak saja aliran filsafat yang selanjutnya menjadi suatu ‘ajaran’, tetapi fenomenologi juga menjadi metode atau cara menggapai pengetahuan secara purified.  Prof. Drijarkara (2006:1319-36) dalam karya lengkapnya menjelaskan hal ini dengan membedakan dua cabang mengenai fenomenologi: yaitu fenomenologi sebagai sebuah ajaran dan fenomenolgi sebagai suatu metode. Baik sebagai filsafat maupun sebagai metode, ciri khas fenomenologi adalah hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas (Driyarkara, 2006:1324).

  


Baca Juga : Tradisi Sedekah Bumi

Sebelum penulis menjelaskan cara kerja penelitian di dalam bingkai fenomenologi, ada baiknya kita meninjau dahulu meskipun serba singkat berbagai pemikiran para ahli fenomenologi untuk mendapatkan zeitgeist dari para filsuf. Dari sekian banyak nama fenomenolog kenamaan, di ruang terbatas ini akan penulis kutipkan tiga  saja, bukan berarti nama-nama lain tidak penting. Tetapi dengan meninjau pemikiran ketiga tokoh berikut ini kiranya diperoleh gambaran yang memadai mengenai apa itu fenomenologi dan bagaimana bekerja di alam fenomenologi. Ketiga nama tersebut adalah Edmund Husserl, Martin Heidegger (1889-1976), dan Alfred Schutz.

  

Fenomenologi Edmund Husserl

  

Edmund Husserl adalah pelopor aliran filsafat fenomenologi, bahkan dia disebut Bapak Fenomenologi. Meneruskan tradisi Continental,  Husserl mengusung fenomenologi sebagai gerakan filsafat dan mengenalkan pemikirannya tentang transendensi fenomenologis, reduksi fenomenologis, epoche, eidetic vision, intentionalitas, content, consciousness, descriptive psychology, liebensweld (live world, dunia hidup, yakni dunia pengalaman sehari-hari, dll.  Husserl menegaskan bahwa “…phenomenology is identical with descriptive psychology”, yakni a priori science vis a vis psikologi genetik empirik. Husserl menolak kenyataan bahwa fenomenologi yang dia kembangkan di Jerman, dipahami orang lain sebagai disiplin yang berada di bawah psikologi empirik. Penolakan Husserl tersebut dapat dibaca dalam bukunya, Idea: General Introduction to Phenomenology (1962). Dia menyatakan: “phenomenology will be established not as a science of fact but as a science of essential Being, as eidetic science; its aims as establishing knowledge of  essence and absolutely no fact” (Husserl, 1962:39). Fenomenologi hendak dibakukan tidak sebagai sain tentang fakta (wadag/rigorous), tetapi sebagai sain tentang keberadaan yang esensial, sebagai eidetic sciences; tujuannya adalah memantapkan pengetahuan  tentang esensi dan benar-benar bukan fakta (wadag).

  

Pada bagian lain Husserl menyatakan: “all eidetic sciences is instrinsically independent of all science of fact”, semua sain tentang eidetik bebas dari semua sain tentang fakta. Sejak awal fenomenologi yang dia bangun adalah fenomenologi yang telah dirintis gurunya, Brentano. Fenomenologi adalah ilmu deskriptif dengan cara kerja a priori, ideal science dan non-empirik. Keduanya (Husserl dan  Brentano) membedakan antara empirical science dengan a priori science; keduanya juga menihilkan antara truth of fact dengan truth of reason. Truth of fact adalah wilayah garapan ilmu empirik semisal natural science yang berusaha menjelaskan atau memahami fenomena fisik, termasuk di dalamnya ilmu sosiologi empirik. Sementara truth of reason adalah ilmu deskriptif, a priori, ilmu ideal dan bukan garapan ilmu empirik tetapi garapan filsafat, sehingga dengan cara ini filsafat berdiri sejajar dengan ilmu empirik.

  

Fokus pemikirannya yang berhubungan dengan perkembangan karakteristik  fenomenologi, baik metode maupun ambisi di baliknya dapat dilacak  dari tiga hal berikut. Pertama, Husserl memulai perjalanan intelektualnya dari lingkungan akademik formal di bidang logika dan matematika. Kedua, gagasan fenomenologi Husserl dipengaruhi oleh Frans Brentano, utamanya persoalan kesadaran dan intensionalitas. Ketiga, ada sebuah perhatian khusus Husserl yang kemudian menjadi tema sentral dari Logical Investigations dan karya-karya setelahnya, yaitu anti-naturalisme. Sebuah penyanggahan bahwa natural  science memiliki kemampuan menjelaskan realitas secara tuntas (Adian, 2010: 24-25).

  

Bagi Husserl, kata “realitas” sebenarnya merupakan perluasan dari “nature”. Artinya, natural science hanya menggunakan realitas sebagai bentuk keseluruhan dari benda-benda material dalam ruang dan waktu yang diatur oleh hukum-hukum yang ajeg. Di sini pemahaman Husserl terhadap naturalisme diarahkan pada klaim kebenaran natural science sebagai presuposisi, tetapi tidak bisa menjamin dirinya sendiri. Singkatnya, tidak setiap kebenaran adalah kebenaran naturalistik (David R. Cerbone, 2006). Dan, seluruh upaya intelektualitas Husserl itu diarahkan pada sebuah aliran dan cara berfilsafat yang baru, yaitu fenomenologi. 

  

Akar fenomenologi Husserl dapat dilacak dari rasionalitas Rene Descartes dan Immanuel Kant, serta psikologisme deskriptif Frans Brentano, gurunya (sebagaimana disinggung di atas). Husserl memahami bahwa kesadaran memegang peran sentral dari semua kegiatan berfilsafat, sebagaimana Descartes. Tapi Husserl juga belajar dari Kant bahwa teori kesadaran harus berfokus pada “forma” kesadaran sebagai isi kesadaran itu sendiri. (ibid, hal 26). 

  

Husserl mengatakan bahwa kesadaran tidak lain adalah sebuah tindakan. Kesadaran senantiasa mengarah kepada sesuatu yang disadari. Artinya, kesadaran selalu mengarah kepada dua bagian yaitu cogitations (aktivitas intensional atau noesis), dan cogitata (objek intensional atau noema) yang selalu berada dalam kesadaran berkorelasi. Tesis Husserl adalah setiap tindakan menyadari, merupakan tindakan menyadari sesuatu. Oleh sebab itu, pengertian “kesadaran” oleh Husserl selalu dihubungkan dengan kutub objektivitas, yakni objek yang disadari, tidak mungkin membayangkan kekosongan (ibid, hal. 30-31). 


Baca Juga : Dakwah Ulama Era Pandemi: Kiai Miftach, Covid-19 dan Ketaatan Beragama (Bagian Kedua)

  

Menurut Husserl, “prinsip segala prinsip” adalah hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan perantara apapun juga) dapat dipakai sebagai kriterium terakhir bidang filsafat. Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya kesadaran secara langsung diberikan kepada saya selaku subjek. Baginya tidak ada tirai yang memisahkan kita dari realitas; realitas itu sendiri tampak pada kita. Kesadaran kita tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya ada kesadaran memang diandaikan tiga hal yaitu: (1) ada “subjek”, (2) “subjek” itu terbuka untuk objek-objek, dan (3) ada “objek”. Jadi ada keterarahan “subjek” kepada “objek-objek”, yang menurut istilah Husserl disebut Intensionalitas. Objek-objek harus diberi kesempatan untuk “berbicara”, artinya biarlah fenomena-fenomena itu membanjiri diri kita. Sehingga yang nampak pada kita adalah berbagai jenis perspektif: tampak depan, samping, belakang, atas dan lain-lain (Bertens, 2002: 109-111).

  

Logika Husserlian, bahwa setiap manusia dengan dan dalam pengalamannya memiliki pengetahuan valid diteguhkan dengan ide metafisis dari muridnya, Martin Heidegger, yang berkata bahwa manusia adalah manusia yang ada (being) di dunia, manusia adalah manusia yang memiliki pengalaman dan peziarahannya. Artinya, manusia, karena pengalamannya, adalah produsen pengetahuan sekaligus wilayah pengetahuan itu sendiri (Armada Riyanto, hal. 32).

  

Husserl mengajar para muridnya ide tantang Lebenswelt (atau lifeworld) yang diinspirasikan dari Frans Brentano. Lifeword artinya dunia hidup manusia yang penuh makna. Lifeworld yang dapat diterjemahkan dunia-hidup-keseharian memaksudkan kurang lebih persis dengan apa yang oleh Alfred Schutz disebut sebagai everyday life

  

Life-world adalah horison atau orientasi keseharian. Lifeworld juga memiliki makna aktualitas. Life-world tidak hanya berkaitan dengan orientasi masa lalu atau masa depan, tetapi terutama masa sekarang (Riyanto, 33). Life-world adalah pengalaman hidup manusia yang selalu diperoleh secara “taken for granted” (Kuper & Kuper (1985).

  

Fenomenologi Martin Heidegger

  

Fenomenologi Heidegger merupakan sebuah usaha transformasi fenomenologi Edmund Husserl berdasarkan pemikiran teoritis dan kebutuhan praktis pada zamannya. Heidegger mengakui bahwa ada pengaruh kental Husserl dalam fenomenologinya, meski ia sendiri mengeritik nuansa idealisme yang melingkupi fenomenologi Husserl. Heidegger menyadari bahwa persoalan kesadaran adalah masalah yang sangat mendasar karena pemahaman tentang esensi kesadaran dan aktivitasnya bisa dijadikan sebagai solusi guna menghadapi krisis ilmu pengetahuan, misalnya menggunakan pemahaman tentang esensi dan aktivitas kesadaran sebagai landaan teori-teori ilmiah tentang manusia. Dengan demikian ilmu pengetahuan tentang manusia akan memperoleh landasan kokoh bila asumsi-asumsi ontologis dan epistemologisnya didasarkan di atas pengetahuan esensi kesadaran dan aktivitas-aktivitasnya secara fenomenologis  (Adian, 2010: 49-50).

  

Konsep “Being-in-the-world”, (Jerman: in-der- Welt –sein), (Prancis: l,etre-dans-lemonde), artinya manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan meng-ada di dalam dunia. Istilah ada-dalam yang digunakan oleh Heidegger memiliki arti yang dinamis, yakni mengacu kepada hadirnya subjek yang selalu berproses. Demikian pula, dunia yang dikemukakan oleh Heidegger itu harus dimengerti sebagai hal yang dinamis, yakni suatu dunia yang terbuka tempat keseluruhan keberadaan manusia terdapat, bisa hadir dan menampakkan diri, dan bukan dunia yang tertutup atau semata-mata suatu dunia fisis-geografis yang terbatas dan membatasi manusia. Heidegger sendiri menekankan bahwa ada-dalam-dunia adalah Seinkonnen, yang berarti manusia mampu berada. Jadi, ada-dalam-dunia itu tidak menunjuk kepada fakta beradanya manusia di dalam dunia seperti beras ada di dalam karung atau baju ada di dalam lemari, melainkan menunjuk kepada realitas dasar bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya di dalam dunia sambil merancang, mengolah, atau membangun dunianya itu. Patut dicatat pula bahwa manusia dan dunia, sebagaimana telah disinggung di muka, adalah suatu totalitas yang menjalin relasi dialektis (penggunaan tanda hubung dalam istilah ada-dalam-dunia itu pun sudah mengisyaratkan pandangan total dan dialektis dari Heidegger mengenai manusia-dunia). Totalitas dan dialektika manusia-dunia itu mengandung implikasi bahwa keberadaan dan perkembangan manusia tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan dunia (Riyanto, 2009). 

  


Baca Juga : Komunikasi Interpersonal Antar Etnis

Tentang ‘Being and Time’ (Ada dan Waktu), bahwa Ada memiliki kaitan erat dengan waktu, karena Ada adalah waktu itu sendiri. Kalau kita menyadari frase berikut: “Ada-menuju-dirinya-sendiri”, secara serentak melibatkan waktu di dalam Ada itu sendiri.  Heidegger memperlihatkan bahwa dimensi Ada yang membuatnya berada dalam waktu juga tempat kita menemukan diri kita di sana, yaitu dalam keseharian (ibid.). Fenomenologi Martin Heidegger ini dapat digunakan untuk mengungkap sebuah fenomena yang bisa kita temui dalam masyarakat kita sehari-hari.

  

Fenomenologi Alfred Schutz

  

Alfred Schutz adalah tokoh terpenting dalam kemunculan sosiologi fenomenologis. Ia merupakan murid Husserl yang sangat intens memodifikasi doktrin-doktrin Husserl dengan cara mencampurnya dengan arus-arus pemikiran yang relevan. Dengan mengintegrasikan kepekaan-kepekaan Eropa khas Husserl, Max Weber, dan Henri Bergson dengan pandangan-pandangan Amerika khas Willaim James, John Dewey, dan George Herbert Mead, Schutz menciptakan suatu konstruksionisme sinkretik yang berfungsi sebagai  katalisator bagi berbagai rangkaian penelitian interaksionis kontemporer (Flaherty, 2012: 360).

  

Lebih lanjut Flaherty mengatakan, Schutz memberi prioritas pada isu-isu fundamental tentang epistemologi. Doktrin Schutz, “semua fakta sejak awalnya adalah fakta-fakta yang dipilih dari suatu konteks universal melalui aktivitas-aktivitas pemikiran kita”.  Dengan demikian tidak ada fakta yang benar-benar fakta per se –yang ada hanyalah fakta-fakta yang sudah diinterpretasikan. Interpretasi tentu saja melibatkan kesadaran yang pada gilirannya, melibatkan kebudayaan. Semua pengetahuan kita tentang dunia, dalam pemikiran akal sehat maupun dalam pemikiran ilmiah, melibatkan konsepsi-konsepsi.

  

Sebagai sosiolog, pemikiran Schutzt sangat dipengaruhi pemikiran Weber tentang makna dan motif (Ritzer dan Goodman, 2004) atau tentang verstehen (Turner, 2011) serta dipengaruhi oleh Husserl tentang intersubjektivitas. Fenomenologi Schutz, karenanya, berhutang budi pada Husserl dan Weber, di mana atas jasa kedua tokoh itu Schutz dapat ‘mengonvergensikan’ antara fenomenologi transendental Husserl dengan konsepnya Weber mengenai verstehen. Konsep Schutz mengenai societas sesungguhnya dilandasi oleh kesadaran (consciousness) karena menurutnya di dalam kesadaran itu terdapat hubungan antara orang (orang-orang) dengan objek-objek. Dengan kesadaran itu pulalah kita dapat memberi makna atas berbagai objek yang ada. Tindakan sosial yang dimaksudkan oleh Schutz sebenarnya merujuk kepada konsepnya Weber dan sementara itu konsep intersubjektivitas Husserl juga sangat kental terasa. Di mana intersubjektivitas dianggap oleh Schutz sebagai suatu konsep atau model yang ideal yang menggambarkan pengetahuan atau pengalaman kita di dalam dunia keseharian. 

  

Schutz beranggapan bahwa dunia sosial keseharian senantiasa merupakan suatu yang intersubjektif dan pengalaman penuh makna. Dengan demikian fenomena yang ditampakkan oleh individu merupakan refleksi dari pengalaman transendental dan pemahaman (verstehen) tentang makna  (Waters, 1994:32). 

  

Dalam karyanya yang berjudul The Phenomenology of the Social World, Schutz tertarik menggabungkan pandangan-pandangan fenomenologi dengan sosiologi melalui kritiknya atas karya sosiologi Weber. Dia mengatakan bahwa reduksi fenomenologis, pengesampingan pengetahuan kita tentang dunia, meninggalkan kita dengan apa yang ia sebut sebagai suatu “arus pengalaman” (stream of experience). Sebutan fenomenologis berarti studi tentang cara di mana fenomena muncul kepada kita, dan cara yang paling mendasar dari pemunculannya adalah sebagai suatu aliran pengalaman-pengalaman inderawi yang berkesinambungan yang kita terima melalui panca indera kita (Craib, 1986: 128). 

  

Karya terpenting dan sekaligus dijadikan isu sentral Schutz adalah tentang ‘waktu’. Sebagaimana Husserl dan Bergson, dia membedakan tentang pengalaman batiniah kita tentang waktu (duree) dan waktu objektif atau kosmik. Pembedaan itu dia maksudkan untuk batu loncatan analisisnya tentang ‘struktur waktu yang ada pada self’. Meminjam konsep Mead, dia mengadopsi pembedaan pragmatis antara I dan me sebagai fase-fase self dalam interaksi sosial. Momentum dari tindakan I (aku) adalah satu langkah yang tidak pasti untuk memasuki masa depan, sedangkan momentum dari refleksi me, adalah penilaian self tentang tindakan-tindakan sendiri (bersambung).